Selasa, 30 Desember 2014

My 2nd Pregnant (3)

Assalamu'alaykum adik... pertama-tama ibu minta maaf ya sayang karena ibu selalu menunda dan menunda menulis tentangmu.

Sekitar 2-3 minggu lalu ibu kembali periksa, meskipun lama-lama ibu dan ayah dan ga sreg dengan dokter ini, tapi mau bagaimana lagi, di kota kecil ini dokter kandungan engga sebanyak di Solo atau Wonogiri yang kita bisa milih. Hanya ada 2 di sini, dokter yang satunya ibu udah keder duluan denger cerita dari temen ayah yang katanya jutek banget. Semoga apapun itu adik tetap sehat dan selamat engga kurang suatu apapun ya sayang.

Menjelang di usia 22 minggu ini, akhir-akhir ini perut bagian kiri terasa kurang nyaman, mungkin karena adik makin besar dan ada bekas jahitan caesar. Tak apa sayang, yang penting adik selalu sehat.

Ibu selalu berdoa adik sehat, selamat, engga kurang suatu apapun baik lahir maupun batin. Ibu berharap ayah dan ibu mendapat amanahNya untuk merawat adik dan mendidik menjadi anak shalih atau salihah. Apapun jenis kelaminnya, kehadiran adik ditunggu ayah dan ibu serta keluarga besar.

Dibanding kakak dulu, kakak membuat ibu lebih manja, ngidam ini itu, engga suka deket-deket ayah apalagi nyium parfumnya, malam engga bisa tidur. Adik mau semuanya, engga banyak ngidam, adik tau ya kalau harga cabe melambung? :D jadi engga kayak kakak dulu yang maunya cuma makanan yang ekstraaaaaa pedaaaas sampai-sampai kakak dikira laki-laki. Ibu juga maunya deket-deket ayah terus. Tapi kakak dan adik sama-sama anak rajin ya? Maunya beres-beres, masak, bersih-bersih dan wangi. :D
Apapun itu kalian adalah permata-permata ibu. Kakak sekarang in shaa Allah udah di surga, dan adik in shaa Allah akan menemani ayah dan ibu dari di dunia sampai kelak kita semua kumpul di surgaNya. Aamiin.

Adik, sehat-sehat terus ya sayang.

Rainbow House, Selasa 30 Desember 2014
13:01

Sabtu, 27 Desember 2014

Surat untuk Bidadari #20

Assalamu'alaykum kesayangan ibu :)

Tak terasa sayang, tinggal dalam hitungan hari, genap 1 tahun pertemuan dan perpisahan kita di dunia. Selalu ibu panjatkan doa untukmu, agar Aisha selalu bahagia di surgaNya dan kelak kita bersama selamanya. Aamiin.

Sekarang ibu lagi di Cirebon sayang, sama ayah. Meski tak semellow dulu, namun setiap ke sini, selalu ibu merasa "ahh andai ada kamu, pasti sekarang lagi bobo di tengah" sambil menatap kasur :). Tak apa sayang belum waktunya.

Aisha, sekali lagi ibu ucapkan terima kasih, karenamu ibu banyak belajar. Betapa tak mudah menjadi orang tua, kata teman ibu, ini saatnya memperbanyak ilmu lagi. Ilmu parenting, ilmu agama.

Sayang, bahagia selalu di surga ya Nak. Ibu selalu berdoa kelaka kita bisa bersama dan tak kan terpisahkan lagi.

Iluimu, salihah.

Cirebon, Sabtu, 27 Desemer 2014
06:02

Selasa, 09 Desember 2014

(Selalu) Ada Allah untuk kita

Merangkai kata demi kata dengan perasaan penuh emosi.  Meskipun tiada tempat terbaik untuk mengadu selain dalam sujud kepadaNya, biarlah barisan kalimat ini menjadi curhatan saya sebagai seorang istri.

Ada perasaan sedih, kecewa, sekaligus marah yang amat sangat saat orang yang kita sayang disakiti, wajar bukan? Begitupun dengan saya. Ada bulir air mata dan kemarahan dalam hati setiap kali ada perasaan tak terima.

Melihat suami saya diam, melihatnya bagai mesin, saya marah. Rasa marah dan kasian yang sering berujung air mata. Andai kau ijinkan, rasa marah ini sudah tentu saya lampiaskam langsung pada mereka, tapi seperti biasa, hanya kalimat "sudahlah, biarin aja".

Ahh...

Saya tak peduli, siapa dia, saudara, teman, sahabat, atau cuma rekan saat melihat mereka memperlakukanmu seperti itu, kemarahanku luar biasa, kesedihanku mendalam.

Ada rasa kadang doa pun tak cukup, ingin pula ada tindakan lain yang saya lakukan untuk menghentikannya. Selalu berujung, saya yakin, Allah jaauh lebih sempurna dalam melindungimu, suamiku, hanya doa yang selalu bisa dipanjatkan, kita kuat, kita bisa melewatinya. Biarlah mereka mendzalimi kita sesuka hatinya dan biarlah Allah pula yang melindungi kita, serta membalasnya dengan setimpal.

Rainbow House, Selasa 9 Desember 2014
09:29

Minggu, 07 Desember 2014

Perdana Masak Rendang Padang

Kemarin saya cerita soal warna warni memasak setelah menikah. Lalu gimana?

Finally... setelah hampir 2 tahun menikah dengan lelaki berdarah Minang hihihi, saya memberanikan diri memncoba yang namanya bikin rendang Padang.

Saya engga berani lansung masak banyak, daging yang saya pakai aja engga ada 1/4kg. Kata suami "ihh kamu tuh rugi masak dikit, capeknya itu ga sebanding kalau dikit gini". Yaa daripada langsung 1kg daging, kalau gagal bikin nyeseek boo... bukan apa-apa barang-barang lagi mahal gini.

Hasilnya, sukses namun dengan beberapa kritikan salah satunya, too oily alias terlalu berminyak, kayaknya karena saya kebanyakan santan. Kata suami sih "dikit lagi (beneran sukses)". Ok, kapan-kapan bikih lagi, udah ada request yang minta dikasih baby potato.
Alhamdulillah... jadi berani nih, masukin menu rendang dalam tambahan masakan pas lebaran yang akan datang.

ABAIKAN FOTO YANG ALA KADARNYA. *Wkwkwk ini sambil nunggu rendangnya menghitam.

Resep yang saya pakai ini, resep paliiiiing sederhana, karena seperti biasa sayaa nyari amannya. Resep saya comot dari sini nih.

Rainbow House, Minggu 7 Desember 2014
04:35

Jumat, 05 Desember 2014

Tentang Memasak (Warna Warni dalam Rumah Tangga)

Bisa dikatakan komitmen saya dan suami termasuk yang menganut paham klasik, seperti bahwa sebaiknya istri adalah istri yang di rumah/ bukan wanita karier, boleh bekerja tapi tidak boleh meninggalkan anak atau menitipkan anak pada orang lain, bahwa istri harus bisa memasak dan mengurus rumah tangga.

Soal memasak menjadi salah satu persoalan di awal pernikahan kami. Saya bisa memasak versi keluarga saya, karena basic nya memasak di keluarga saya yang simpel, itu yang dilakukan ibu saya, jadi makanan sehari-hari itu ya biasa sayur bening, tahu tempe goreng, atau aneka olahan tumisan, yang namanya masak agak ribet semisal soto aja bisa diitung jari lebih banyak pas weekend alasannya ibu saya diburu waktu untuk mengajar. Jadi ya saya bisa masak kalau cuma masak tumis-tumisan, goreng tempe, bikih perkedel.

Masalah timbul setelah saya menikah, suami saya engga doyan kalau masakan tumis-tumisan, lebih tepatnya kalau cuma tumis-tumisan mah bukan masak. Dengan background keluarga suami yang berdarah minang, tentu tahu bagaimana masakan Padang itu. Engga ada yang simpel, kecuali perkedel tuh. Hahaha...
Belum lagi soal selera lidah, saya orang Jawa cenderung menyukai rasa manis, suami lebih cenderung rasa pedas asin. Kebayang kan? Udah beda selera rasa dan beda persepsi soal BISA MEMASAK.

Saya pun berusaha harus bisa memasak versi suami, saya tentu tidak langsung membuat rendang atau gulai, ya setidaknya saya masak yang bukan masakan simpel, alias yanh tinggal cemplung-cemplung macam tumis-tumisan. Saya mulai memasak yang agak ribet, apalagi suami engga suka kalau potongan bawang itu masih keliatan jadi bawang bawangan itu cincang halus atau ulek. Jadi saya mulai memasak macam pepes tahu, ayam goreng mentega, dan segala macem lauk pokoknya yang bukan simpel tapi belum berani masuk ke ranah Minang.

Sekarang Alhamdulillah sudah banyak kemajuan, menurut suami, sudah dua lebaran ini saya menyediakan masakan ala lebaran mulai dari opor kuning maupun opor putih, sambal goreng kentang, sayur godog ala betawi, dan yang terakhir bikiiin ketupaaaat. Hahaha. Udah keren gitu? Belum lah... sambal goreng ati dan sayur godog menurut suami kasih pete walaupun cuma buat aroma aja, soalnya suami juga engga doyan, soal bumbu saya masih nyari aman, not bad, tapi kurang berani. Apalagi ya? Oh iya bikin kue lebaran. Jadi tahun ini selain perdana bikin ketupat yang juga baru seumur hidup saya bikin, juga bikin kue lebaran meskipun cuma dua macem yaitu nastar dan doggie cookies.

Ternyata ini berdampak besar, saya jadi engga gitu suka masakan rumah, yang rasa cenderung manis dan yang simpel-simpel. Hihihi.. paling menyenangkan kalau mertua dateng terus nanya " Afin engga bikin kue?", jadi Alhamdulillah sekarang di menjelang 2 tahun menikah setidaknya seperempat selera makanan suami terpenuhi, mulai dari balado kentang telur, kalio ayam, gulai daun singkong, dll. Satu-satu masakan inti yang belum adalah rendang Padang. Makanya pas dulu bikin rendang ayam, suami bilang itu kalio soalnya masih merah bumbunya, kalau rendang itu hitam.

Selain karena ingin menyenangkan suami, masa ngidam lah yang dulu akhirnya saya terjun ke dapur. Waktu hamil pertama dulu pengen bubur sumsum, pengen pisang goreng. Nah, senengnya kalau selain suami ada yang nyicipin terus bilang enak. Hihihi... pernah suami nanya, "kamu malu engga kalau jualan pisang goreng?" , saya bilang engga, ternyata pas dibawa ke teman-temannya, mereka bilang enak, nah yang jadi masalah adalah saya ini belum konsisten kata suami, jadi kadang enak kadang biasa aja. Wkwkwkkwk.

Kemarin seneng juga sih pas mertua dateng, makan soto, dan nanya, "ini beli ya?", soalnya beberapa kali nambah. Hahaahaa...entahlah, saya anggap aja itu enak, dan penyemangat buat saya buat masak yang lebih enak lagi. :)

Semangaaat memasak untuk keluarga !!

Rainbow House, Jum'at 5 Desember 2014
06.27

Selasa, 02 Desember 2014

Pilihan

Sekali lagi tentang memilih lingkungan, tentang memilih orang-orang di sekitar kita.

Rasa sedih dan kehilangan selalu ada saat mengingat Aisha yang in shaa Allah telah bahagia di surga, tapi saya tak akan terpuruk, hidup harus terus berjalan, saya harus jadi ibu yang kuat untuk anak-anak saya, saya yakin Aisha pun tak akan suka melihat ibunya terpuruk.

Kebangkitan saya tak lepas dari suami dan keluarga, dan pastinya lingkungan saya. Teman-teman saya, yang tanpa mereka sadari sudah memberikan suntikan semangat yang luar biasa.

Lingkungan agama yang membawa dampak luar biasa untuk saya, untuk selalu berprasangka baik pada Allah, meskipun pernah ada yang mencibir saya karena kepergian Aisha, tapi saya selalu berusaha lebih percaya pada kalimat "Allah sayang kamu, itulah kenapa Allah mengujimu". Ini pilihan bagaimana saya menyikapinya.

Kadang saya kesal melihat orang-orang yang diberi amanah, tapi saya melihat dengan sudut pandang saya mereka tak amanah. Banyak berita bayi dibuang, atau  kadang melihat di grup tentang peduli ASI, masiiii banyaaaak sekali yang memberi sufor memberi bubur bayi instan atau bahkan MPASI dini, rasanya ingin saya ambil bayi-bayi itu. Tapi sekali lagi, itu sudut pandang saya. Saya akan berusaha melihat dari sudut pandang lain, inilah cara Allah mengajarkan saya, jangan sampai saya seperti itu, Allah sedang meminta saya belajar lebih lagi agar kelak saya tak goyah dengan prinsip no sufor, no instan, no MPASI dini. Ini pilihan, bagaimana saya harus bersikap kelak.

Bersama orang-orang yang menebarkan energi positif akan membawa kita menjadi positif, berulang kali saya leave group dari ODOJ 23, berulang kali pula saya masuk. Labil. Ya, tapi kini saya berusaha kuat, ala bisa karena biasa, ala bisa karena dipaksa. Awalnya memang berat, rasanya terpaksa, tapi jujur banyak energi positif saat saya futur, saat iman  sedang turun, saat rasanya memegang Al quran berat, ada pejuang-pejuang di sana yang membuat saya malu, malu lupa bersyukur. Ada seorang ibu muda dengan bayi hitungan hari tapi masih konsisten dengan tarjimnya, ada seorang single parent berangkat subuh pulang petang menyetir sendiri kendaraannya, ada ibu dengan 3 anak yang masih balita tanpa ART tiap shubuh sudah kholas, ada yang kerja 24 jam karena menjadi tenaga kesehatan masih sempat tilawah, meski harus menunda tidurnya. Ma shaa Allah, betapa malunya saya. Ini pilihan, mengikuti ego atau bertahan dengan mereka.

Inilah hidup, banyak pilihan di depan kita.

Tuntun hambaMu ini selalu ya Allah, dekatkanlah dengan orang-orang yang bisa membawa hamba menuju kebaikan.

Rainbow House, Selasa 2 Desember 2014
10:48

Minggu, 30 November 2014

Surat untuk Bidadari #19

Assalamu'alaykum kakak...

Ibu ada di Kuningan nih, ikut ayah famgath... jadi inget kelakuan konyol ibu dulu sayang, yang tak menyadari kehadiranmu di awal-awal dan malah minum tolak angin. Maafkan ibu ya sayang...

Beberapa hari terakhir ibu sering bertanya, seperti apa wajahmu sekarang, apalagi saat melihat teman-teman sebayamu yang berseliweran di media sosial. :')

Apapun itu, ini adalah yang terbaik dari Allah ya sayang. Ibu selalu berdoa kakak selalu bahagia di surgaNya dan kelak kita bersama lagi.

Love and miss you, Aisha

Kuningan, 30 November 2014
06:06

Kamis, 20 November 2014

My 2nd Pregnant [2]

Hari ini Kamis tanggal 20 November 2014 menurut hitungan, adik bayi dalam kandungan tepat berusia 16 minggu atau 4 bulan. Menurut agama Islam, saat inilah Allah telah meniupkan rohnya, mencatat segala sesuatu tentang adik, mulai dari kelahirannya, umurnya, jodohnya, rejekinya, dan semua yang berkaitan dengan adik.

Di hari terakhir kontrol yaitu tanggal 8 November kemarin, saat adik berusia kurang lebih 14 minggu, Alhamdulillah semua sehat, hasil USG meskipun belum terlihat jelas, dokter menunjukkan 2 tangan, 2 kaki dan masing-masing jari-jari tangan dan kakinya. Rasa haru saat pertama kali mendengar detak jantung adik bayi.

Tiada yang lebih seorang ibu harapkan, selain adik bisa lahir dengan selamat, sehat, normal, tidak ada kekurangan suatu apapun baik lahir maupun batin dan ibu bisa memberi ASI ekslusif tanpa sufor dan memberi makanan homemade serta ayah dan ibu mampu mendidikmu menjadi anak yang soleh/solihah yang akan memperjuangkan Islam dimanapun berada.

Jika sikap ibu tak seantusias saat kehadiran kakak dulu, semata-mata karena ibu menjaga perasaan ibu, sayang. Ibu tak ingin berlebihan, berusaha terus sadar bahwa pemilik sejatinya adalah Allah. Seandainya ibu tak membeli satu barangpun untuk kamu sayang dan memilih memakai barang-barang yang pernah ibu beli untuk kakak dulu, semata-mata karena pertama semua barang itu biar tak mubadzir, kakak di surga pasti senang apa yang dulu menjadi miliknya kelak in shaaAllah berguna untukmu. Pada intinya bukan kami tak seantusias berarti tak sayang adik, juga bukan berarti kami tak sayang kakak lagi karena barang-barangnya dipakai. Bukan, karena ibu tak ingin terlaklu disibukkan hal itu, ibu hanya ingin berdoa, berdoa, dan terus berdoa, agar ayah dan ibu juga diberi kesempatan untuk merawat dan mendidikmu hingga dewasa. Tak ingin terjebak euforia.

Kakak dan adik sama-sama permata hati ayah dan ibu, kami mencintai kalian karena Allah, tak ada yang lebih tak ada yang kurang, kami ingin kehadiran kalian menjadikan ayah dan ibu semakin mencintai Allah.

Kakak di surga in shaa Allah juga mendoakan adik. Sehat selalu ya sayang.

Rainbow house, Kamis 20 November 2014
01:04

Jumat, 14 November 2014

Kenapa saya jadi IRT?

Meskipun sudah pernah beberapa kali saya menulis alasan kenapa saya resign, rasanya ternyata masih ada yang terlupa.

Menjadi anak tunggal, bayangan bagi hampir setiap orang tentu menyenangkan. Untuk saya? Tak selamanya. Kenapa?

Kedua orang tua saya bekerja, dari kecil saya ingat betapa saya selalu nangis kalau mau ditinggal kerja, ada rasa yang tak tahu bagaimana menyebutnya saat saya dititipkan dari sama Mbah, bude satu ke bude yang lain, kakak sepupu yang satu ke sepupu yang lain.

Rasa engga mau tidur siang karena takut pas bangun ibu udah berangkat kerja, atau kalau saya tidur di rumah bude, kaki dan tangan saya akan penuh coretan dari kakak sepupu saya yang mencoret-coret kaki dan tangan saya dengan sengaja waktu saya tidur.

Rasa ini tiba-tiba keluar lagi, ingatan-ingatan masa kecil saya, kenapa saya menjadi pemarah. Kenapa untuk makan bersama itu rasanya sulit? Kenapa pekerjaan dan perasaan engga enak ke orang lain itu jauh lebih besar dari rasa ingin menemani saya makan?

Selalu saya bilang, saya tak ingin anak-anak  saya merasakan yang saya rasakan. Saya ingin selalu untuk mereka, setidaknya mengutamakan mereka. Saya tak ingin anak-anak saya bingung lari kemana saat mereka sedih saat mereka butuh dekapan.

Rasa sedih, rasa terabaikan ternyata masih tersimpan dengan rapi di ingatan saya, kenangan-kenangan yang ingin saya lupa.

Saya ingin sembuh, saya ingin bahagia dengan kenangan yang indah.

Saya ingin menjadi ibu yang setidaknya selalu ada di samping anak-anak saat mereka membutuhkan, saat mereka butuh pelukan. Yang tak kan menduakan mereka dengan pekerjaan.

Rainbow house, Jum'at 14 November 2014
13:29

Sabtu, 08 November 2014

(Menjadi) Ibu Hebat

Saya pernah membaca sebuah tulisan, apa sebenarnya tolok ukur keberhasilan sebagai orang tua? Jawabannya ternyata bukan melihat anaknya sukses menjadi "orang" tetapi kesuksesan sebagai orang tua dapat dilihat dari bagaimana ketaatan anak terhadap Allah.

Lalu bagaimana mendidik amanah-amanah Allah ini agar taat? Cukupkah dengan "ceramah" kita yang menjejali dengan tuntutan "ayoo solat dek", "ayo ngaji dek". Membawa guru ngaji ke rumah, memasukan ke pesantren, atau yang lebih lembut, saat masih kecil jangan dibangunkan waktu shubuh alasannya kasian masih kecil. Tentu lebih efektif jika sedari dini anak-anak kita melihat langsung contoh yang ada, siapa lagi kalau bukan ayah ibunya? Kita sibuk menyuruh anak ke masjid, sementara kita dengar suara adzan jangan-jangan masih leyeh-leyeh di depan tv.

Saya pernah melihat sebuah tayangan di televisi, seorang artis bilang "saya ini bisa dibilang dari keluarga yang religius, tapi dari keluarga yang religius pun saya pernah jadi orang br*ngs*k", begitupun saya baca sebuah cerita beliau dari keluarga yang bisa dibilang kental dengan nilai-nilai agama, bahkan beliau sendiri sudah dipakaikan kerudung sejak usia 3 bulan, tapi beliau bilang benar-benar merasakan nikmatnya berkerudung itu saat SMA.

Cerita-cerita seperti ini kadang membuat saya khawatir, ya Allah sanggupkah hamba kelak menjaga titipanMu dengan amanah? Contoh yang baik, lingkungan yang mendukung saja belum tentu bisa membawa sang anak dekat dengan penciptanya. Karena memang kembali lagi, Dia lah sang pemilik hati, yang mampu membolak balikkan hati semudah membalikkan telapak tangan.

Banyak belajar itu yang sedang saya lakukan sekarang, sebelum benar-benar menghadapi titipan Allah. Belajar dari teman yang sudah "praktek" lansung. Salah satunya Mbak Farda.

Mbak Farda adalah teman saya di odoj. Beliau baru dikaruniai seorang putri, mungkin  kira-kira sekitar 1 bulan usianya. Apa yang membuat saya kagum dan ingin belajar dengan beliau. Dari masa kehamilan sampai melahirkan beliau masih konsisten ngodoj. Yang membuat saya kagum, bahkan beliau kalau tidak salah hanya ijin 3 hari pasca melahirkan, setelah itu tetap baca terjemahan di masa nifasnya. Padahal menjadi ibu baru tentu tak mudah. Baby Blue Syndrome, adaptasi dengan status baru. Tapi Mashaa Allah bahkan laporan pun tak pernah telat.  Saya tanya tipsnya kendalanya. Rasanya... yang ada dalam hati saya cuma bilang " Ya Allah semoga kelak saya pun bisa seperti Mbak Farda". Mbak Farda yang ga bisa lepas dari Anina, anaknya, yang ibarat 5 menit ditinggal udah oek oek. Bahkan sampai ke kamr mandi pun sambil gendong Anina.

Ada lagi, Mbak Fatmah namanya, teman odoj juga. Seorang ibu yang kala itu beranak 3 (sekarang 4), tanpa ART, balitanya masih 3 tahun, kakaknya yang 2 masih SD dua-duanya. Apa yang membuat saya kagum? Setiap hari selalu kholas sebelum Shubuh. Beliau pun hari tertentu masih mengajar.

Ya Allah melihat teman-teman ini rasanya membuat saya betapa PR saya masih banyak sekali yang harus saya siapkan. Semoga Allah memudahkan saya. Aamiin

Jadi catatan saya, Mbak Farda bilang,

"Jangan sampai nikmat dari Allah justru membuatmu lalai pada Allah"

Ketika saya tanya kenapa Mbak Farda masih bisa tilawah padahal baru ada Anina, hati saya tertohok oleh jawaban Mbak Farda. Jadi engga ada alasan saya untuk jadi engga tilawah atau baca terjemahan, lanjut beliau. Saat berjuang itu sulit tapi yang lebih sulit menjaga keistiqomahan kita.

:')

Terima kasih ya Allah, menghadirkan orang-orang di sekeliling saya untuk menjadi guru untuk saya.

Rainbow House, Sabtu 8 November 2014
04:45

Senin, 03 November 2014

Ujian Kesabaran

Seperti yang sudah-sudah jam segini sering melek, apalagi  suami sedang dinas, hubungannya apa? Salah satu agar bisa bobo cantik itu hati tenang, hati tenang kalau udah cerita apa aja ke suami. Cerita sih di whatsapp tapi beda aja rasanya kalau engga cerita lansung.

Jadi apa yang mengganjal hati saya? Lagi-lagi mungkin karena dalam fase perasaan yang sensitif, ada omongan ya anggaplah teman saya yang kok engga enak. Semakin hari semakin ke sini pemikirannya berbeda dengan saya, wajarlah, yang engga wajar kalau mulai mengganggu, saya takut kebawa. Makanya memang akhir-akhir ini buat saya lebih baik menghindari pembicaraan yang sepertinya berujung perdebatan. Kalau dulu saya tipenya tetap kekeuh, engga tau ya akhir-akhir ini setiap menghadapi orang yang beda pemikiran, ngeyel, apalagi pakai nylekit saya pilih diam, tinggalkan saja perdebatannya.

Ini namanya ujian, ujian kesabaran, ujian mengontrol diri. Kalau kata Mommy nya Kiko, kenapa dibikin serius, maunya teh engga mau dipikirin. Tapi ya gimana, namanya kepikiran, apalagi lagi home alone gini, engga ada yang diajak ngobrol.

Bismillah...semoga bisa melewati ujian kesabaran ini. :)

Rainbow House, Senin 3 November 2014
00:43

Sabtu, 01 November 2014

Rasa Sakit Hati

Sakit hati itu karena apa?
Karena rasa kecewa yang teramat dalam

Kenapa bisa kecewa?
Karena kita menaruk harapan pada yang mengecewakan.

Rasa sakit justru sering disebabkan oleh orang-orang di sekitar kita, kenapa? Karena kita cenderung percaya dan menaruk harapan besar pada mereka.

Lalu bagaimana mengobati rasa sakit hati ataupun kecewa?
Setiap orang punya cara masing-masing. Ada yang dengan memaafkan dan melupakannya seolah tak terjadi apapun, ada yang memaafkan namun tetap mengingatnya agar tetap waspada. Ada yang pergi dan menjauh dari pihak yang membuat kecewa.

Rainbow House, Sabtu 1 November 2014
07.05

Warna Warni dalam Rumah Tangga

Seperti biasa, jam segini belum tidur, jadi mendingan ngeBlog aja. Biar lupa penggalauan yang mau ditinggal dinas seminggu. :(

Dari sebelum nikah, saya memang sudah terbiasa selalu bawa bawaan segambreng kemanapun pergi, maksudnya tipe-tipe perempuan yang hobi tas besar karena isinya semua harus lengkap. Apalagi orang tua adalah tipe yang semuanya tuh harus ada. Jadi engga heran setiap kali bepergian apalagi nginep biar cuma berapa hari juga pasti bawa 3 tas barang keperluan masing-masing. Tas saya, tas ibu, dan tas bapak. Apalagi bapak, beliau ini tipe wangi, gerah dikit mandi dan mesti ganti baju. Sehari mandi 3x itu udah biasa. :D

Nah kebiasaan ini yang kadang bikin "bentrok" sama suami. Saya paling engga bisa bawa barang dikit, semua harus lengkap. Jadi engga ada ceritanya "punya sih di rumah tapi engga bawa", ganti baju apalagi side A, side B adalah big No. Suami tuh biasa aja pulang capek, ga ganti baju langsuhg tidur, nah saya biar tengah malam nyampe juga mesti mandi ganti baju.

Sering kejadian suami dinas pasti baju saya bawain banyak udah diurutin dari dinas hari pertama sampai pulangnya, nah suami kadang engga suka, maunya bawa dikit. Ini yang kadang bikin bentrok. Cuma saya mah mikirnya juga ini sebagai salah satu tanggung jawab istri. Kenapa begitu?

Jadi saya pernah nih denger seorang istri bilang "ya ampuun masa Pak X itu bajunya tuh itu terus mana lusuh kayak ga disetrika, ga disetrika apa sama istrinya".

Kejadian itu tuh bikin saya setelah nikah jadi paham. Iya ya bener juga, masa nikah sama engga nikah sama aja, kayak engga diurus, walaupun kita ga tau ya kejadian sebenarnya gimana. Sama seperti  ketika ada anak-anak misal rambutnya rembes, baju kumel, pasti deh ada celetukan "ibunya siapa sih? Ini anak kok kayak engga diurus".

Jadi pelajaran buat saya, syukur sih suami sekarang udah mulai ngerti, dulu namanya baju pergi, baju main, baju tidur sama aja. Sekarang? Alhamdulillah mulai berubah, caranya? Ya kita tau laki-laki paling bete kalau dibawelin terus, jadi ya baju di lemari dipisahin, mana yang buat pergi, mana yang buat tidur, mau mandi disiapin sekalian. :)

Dulu suami protes, katanya kasian sayanya ntar kalau setiap "moment" ganti baju cucian jadi banyak, saya jawabnya "Ayah ga kasian kalau ntar ada yang ngomong itu Pak Banu kok engga kayak diurus istrinya". wkkwkkk...

Makanya sekarang suami selalu nanya "aku pakai baju apa? Ini bajunya udah cukup buat pas pergi?". Dulu suami sering ngeledekin saya udah kayak artis tiap pergi bawaannya banyak sekarang udah mulai nanya cukup engga.

Soalnya bagaimanapun juga yang namanya istri namanya ibu buat saya memang keharusan untuk memperhatikan hal-hal kecil. Kalau dari kecil biasa dengan barang minimalis dengan embel-embel "ntar pinjem aja" itu menurut saya bikin anak jadi engga belajar tanggung jawab sama dirinya sendiri dan jadi tergantung sama orang lain. Tolong menolong, pinjam meminjam engga salah yang salah kalau ya jadi ngandelin orang lain.

Udaah ah ngacapruknya markibo...

Rainbow House, Sabtu 1 November 2014
01:24

Minggu, 26 Oktober 2014

Friendship

Lagi dan lagi jam segini bangun dan engga bisa bobocan alias bobo cantik lagi  :D

Apalagi kalau suami lagi dapat shift malam tidur awal jadi engga nyenyak takut ketiduran suami telat berangkat bisa ketinggalan bus jemputan, makin worry sama keamanan di daerah sini setelah ada beberapa pemberitaan tentang pembegalan, apalagi waktu itu temannya juga ada yang jadi korban.

Masih seperti yang sebelumnya sepertinya masalah hubungan sosial itu ngaruh banget apalagi pertemanan bahkan persahabatan. Engga tau ya bener-bener deh kayaknya akhir-akhir ini kesehatan jiwa saya lagi diuji. Padahal ibarat truk, saya ini udah "jaga jarak". Bukan mau memutus tali silaturahim, tapi seperti yang suami bilang, perasaan saya ini udah kayak mbahnya sutra, yang kesenggol dikit aja lansung mellownya ga ketulungan, bisa kepikiran berhari-hari atau berefek jangka panjang. Mesti pelan-pelan dan alus. Hahahaa

Lagi bener-bener nerapin mindset, setiap luka yang tergores itu cara Allah biar saya selalu waspada, cara Allah biar saya tahu mana yang bisa membawa dampak positif mana yang enggak, mana teman yang bener-bener tulus mana yang cuma manis di bibir memutar kata malah kau tuduh akulah segala penyebabnya *jiaaah malah nyanyi. Yaa gitu deh pokoknya.

Makanya yaa berusaha positive thinking, ini cara Allah menyeleksi orang-orang di sekitar saya, saya bersyukur diantara banyaaaak yang suka mengusik ketenangan dan kesehatan jiwa dan mental *halah, Allah juga menyiapkan orang-orang yang tulus menjadi obat, ada saat suka maupun duka. Ibaratnya ada Allah pasti punya obat disetiap luka. Meskipun banyak yang lagi jahil sama saya terus tiba-tiba ada satu aja yang nyeeeesss bikin adem itu rasanya kan kayak udah lari di panas terik tiba-tiba ada yang bawain sebotol minum. :) *ahh tiba-tiba kangen Meymey.

Kalau lagi jatuh nih, kalau inget Meymey berasa ditampol, helloooo yang kamu rasain sekarang ga sebanding sama ujian yang pernah Mey lalui. *Jadi malu
Semoga sayanya selalu inget, kalau lagi di bawah inget ada yang jauuh di bawah lagi yang berjuang. Belajar jangan gampang putus asa, udah cukup biasa aja ga usah dimusuhin juga. *Kalau lagi bener bisa nih ngomong gini :p tapi praktiknya kalau lagi mellow lupa deh kalau belum habisin tissu sepack. :D

Bismillah bisa, kan Allah engga akan biarin umatnya sendiri, engga menguji di luar batas kemampuan umatnya, selalu ada solusi ada obat. Aamiin.

Semangaaaaatt!!!!

Rainbow House, Minggu 26 Oktober 2014
00:32

Jumat, 24 Oktober 2014

My 2nd Pregnant [1]

Tujuan tulisan ini semata-mata untuk meninggalkan jejak mengenai perjalanan kehamilan saya yang kedua ini. Ada rasa sedih saat kehamilan pertama yang saya tak pernah menuliskan apapun tentang Aisha kecuali masalah pernak pernik belanja. Sempat saya tulis di tab, tapi  kemudian tab saya hang dan semua ikut lenyap. Meskipun tulisan ini akan saya simpan dalam draft dan entah kapan saya akan publish, mungkin kelak saat adiknya Aisha sudah terlahir.

Promil
Semenjak kehilangan Aisha adalah masa-masa paling berat yang pernah saya alami dalam kehidupan saya. Dokter yang menangani persalinan saya dulu menyarankan agar segera hamil lagi, minimal 3 bulan pasca sc atau kalau mau ambil amannya ya 6 bulan pasca sc, sementara dokter lain (saya kontrol jahitan kepada beliau karena dokter yang menangani saya waktu itu sedang libur) menyarankan minimal 2 tahun. Saya dan suami shock, meskipun waktu itu belum ada rencana untuk promil menunggu 2 tahun lagi bukan waktu yang sebentar.

6 bulan pasca sc dan saya sudah ikut kembali bersama suami, saya dan suami konsultasi lagi dokter berbeda, dokter kandungan tempat saya kontrol dulu sebelum ke dokter yang di Solo. Saat itu saya rasa justru perbaikan mental saya dulu, entah kenapa saya yang merasa kuat justru menangis saat konsultasi. Saran beliau sama seperti dokter yang menangani saya dulu tidak perlu KB dan bisa langsung promil. Yang saya ingat beliau bilang "manfaatkan nikmat lupa yang diberikan Allah untuk melupakan kesedihan, di luar faktor media yakin Allah segala penentu dari rencana manusia, secanggih apapun dokter Allah bilang tidak tetap tidak, Allah bilang iya meski di mata manusia tak mungkin tetap akan terjadi"

Setelah kunjungan dari dokter itu saya ada ujian sakit. Dari batuk yang tak sembuh-sembuh kemudian gigi geraham yang ternyata harus dioperasi. Begitu mau operasi tenyata sgot dan sgpt tinggi jadi batal operasi, 5 hari 4 malam dirawat tak kunjung turun sementara hasil lab, sgot sgpt makin tinggi, sementara hepatitis hasilnya negatif, tensi normal. Saya memaksa rawat jalan, karena repot juga tak ada yang menunggu, suasana rumah sakit yang membuat tak bisa tidur, tangan yang bengkak tidak tahan infus, ganti kanan dan kiri. Saya nekat pulang.

Vitamin dari dokter kandungan akhirnya baru saya konsumsi setelah sakit beruntun tersebut sembari wara wiri ngurus pindahan rumah. 

UK 0-4 Minggu
Lebaran suami tidak dapat cuti jadi kami mudik setelah lebaran. Tanggal 17 Agutus saya ke Bogor sampai tanggal 20 Agustus. Tanggal 27 Agustus mudik ke Wonogiri bablas ke Blitar. Waktu itu kami rencana ingin honeymoon karena dari menikah kami tak pernah pergi berdua ke luar kota karena jadwal kerja suami yang tak memungkinkan kecuali cuti, sementara cuti yang sengaja disimpan sudah terpotong waktu dulu menunggu saya diopname akhirnya yasudah kami ke Blitar saja karena suami juga belum pernah ke rumah eyang.

Saya sempat was-was takut sakit karena tanggal-tanggal itu mendekati hari menstruasi saya, biasanya suka dismenore (nyeri haid) jika kecapekan, cuma rasanya capek saja dan sempat beberapa kali dikerokin ibuk.

Entah perasaan saya mulai cemas karena saat itu saya seharusnya sudah menstruasi, biasanya saya selalu maju, tapi untuk test rasanya masih was-was takut kecewa. Meskipun sudah ada feeling, karena tanda-tandanya mirip seperti rasanya seperti masuk angin, dan saya kekeuh tidak mau minum obat ataupun periksa saat orang tua mengajak ke dokter untuk periksa. Saya niatnya mau nunggu  sampai 10 September untuk tes. Tapi rasa penasaran akhirnya 3 September sebelum saya pulang dari Wonogiri saya test dan dua garis merah nyata muncul. Sempat ingin membatalkan pulang ingin tes dulu di RS di Solo tapi suami bilang pulang saja, nanti tes di dokter kandungan sini.

Uk 5-8 Minggu
Tanggal 5 September akhirnya saya ke dokter kandungan. Meskipun sempat kaget kok tensi saya sampai 140/100 *engga tau kenapa kalau di dokter ini kok seringnya di atas 110 padahal di tempat lain mentok 120 itu juga cuma sekali bedakah pakai alat otomatis dan yang manual?. Dokter bilang sudah ada kantungnya, saat itu diberi vitamin ubiforce dan duphastrone, sempat kaget lagi karena biayanya hampir sejeti. Ok, engga apa-apa yang penting adik sehat terus ya sayang.

Setelah dari dokter itu, tanggal 12 September kebetulan ada syukuran rumah baru kami, nah pasca syukuran itu saya batuk, pilek, radang aduuh udah puyeng, mau minum obat ada adik bayi engga minum batuk terus. Sampai 2 kali saya ke dokter di RSBP oh ya sekalian ke bidan RSBP *kapan di RSBP ada Sp.Og ? Biar kalau periksa ke dokter kandungan di luar bisa diganti sama perusahaan suami. Yaa meskipun tidak diganti ya engga apa-apa yang penting semua buat adik bayi.

Nah di bidan ini senewen masa beratnya kepala 7, padahal di dokter kemarin kepala 6, baru seminggu kayaknya yg error timbangannya. Sempat dimarahin dokter kok sakit, ibu hamil jangan sakit kasihan bayi. Aduuh dokter kalau engga hamil juga engga mau sakit, suami kena juga soalnya ini batuk kayaknya ketularan dari suami. Suami udah sembuh saya sampai dua minggu engga sembuh-sembuh.

Uk 9-12 Minggu
Masa-masa ini nih mulai mual-mual pusing. Batuk Alhamdulillah udah mulai sembuh, tapi ya gitu kalau batuk bablas muntah. Makan muntah, minum muntah, tapi apa aja tetep doyan, masuk. Dibanding kehamilan pertama dulu yang udah mual, muntah, engga doyan makan.

Sempat pengeeeen banget bebek ireng cak baz, ini dari hamil pertama dulu. Jadi sebenernya ngidam apa ibunya aja yang kangen pengen bebek? Hahaha, sempat hubungin akun fb nya tapi engga ada tanggapan. Sampai akhirnya terharu sangat, seorang teman ODOJ, dek Pipit bela-belain nyariin (padahal baru sebulan di Depok karena aslinya dari Padang) dan dikirim plus engga mau diganti. Semoga Allah melimpahkan rezeki dan membalas setiap kebaikanmu, dek Pipit.

Oh ya, sempat galau karena engga pengen banyak orang tau. Saya sendiri alasannya ke pribadi, saya merasa ada tekanan *meskipun sebernarnya mungkin tidak. Ada perasaan bahwa kalau hamil pasti ditanya bagaimana-bagaimana, masih ada perasaan dengan kehamilan yang dulu, saat hamil tapi kemudian Aisha pergi, ini bukan happy ending yang akhirnya saya engga cerita. Suami sempat bingung, karena entah kenapa saat-saat ini banyak yang bertanya istri sudah hamil belum, apalagi hampir sebulan saya lebih banyak di kamar, karena mual dan pusing, sempat tak ikut arisan ditanyain tetangga depan. Akhirnya... yasudah kalau engga ada yang nanya yang kita engga bilang,kalau ada yang nanya baru bilang. Intinya engga memulai dulu pembicaraan soal kehamilan.

Alhamdulillah sekarang sudah 12 Minggu, sudah 3 bulan, sudah mulai bisa aktifitas lagi, meskipun seperti kehamilan pertama tengah malam pasti bangun dan engga bisa tidur lagi, kalau pagi masih suka pusing tapi Alhamdulillah sudah engga muntah, mual kadang-kadang. Ngidam? Ini rancu, secara ibunya emang doyan makan. Hahaha..

Tapi kemarin sempat ada kejadian lucu, jadi tetangga ada yang whatsapp ya nanya-nanya karena masih jarang nongol begitu tahu hamil, beliau bilang kurleb " Afin kalau butuh apa-apa atau ngidam apa bilang aku aja engga apa-apa, whatsapp aja", suami yang tahu langsung komen "apa nih maksudnya? Emang aku engga beliin" saya timpali aja "engga, waktu pengen bebek ireng sama holycow hahaha", suami bilang "yaudah bilang Mbak X aja, aku beliin kok kalau deket rumah jualannya". --"

Apapun ya, yang penting adik sehat terus semua lancar, sehat, normal, tidak ada kekurangan sesuatu apapun baik lahir maupun batin. Love you, adik bayi.

Untuk kakak Aisha, walaupun ada adik bayi, adiknya kakak, sayangnya ibu dan ayah tidak akan berubah atau bahkan berkurang, doakan adik dan ibu  ya sayang. Ibu love you both.

Rainbow House, Jum'at 24 Oktober 2014
01:23

Jumat, 10 Oktober 2014

Up and Down

Hidup memang dirancang tak selamanya lempeng aja. Seperti gambar yang saya dapat dari path ini "If there are no ups and downs in your life. It means that you're dead".

Hal ini pula yang saya rasakan belakangan ini, banyak sekali orang-orang di sekitar saya yang membuat saya down. Saya sebut banyak karena lebih dari 3 orang. Ada yang bercanda dengan candaan yang seperti tak pernah menggunakan akalnya dengan menyamakan saya dengan hewan, ada yang sudah melakukan kesalahan dengan mengcopaste foto saya tanpa rasa bersalah ditambah dengan tindakan yang lain yang ketika saya tegur malah nyolot, ada yang tiba-tiba bersikap "siapa elu?" ketika sepertinya sudah tidak membutuhkan. Ada yang bersikap seenaknya. Engga apa-apa eh apa-apa juga sih, kalau engga apa-apa tentu saya masih bisa bilang "i'm ok", toh nyatanya tidak.

Tapi di saat yang sama Allah ternyata memang taj pernah lupa memberikan obat di antara penyakit-penyakit yang datang ini. Seorang sahabat, memang kami tak selalu berinteraksi setiap hari, tapi entahlah dari sejak dulu setiap di antara kami ada masalah tiba-tiba ada jalan yang menghubungkan kami. Saling menyemangati. Bahkan yang tak kan pernah terlupa dari ingatan saya. Saat saya hamil Aisha dulu, basah kuyup dia antarkan Pandan Banana roll cake, dia dari Bandung tidak pulang dulu untuk sekedar ganti baju, dia antarkan ke rumah saya. Semoga Allah membalas segala kebaikan dan ketulusanmu, Mey.

Pun dengan sekarang ini, di saat hati saya tercabik-cabik, di saat saya down, tiba-tiba dia muncul lagi. Mengajak bergandengan tangan agar bisa melewati rasa sakit ini. Saya pikir, ini cara Allah menunjukkan ke saya, siapa sebenarnya teman yang baik itu. Bukankah seseorang dinilai dari siapa teman karibnya? :) Tak salah bukan jika akhirnya saya pilih menjauh setelah mereka telag sukses menyakiti saya ataupun ketika saya coba hubungi tiba-tiba sikapnya sudah berubah 180·.

Mungkin saya akan mengikuti cara suami saya. Suami saya membagi orang di sekitarnya dengan sahabat, teman, kenalan, rekan kerja, ya semacam itulah. Jadi ketika kita kecewa kita disakiti mungkin salah kita juga karena mengharap banyak pada orang tersebut. Tapi jika kita menganggapnya bukan siapa-siapa, kita tak kan pernah memikirkan sikap dan perkataannya. Toh bukan siapa-siapa.

Mungkin sikap saya yang terlalu lemah pula pada mereka, yang entah sudah berapa kali suami negur, kamu kayak gitu banget sih sama mereka. Ahh tapi yasudahlah, Allah tak pernah tidur bukan? Saya akan terus berusaha berpikir inilah cara Allah menyelamatkan saya dari orang-orang yang tak baik. Kata psikolog di sebuah stasiun tv swasta, kesehatan jiwa banyak dipengaruhi lingkungan sekitar, maka pilihlah teman yang bisa membawa ke perubahan yang positif untuk menghidari stres dan depresi.

Rainbow House, Jum'at 10 Oktober 2014
13:23

Surat untuk Bidadari #18

Assalamu'alaykum kesayangan ibuu...

Hari ini pas ya? Sama-sama hari Jum'at sama-sama tanggal 10 :). Bidadari ibu, apa kabar sayang? Sedang berbahagia di surgaNya Allah ya in shaa Allah.

Hari ini ibu cerita apa ya? Ibu ga mau cerita-cerita yang menyedihkan ataupun tentang kemarahan, semua harus tentang kebahagiaan, karena ibu ingin kakak selalu bahagia.

Kerinduan ibu, ahh ibu selalu bilang begitu. Ibu selalu merindukanmu, kadang ibu bisa menahannya kadang juga tidak, biarlah doa yang menyatukan kita saat ini ya sayang. Doa ibu selalu untukmu. Selalu berdoa agar kakak senantiasa bahagia dan berdoa kelak kita bisa bersama lagi di surga. Aamiin.

Ibu tak ingin terus ada air mata kesedihan, ibu yakin kamu pun tak ingin ibu larut. Karena ini hanya soal waktu ya sayang, belum saatnya ibu bisa bareng kakak, kadang ibu pengeeen banget melihatmu, meski cuma mimpi. Ibu sering mimpi tentang bayi, tentang kamu sayang, tapi ada perasaan ragu itu kah kamu? Hanya Allah yang tahu ya sayang.

Bidadari ibu yang cantik, selalu dan selalu ibu katakan, ibu akan selalu menyayangimu apapun keadaannya nanti, meski mungkin tak sesering ibu menulis tentang kakak ataupun saat ada adik nanti, kakak selalu di hati ibu dan tak kan terlupa sedikitpun.

Sayang, berdoa juga ya agar kelak kita bisa bersama lagi. :)

Iluimu so much, my angel, Aisha

Rainbow House, Jum'at 10 Oktober 2014
00:43

Rabu, 10 September 2014

Surat untuk Bidadari #17

Assalamu'alaykum kesayangan ibu,

Tak terasa ya sayang sudah 8 bulan, Aisha (in shaa Allah) ada di surgaNya. Ibu yakin kakak bahagia di sana.

Sayang, jika suatu hari nanti ibu tak lagi menulis surat untukmu, bukan berarti ibu tak lagi mengingatmu ataupun tak merindukanmu. Doa selalu ibu panjatkan untukmu, bidadari ibu, pun juga saat Allah memberi Debica atau Abica, ibu tak kan melupakanmu.

Saat ini ibu merasa jauh jauuuh lebih baik, sayang. Meskipun terkadang kesal pun ada jika ada yang kepo dengan pertanyaan "kok bisa?". Biarlah sayang, karena mereka mungkin tak pernah tahu rasanya kehilangan.

Aisha, sudah hampir 2 bulan ini ibu dan ayah menempati rumah baru. Dulu ibu sempat berkhayal andai ada kamu, kita bisa bermain di garasi yang luas ini, sayang. Tapi ibu kemudian ingat, tempat yang Allah beri untuk kamu sekarang pasti jauuuuuh lebih luas dan indah. Berdoa ya sayang, kelak kita bisa bersama-sama lagi.

Aisha, tenanglah di tempatmu sekarang. Bahagialah di surga, semoga kelak ibu bersamamu sayang.

Rainbow Home, Rabu 10 September 2014
18:59

Minggu, 10 Agustus 2014

Surat untuk Bidadari #16

Assalamu'alaykum sayang

Beberapa jam lagi, tepat 7 bulan Aisha kembali ke rumah Allah. Tak terasa ya sayang, rasanya seperti baru kemarin. Meski ibu Alhamdulillah mulai kuat, mulai bisa lebih ikhlas, namun tetap yang ibu belum bisa berubah adalah ibu masih kehilangan semangat ibu.

Aisha, ibu yakin ini yang terbaik untukmu, sayang. Allah menjaga Aisha dari kelalaian dunia, Allah menitipkan pesan kepada Ibu lewat Aisha. Tiada yang lebih indah dari keberadaan Aisha di dekat ibu, tapi Allah berkata lain Aisha adalah titipan Allah, Aisha, Ibu dan semuanya milik Allah. Kapanpun Allah menghendaki, tak mampu dicegah, begitupun Aisha.

Aisha, ibu kangen sayang. Kadang setiap kali melihat ada yang upload foto tentang hamil, bayi, dan ceritanya hati ibu seperti tertusuk. Tapi tak apa sayang, ini cara Allah agar ibu lebih sabar.

Kadang ibu membayangkan rengekanmu, permintaanmu tentang ini itu. Ini cara Allah mengajarkan ibu sayang. Agar ibu lebih kuat, agar ibu mempersiapkan segalanya lebih baik lagi untuk menjadi ibu yang baik.

Sayang, tiada berhenti doa ibu untukmu. Bahagialah di surga. Dan berdoalah kelak kita bisa sama-sama lagi.

Rainbow House, Minggu 10 Agustus 2014
00:41

Senin, 14 Juli 2014

Waktu yang Berlalu

Malam ini niat awal buka laptop adalah mau mencari lagunya Opick dan dicopy ke tab. Karena lagu yang dimaksud tak ketemu, dan akhirnya malah suara Sherina menyayikan Cinta Pertama dannTerakhir saya malah nyasar di folder foto-foto. Dari rasa nyesek karena melihat bodyku dulu tak begini hingga terhenti di folder foto-foto saat masih kerja dulu.

Tiba-tiba ingatan melesat, seakan kembali ke masa itu, melihat foto, mengenang  masa lalu, dan jemari saya langsung membuka aplikasi whatsapp, mengirim satu pesan yang sama " apa kabar? Aku kangeeeeen" lengkap dengan emoticon ke "Bocil" Weika dan "Princess Onye" Mbak Winda. Sejenak percakapan kami semakin melemparkan saya pada kenangan-kenangan masa lalu. Tertawa bersama, bete-bete an, kemudian sedih, dan kembali tertawa bersama. Mungkin saya bukan teman yang baik untuk mereka, tapi harus saya akui bahwa mereka menjadi salah satu bagian terpenting dari fase yang pernah saya lewati.

Dan entah kenapa, rasanya saya merindukan mereka, dan dengan sedikit rasa mellow, saya merindukan masa-masa kegilaan ketika lajang masa-masa rasa suntuk dengan setumpuk kerjaan kantor, dengan segala rasa nano-nanonya. Harus saya akui saat-saat terakhir di kantor bersama Mbak Winda, Weika, dan oh ya Kokoh alias Iin alias Indra menjadi satu benang merah yang membuat saya rindu. Kok teman-teman lain engga ya? Haha, duh jahatnya saya. Entahlah. Mungkin karena akhir-akhir masa itu, ada persamaan rasa, rasa gondok dan makan ati berjamaah, hihi , ah sudahlah. Saya hanya ingin menyimpan rasa rindu kepada teman-teman saya ini. Semoga Bocil dan babynya sehat dan lancar sampai persalinan nanti, rencana Mbak Winda nikah bisa lancar, dan Indra segera sebelum pacar yang sudah bertahun-tahun dipacarinya kabur *peace.

Entahlah akhir-akhir ini saya seperti dihadapkan oleh pintu yang membawa saya ke masa lalu, sebelum malam ini merindukan teman-teman kantor saya itu, tiba-tiba Teh Echa, sahabat saya sejak SMA mengirim BBM seperti ini,

10 tahun. Rasanya tak kurang dari jumlah itu aku mengenalmu -meski tak sepenuhnya kuhabiskan waktu bersamamu. Tawa dalam suka, tangis dalam duka, isak dalam haru, pun diam dalam perbedaan pandang purna kita lalui. Kalau dianalogikan dengan pacaran, mungkin pernah berkali kita putus lalu berkali pula kita berbaikan dan menata hubungan agar lebih baik ke depannya. Panggilan dengan nama kecil yg kita temukan untuk satu sama lain di sepuluh tahun lalu nyaris tak berubah, masih dengan rasa yang sama indahnya untuk dilafalkan. Panggilan yang mengukuhkan rasa, yang kusebut persahabatan, lebih lagi persaudaraan. Saudara seiman.. Meski tak melulu bertatap wajah, yakin kau punya kesan tersendiri. Haru selalu, manakala Allah menyampaikan kabar-kabar yang menggelitikku mengingatmu, meski tanpa daya kemudian hanya mampu berucap 'Aku rindu..'. Meski tak melulu menegur dalam kata, menyimak benang merah dari rangkaian riak hidupmu menerbitkan getaran yang entah bisa kusebut apa. Menafsirkan perjuangan dari awal berkenalan hingga berbagai bingkisan luar biasa yang Allah hadirkan dalam hidup dan membawa Iman Islam semakin mendalam. *** Malu aku, jika harus mengakui diri sebagai sahabatmu. Miris terasa, manakala hendak menyebut diri sebagai sahabat, namun tak mampu berbuat banyak untukmu dari kejauhan. Malu aku, manakala tak mampu membendung tangismu, mereda nyerimu, melega sesakmu. Karenanya, maafkan segala kekurangan.. Semoga Allah ridha, berkenan atas persahabatan ini. Seperti yang sering kau kata, mendoakan adalah caraku memelukmu dari jauh.. Uhibbukum fillah, Ne :') TBD.XE 11 Juli 2014 10.12 am

Tiba-tiba jleb, serasa ada sebuah anak panah menusuk. Saya teringat betapa saya ini sangat moody, yang sering ngambek, sering marah tak jelas yang mungkin sudah menyakiti teman-teman di sekitar saya yang selama ini menyayangi saya. Astagfirullah... maafkan hambaMu ya Rabb...

Mengingat masa-masa dulu bersama, sering ada rindu yang menyeruak, aahh masa itu, gumam saya. Semakin menjadi saat teman kuliah sekaligus menjadi teman kantor saya dulu mengAdd akun Path saya, melihat aktivitasnya membawa saya kembali ke masa yang dulu pernah saya lewati.

Jujur harus saya akui kadang saya merindukan, merindukan memakai baju rapi ala kantoran, merindukan lari dengan high heels, tekanan pekerjaan yang sempat membuat saya langsing tanpa diet, merindukan suasana berbeda rumah dan kantor, lingkungan berbeda. Tapi kemudian saya seperti disadarkan, menyesalkah saya? Saya harus bilang tidak. Ini keputusan besar yang pernah saya ambil, meninggalkan dunia kerja kantor. Mungkin rasa ini muncul karena skenario saya ternyata berbeda dengan rencana Allah. Dulu saya pikir setahun menikmati masa bebas kerja, menikmati peran sebagai istri dan seorang ibu yang menantikan anaknya. Kemudian tahun kedua mulai nano-nano dengan anak, dan ternyata Allah punya rencana lain itu jujur sempat membuat saya kaget dan jenuh. Berulang kali saya bilang ke suami "saya jenuh, saya bingung saya mau ngapain". Tapi saya harus bangkit, mungkin ini cara Allah agar saya lebih belajar lagi mempersiapkan diri menjadi seorang Ibu yang mampu mendidik anak-anaknya kelak.

Maka doa saya adalah agar saya dilindungi Allah dari hal-hal yang menyilaukan mata saya akan dunia, saya meminta agar Allah menjaga persahabatan saya dengan teman-teman saya. Membantu saya melihat masa lalu menjadi kenangan yang indah untuk diingat bukan sebagai bingkisan menyilaukan yang membuat saya mundur lagi.

Jasmine House, Senin 14 Juli  2014
23:37

Selasa, 08 Juli 2014

Surat untuk Bidadari #15

Assalamu'alaykum sayang...
Meski ibu tak pernah bisa lagi melihatmu, ibu pastikan Bica sudah bahagia di surga.

Tanpa bermaksud membebanimu, ibu hanya ingin bilang, ibu kesepian. Rasanya ada lubang besar di hati ibu semenjak kamu pergi. Ibu berusaha menutupnya, tapi selalu ada yang melubanginya.

Ada rasa kecewa yang amat besar saat orang yang ibu harap bisa membantu ibu bangkit justru melukai ibu. Kamu tak ada dan yaudah semua biasa saja nampaknya.

Kalau sekarang ada yang bertanya apa keinginan ibu, ibu cuma pengen bilang ibu pengen bahagia. Ibu lelah berpura-pura bahwa semua sudah baik-baik saja. Rasanya tak ada lagi alasan ibu untuk bisa bahagia selain kamu, bidadari ibu yang selalu ada untuk ibu.

Bica, ibu sakit. Sebenarnya setiap sakit, ibu selalu ingin sembuh, ada harapan di depan, tapi rasanya ibu lelah. Lelah jika saat sehat ibu disakiti dan harus pura-pura senyum.

Berhari-hari harus bercengkerama dengan jarum, rasanya teramat sakit karena ibu harus mencari alasan untuk ibu bayangkan agar saat itu ibu berpikir ibu harus sembuh. Tapi tak ada. Rasa sakit jarum itu hilang saat ibu membayangkanmu. Meski ibu tau, ibu tak bisa bebas denganmu saat sembuh.

Bica, lubang di hati ibu semakin besar, rasanya semakin sakit saat menyadari ibu sendiri tanpa Bica lagi untuk melewati semua ini.

Apa yang harus ibu lakukan? Alasan apa yang harus ibu pakai untuk bahagia selain keberadaan Bica?

Ibu kangen Bica, ibu butuh Bica untuk semangat ibu.

Sayang, maafkan ibu. Maafkan ibu yang belum bisa sepenuhnya melepasmu.

Ibu sayang bidadari ibu. Bahagialah di surga sayang, tunggu sampai kelak kita bisa bersama lagi.

Jasmine House, Selasa 8 Juli 2014
22:57

Selasa, 24 Juni 2014

Be Smart Mom

Sejak masa lajang, saya selalu menulis quote "be great woman, wife, and mom". Quote ini tercetus saat saya dan seorang sahabat saya ngobrol tentang kita ke depan  mau jadi apa. Pemikiran kami memang mirip, bertekad saat masih "bebas" mau berkarir, namun kami berencana akan berkarir dalam rumah tangga saat menikah nanti. Saling mengingatkan bekal untuk masa depan karena dari kitalah para perempuan, anak-anak kita nanti menjadi apa.  Al Ummu Madrasatul 'Ula (seorang ibu adalah sekolah terbaik bagi anaknya).

Itupun yang berusaha saya lakukan saat mengetahui telah ada titipan Allah dalam rahim saya. Saya bergabung dalam beberapa group di facebook, mulai dari AIMI  (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia), SAM ( Sharing ASI MPASI), HHBF (Health Homemade Baby Food), dsb. Bahkan setiap dokumen AIMI saya print saya jilid, saya pelajari satu persatu. Semua dibahas lengkap, persiapan yang dilakukan semenjak hamil sampai membahas mitos. Di situ saya benar-benar dibukakan mata saya. Oh ya, dari sebelum menikah saya membeli buku Ayah ASI, buku tersebut merupakan kumpulan tulisan-tulisan para ayah yang mendukung ASI.

Pernah saya baca status seorang teman kurang lebih, "mbok jangan saklek-saklek ngikutin aturan, kita ini para ibu juga pasti ngasih yang terbaik bagi anaknya". Saya cuma diam, meskipun tidak tahu dengan pasti, karena tidak pernah ada rekam medis. Saya mau cerita, sejak kecil telinga saya ini bagian dalam sering sakit. Dokter cuma bilang jangan kecapekan. Ini berlanjut terus, sampai kemudian sekitar tahun 2008, saya merasakan telinga yang teramat sakit. Disenggol aja saya pasti jerit, dokter tanya riwayat sakitnya. Kata dokter harusnya sejak kecil saat sembuh dulu di"lacak" penyebab sakitnya, karena kalau sekarang sudah terlambat, cuma bilang infeksi.

Sampai kemudian saya menemukan di dokumen AIMI salah satu dampak buruk dot adalah infeksi telinga pada anak, kenapa? Karena jika anak menyusu langsung dia akan menghisap dan saluran eustachius akan menutup, sehingga ASI tidak akan masuk telinga, berbeda dengan dot diisap atau tidak susu akan tetap mengalir, sementara jika saluran eustachius akan membuka yang berisiko susu masuk ke telinga. Mungkinkah ini dampak saya dulu ngedot? Mungkin saja.

Di samping itu, bisa dibilang daya tahan tubuh saya ini kurang, dari kecil sering sakit, dulu makan coklat secuil bisa diare berhari-hari. Perlu diketahui saya minum ASI hanya sampai 7 bulan itupun campur sufor, alasannya ibu kerja. Lalu akankah saya menyalahkan ibu saya, tidak. Karena saya tahu beliau pasti berusaha memberikan yang terbaik, sayangnya mungkin terbatasnya ilmu beliau tentang hal ini.

"Ahh... aku dulu juga ngedot ga pa pa"  pasti ada yang akan bilang begitu, suami pun bilang begitu ke saya. Lalu saya bilang, bukankah setiap anak daya tahan tubuhnya berbeda-beda?

Mengajak lingkungan saya, suami bahkan ibu saya sendiri untuk pro ASI bukan sesuatu yang mudah. Bahkan ketika saya kekeuh nyari rumah sakit yang pro IMD, ASI, dan room-in (rawat gabung) pun bukan sesuatu yang mudah. Berusaha nonton bareng proses IMD melalui youtube adalah salah satu caranya, mengajak suami baca buku tentang ayah ASI untuk suami pun harus kayak ngingetin makan.

Saya menyerah? Kadang. Akhirnya saya cuma bilang, ada UU nya lho kalau sampai RS memberi sufor tanpa seijin keluarga. Ada peraturannya juga bahwa bayi memiliki hak untuk memperoleh ASI ekslusif sampai 6 bulan, kemudian baru diberi tambahan.

Lalu berhasilkah saya? Belum. Allah punya rencana lain, bayi kami pergi duluan ke rumah Allah saat lahir. Pengalaman pertama yang saya alami adalah bahkan ketika akan dilakukan Sectio Caesar (Operasi) untuk tindakan darurat waktu itu, saya masih sempat bilang " dok, ijinkan saya IMD jika nanti telah lahir", dan dokter bilang "Pasti bu, jika memungkinkan pasti IMD", tapi Allah punya rencana lain.

Lalu apa tujuan saya menulis ini? Saya merasa paling ngerti? Tentu tidak, kita semua terus belajar. Hati saya sedih setiap kali melihat bayi, lebih sedih saat mereka tidak mendapatkan hak-nya. Misal tidak ASI, MPASI dini, menyapih dengan paksa.  Saya tahu itu adalah anak-anak mereka, mereka sebagai orang tua punya caranya sendiri untuk memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya, tapi yuk kita memberikan yang terbaik dengan ilmu yang terbaik pula.

Cita-cita saya saat ini adalah saya ingin menjadi konselor ASI, tapi pengetahuan yang minim, pengalaman yang belum ada membuat saya masih ragu. Jika diijinkan suami, saat Allah mengijinkan saya kembali diberi titipanNya, saya pun ingin ikut donor ASI.

Pengalaman saya setelah melahirkan kemarin, ditanya perawat, apakah ASI saya akan didonorkan atau dihentikan saja. Karena kondisi saya waktu itu yang tidak stabil, saya pilih menghentikan. Dan, meskipun diberi obat penghenti ASI, sampai sebulan ASI saya masih keluar meskipun hanya setetes-setetes. Saat itu ada rasa sedih, andai saya bisa memberikan ASI saya untuk orang lain.

Dari masa kehamilam, saya selalu dan selalu bilang ke suami, apapun yang terjadi nanti, tolong usahakan beri anak kami ASI. Ijinkan dia diberi donor ASI jika saya tak mampu memberi. Suami malah bilang "jangan ngomong aneh-aneh deh". Mungkin benar saya saklek soal hal ini, karena saya ingin anak saya tidak seperti saya yang sering sakit.

Waktu itu saya sodori facebooknya  Karel Sulthan Adnara, anak dari A' Nazrul Anwar dan alm. Teh Ratna. Saya kenal beliau? Tidak. Saya tahu ketika di grup ODOJ (One Day One Juz) brodcast tentang butuh ASI, singkatnya teh Ratna meninggal saat melahirkan Karel, dan salah satu pesannya adalah Karel harus ASI, dan A Nazrul ini menepati, terakhir saya lihat stok ASIP dari para pendonor cukup untuk kebutuhan Karel sampai umur satu tahun nanti. Masha Allah. Semangat beliau ini yang memacu saya ketika itu untuk bisa memberikan ASIX untuk anak-anak kelak.

Di sini, saya tidak akan menjudge para ibu yang akhirnya memberikan sufor pada anaknya, cuma ingin mengajak mari kita sama-sama belajar memberikan yang terbaik untuk anak-anak kita. Yuk bunda-bunda, kita sempat untuk "bermain" facebook, twitter, path, atau media sosial lainnya, tentu kita tak ada ruginya dengan ganti melihat dokumen-dokumen AIMI maupun info-info lain yang penting untuk bayi-bayi penerus kita ini. :)

Giriwoyo, Selasa 24 Juni 2014
17.20

Senin, 23 Juni 2014

Pemilu 2014

Akhirnya mengeluarkan unek-unek juga soal pemilu. Sebenarnya kejadian ini sudah mulai saat Pileg kemarin. Saat saya menerima broadcast BBM buat mulai pilih partai "berhitung". Jujur dari awal saya memang mau golput aja, selain saya memang ga pernah tau siapa-siapa yang mau saya pilih saya juga sudah engga percaya lagi sama mereka yang katanya akan menyuarakan suara hati rakyat.

Makin heboh saat Pilpres, bukan lagi cuma di BC yang menjelekkan antar capres tapi juga beranda facebook saya. Dan jujur kok saya makin ilfil sama partai "berhitung" ini. Jadi saat pileg kemarin, teman saya pasang DP BBM screenshoot twitter seorang penyanyi yang dukung partai mereka, nah kebetulan jauh sebelum si penyanyi ini jadi jawara saya sudah follow akunnya, jadi saya tau dong dia ngetweet apa aja, dan saya inget dia ga pernah ngetweet itu. Saya coba stalking lagi, dan benar si penyanyi ini ga pernah ngetweet itu. Dan akhirnya saya coba telusur akun twitter yang ada dp BBM tadi, yaelaaaaah bro setelah saya stalking ternyata itu sebenarnya akun promosi, yang namanya kemudian diubah jadi nama akun si penyanyi terkenal itu. Saya BBM lah temen saya ini, itu palsu, temen saya bilang cuma dapet dari temennya. -______-

Nah semalem makin ilfil lagi, lagi-lagi via twitter, seorang financial planner ngetweet, kalau fotonya diedit salah satu kader partai yang sama dengan cerita saya sebelumnya, menjadi pendukung capres tertentu, padahal yang bersangkutan mendukung capres yang satunya. Yaelaaaaah... maen edit-edit mulu.

Tadinya saya mah biasa aja sama parpol mana juga, EGP alias emang gue pikirin. Tapi ya itu kayaknya kok membabi buta aja. Udah beberapa teman di facebook yang terpaksa saya remove (karena kalau pakai hp kok ga nemu "tombol" unfollow). Saya engga tau mau dukung siapa, wong saya sama-sama engga yakin sama keduanya, tapi paling males kalau udah saling jelek-jelekin, menganggap dirinya paling we-o-we-be-ge-te aliaw wow banget. Saya sebagai orang awam yang kemungkinan golput lagi, agak males sama yang kayak gitu-gitu lah. Kedamaian dan ketentraman dunia perfacebookan nampaknya mulai hilang. Yang dibawah, alias para pendukung udah pada perang, padahal yang didukung juga belum tentu peduli sama nasib mereka. >.<

Nah, satu lagi herannya yang kampanye mulu itu mantan rekan kerja atau temen lain yang statusnya PNS, padahal setau saya PNS termasuk pihak yang harusnya netral. Kemarin sempet googling, ada kok aturannya yang melarang, yang lucu waktu itu ada yang bilang "boleh kok, coba baca aturannya no sekian" (saya lupa) sementara kemudian ada yang bilang "engga boleh, kemarin udah ada surat edaran dari sekjen", wkekekek notabene keduanya sama-sama kerja di instansi yang sama, sama dengan tempat saya dulu kerja. Nah loo nah loo...

Kalau saya pribadi, terserah mau pilih no 1 mau no 2 tapi mbok yo wis, yang dukung no. 1 ga usah jelek-jelekin no. 2 begitupun sebaliknya, yang no.2 juga ga perlu nunjuk ini lho gue paling keren no.1 ga bisa kayak gue ataupun sebaliknya. Yaa seperti yang saya bilang tadi, para pendukung udah kayak mau perang aja, padahal kalau ada apa-apa belum tentu yang didukung bakal belain mati-matian juga. :p

Udah ah, segitu aja unek-unek dari warga negara yang udah mulai jenuh dengan perang di dunia maya, harapan saya cuma semoga tanggal 9 Juli segera berlalu, karena merindukan ketentraman dunia maya. Hehehehe

Giriwoyo, Senin 23 Juni 2014
09:26

Selasa, 10 Juni 2014

Surat untuk Bidadari #14

Assalamu'alaykum kesayangan ibu...

Bica sayang,
Beberapa hari terakhir ibu banyak mengingat sesuatu karenamu, yang membuat ibu ingin kembali mengucapkan terima kasih untukmu. Selain karena Bica, ibu jadi lebih banyak lagi memperdalam agama, karena ibu ingin menjadi ibu yang terbaik untukmu, ibu baru sadar ternyata kehadiranmu selalu hadir di hari Jum'at, hari yang istimewa, hari yang penuh barokah bagi umat Islam.

Meski ibu tak ingat lagi tanggal berapa ibu melakukan tes kehamilan, tapi ibu ingat sayang, hari itu adalah hari Jum'at sekitar pukul 03.00 pagi di bulan Mei. Hari yang sama dan di jam yang nyaris sama pula kamu hadir. Hadir dalam rahim ibu dan bersiap hadir ke dunia.

Bica sayang,
In shaa Allah sebentar lagi ibu dan ayah akan pindah rumah, ibu meninggalkan rumah-rumah yang pernah ada kenangan kita di sini. Alhamdulillah, ayah membelikan rumah yang mungkin dulu ibu bayangkan menjadi tempat kita banyak menghabiskan waktu bersama. Tapi tak apa Bica, kelak in shaa Allah kita akan bersama lagi di rumah yang lain, yang kita tak kan terpisah lagi.

Bidadari ibu,
Hari ini tepat 5 bulan Bica pergi ke surga, kadang ibu membayangkan sedang apa Bica di sana, ayah sering bilang Bica lagi main sepeda. Ibu kangen sayang, dan ibu hanya bisa berdoa, semoga bidadari ibu selalu bahagia dan kelak kita bisa bersama-sama lagi ya sayang. Aamiin

Kabica,
Jika suatu hari nanti akan hadir Debica maupun Abica, percaya ibu ya sayang, ibu ga akan pernah melupakan Kabica, ibu akan memperkenalkan Debica ataupun Abica ke Bica.

Bica,
Selalu bahagia di surga ya sayang, ibu selalu merindukanmu.

Jasmine House, Selasa 10 Juni 2014
19:33

Rabu, 14 Mei 2014

Surat untuk Bidadari #13

Assalamu'alaykum Kakak Bica...

Empat bulan semua berlalu, rasanya sudah begitu lama. Kehilanganmu, kehilangan semangat hidup, dunia bagai runtuh masih sering ibu rasakan.

Benar-benar merelakan kepergianmu tanpa air mata masih sulit bagi ibu. Kehilangan tempat curahan hati ibu.

Duluuu... kita melewatinya bersama-sama, bagi ibu jauh lebih ringan saat menghadapi semua denganmu. Seburuk apapun perasaan ibu saat itu, jika ada kamu ibu bisa melewatinya.

Bica,
Bahagialah di surga sayang, tunggu ibu...
Ibu selalu meridukanmu..

Rabu, 14 Mei 2014
09:45

Senin, 05 Mei 2014

One Day One Juz (ODOJ)

Mumpung masih-masih anget-angetnya pada bahas Grand Launching ODOJ saya ingin ikut berbagi cerita saya dengan ODOJ.

Sekitar pertengahan September 2013, salah seorang teman grup reseller salah satu brand khimar menawari anggota grup tersebut untuk mengikuti kegiatan mengaji satu juz per hari, kalau tidak salah mbak Dierenz namanya. Saya tanpa pikir panjang mengatakan mau ikut. Di pikiran saya waktu itu, saya cuma pengen ikut pengajian, karena sampai sekarang pun saya belum menemukan komunitas pengajian di lingkungan saya, selain itu saya ingin membiasakan bisa rutin ngaji, sebelumnya saya ngaji paling 1 lembar 2 lembar itupun kadang tidak setiap hari. Astagfirullah

Tanggal 8 Oktober 2013, tiba-tiba whatsapp saya tergabung dengan sebuah grup, inilah One day one juz (ODOJ), dan mulai hari itu saya tergabung dengan ODOJ 7. Mbak Nurul Ambar Sari dan Mbak Isna, memperkenalkan apa itu ODOJ. ODOJ adalah program mengaji satu juz satu hari, khatam maksimal jam 20.00, bisa mulai ngajinya setelah semua anggota selesai membaca satu juz. Aturan awal maksimal jam 21.00 adalah jam terakhir khatam, lewat dari itu kena Surat Peringatan (SP), jika 3x berturut-turut akan ditanya komitmennya. Aturan sendiri digunakan bukan untuk menakuti, karena pada dasarnya kegiatan ODOJ adalah untuk mendorong kebiasaan mengaji,jika ada yang telat diberi semangat.

Seiring berjalannya waktu, ternyata bukan hal mudah, sering grup khatam sampai larut malam, anggota yang tiba-tiba keluar, dsb menjadi kerikil-kerikil perjalanan kami. Namun, dari ODOJ pula banyak ilmu yang saya dapat, sharing ilmu macam-macam, dari tafsir Al-quran, bahasa Arab, tips sehari-hari, sampai topik yang selalu ramai apalagi kalau bukan masalah jodoh.

Kalau tidak salah, sebulan setelah gabung ODOJ mulai terorganisir, di data , grup saya yang tadinya ODOJ 7 berubah jadi ODOJ 23, karena ODOJ 7 ada 2, saat itu mulai perekrutan, web dibuat, pendaftaran admin dibuka. Dan sekarang setelah hampir 7 bulan bergabung, ODOJ sudah menjadi komunitas grup yang mencapai ribuan.

Layaknya sebuah komunitas, acara kopdar alias kopi darat pun mulai dilakukan, saya sendiri baru 2x kopdar, dengan uni Fifi dan Mbak Dewi. Semoga di lain kesempatan bisa kopdar dengan yang lain pula.

Ke depannya, saya berharap, saya tetap konsisten, ada atau tidaknya ODOJ, dan ODOJ sendiri menjaga komitmennya untuk melatih anggotanya bisa mengaji satu hari satu juz dan tepat waktu.

Selasa, 22 April 2014

Surat untuk Bidadari #12

Assalamu'alaykum bidadari ibu,

Apa kabar sayang? Selalu dan selalu ibu berdoa agar kamu bahagia di surga, jadi bidadari yang cantik dan salihah.

Apalagi sayang selain kerinduan yang ingin ibu sampaikan untukmu, salah satu pinta ibu kepadaNya adalah tak ingin hilang ingatan ibu saat menciummu untuk pertama dan terakhir kalinya. Ibu selalu berdoa sayang, agar kelak kita bisa sama-sama lagi di surga.

Kabica sayang, selalu ibu katakan padamu, setiap tetes  air mata ibu saat merindukanmu bukan tanda ketidakiklasan ibu atas kepergianmu sayang. Ibu yakin ini adalah jalan yang terbaik untukmu, jalan terbaik yang diberikan Allah untuk kita.

Kabica, suatu hari nanti jika Allah memberi kesempatan lagi untuk ibu dan ayah memiliki Abica, Debica, jangan pernah khawatir sayang, in shaa Allah ibu akan tetap mendoakanmu sayang,  mengenalkanmu pada adik-adikmu meski hanya lewat foto, dan tetap berdoa agar kelak kita semua bisa kumpul bersama lagi di surgaNya.

Bica sayang, i love you, i miss you my angel....
Jadi bidadari salihah ya sayang...

Jasmine House, Selasa, 22 April 2014
21:32

Kamis, 17 April 2014

Entah

Kadang lelah, lelah berpura-pura tertawa, lelah berusaha ceria. Entahlah... tapi aku pun bosan, bosan menyembunyikan air mata, pun bosan berusaha berpura-pura tak ada apa-apa.

Saat tangis tak bisa ku hentikan, kata "lebay" dari mereka tak kan bisa ku hapus begitu saja dari ingatan, pun saat aku berusaha tetap ceria.

Merasa sendiri? Sangat
Merasa tak adil? Sering

Tapi aku bisa apa? Tak ada lagi yang bisa ku percayauntuk sekedarcsejenak menyandarkan kepalaku di bahunya, sekedar menggenggam tanganku, untuk meyskinkanku aku tak sendiri.

Ahh.. aku terlalu berharap, aku terlalu percaya ada orang lain yg menemaniku.

Aku lelah... lelah..

Jasmine House, 17 April 2014
12;14

Jumat, 11 April 2014

Surat untuk Bidadari #11

Assalamu'alaykum bidadari cantik ibu,

Hari ini 3 bulan 1 hari, kamu ke rumah Allah, sayang. Perasaan ibu masih sama, rasanya begitu cepat. Meskipun semakin ke sini ibu masih terus berusaha sayang, terus dan terus tak ingin menangisimu sebesar apapun rindu ibu untukmu. Ibu harus berjuang, ibu engga ingin bidadari ibu melihat ibu menangis, meskipun sulit.

Meskipun harus jujur sayang, tanpamu, ibu kehilangan semangat, rasanya semua tak ada artinya lagi. Dan semua terasa lebih berat, jauh lebih berat. Dulu, kamu lah satu-satunya semangat ibu, satu-satunya alasan ibu bakal melakukan apapun demi kamu, demi kamu sayang, tak pernah terpikirkan yang lain. Sampai kini, sampai detik ibu menulis ini. Rasanya ibu sangat kecewa dengan orang-orang di sekitar yang mengganggamu pergi yasudah pergi. Jujur ibu marah.

Sayang, ibu kesepian tanpamu, sangat kesepian, ibu tak tahu melangkah kemana? Ibu tak percaya lagi dengan orang-orang sekitar yang dulu bilang akan ada dan selalu hanya untuk ibu melewati ini. Ahh... sudahlah...

Aisha, meski ibu tak yakin itu kamu. Setiap ada bayi yang datang dalam setiap mimpi ibu, rasanya ibu bahagia. Cuma itu kebahagiaan ibu. Rasanya ingin selalu dan selalu tidur, agar bermimpi. Dalam mimpi pun sudah cukup, Bica.

Entah apa yang  terjadi dengan ibumu ini Kabica. Ibu kesepian tanpamu, tapi ibu harus ikhlas, ibu kecewa, teramat kecewa dengan orang-orang terdekat. Ahh... terlalu sering ibu kecewa, tapi tak apa sayang, asal tak ada yang melukaimu. Ibu rela.

Sayang, i love you... selalu dan selalu ibu merindukanmu...

Jasmine House 49
Jum'at 11 April 2014
19:57

Senin, 24 Maret 2014

Lelah

Ya Allah seandainya yang ku tulis ini salah, ampuni aku, ampuni hambaMu yang penuh khilaf. Ijinkan aku berkeluh kesah di sini.

Aku tahu semua ini milikNya. Bahkan raga ini pun adalah titipanNya, kapanpun Dia mau ambil, kita tak bisa menahannya walaupun cuma sedetik.

Aku tahu ya Allah bahwa Engkau tak kan menguji hambaMu di luar batas kemampuan umatMu.

Ya Allah, ini adalah fase hidup tersulit yang aku lalui. Fase yang tak pernah sedikit pun terbayangkan, tapi ini adalah kenyataan yang harus aku lalui.

Kehilangan Aisha, kehilangan bidadari kecil, yang tak sempat ku dengar tangisannya, tak sempat ku peluk, dan ku gendong, yang membuatku rasanya hampir gila setiap saat merindukannya.

Tanpa bermaksud menduakanMu, rasanya ingin ada yang menggegam erat tangan ini, membantu melewati fase tersulit ini.

Tapi kenapa ya Allah?

Betapa mudahnya kalimat-kalimat itu meluncur dari mulut-mulut mereka. Mereka yang tak paham, tak pernah mengerti yang aku rasakan.

Membandingkan dengan yang pernah dialami, mengatakan ikhlas, sabar, memaksa terus move on. Kenapa mereka sibuk mengaturku seolah aku ini sama dengan mereka? Sibuk menekanku, sibuk menghakimiku, sibuk memaksaku mengikuti ritme hidup mereka. Aku tahu batas kemampuanku sampai mana, apa saat terjatuh jika aku memaksakan diri mereka peduli? Aku rasa tidak.

Apa aku perlu katakan pada mereka ya Allah, mungkin aku bukan orang paling menderita di dunia ini karena ini, tapi apa mereka harus memaksaku seperti ini? Apa perlu mereka mengalami hal yang sama dengan yang ku alami agar mereka diam?

Ya Allah, dimana orang-orang yang dulu menawarkan bahunya, menawarkan genggaman erat tangannya, mungkin mereka lelah, mereka tak sabar denganku.

Dan aku pun mulai lelah, lelah untuk percaya mulut-mulut manis itu. Memang aku salah ya Allah, mengandalkan manusia untuk membantuku bangkit.

Aku tahu aku harus bangkit, hidup harus terus berjalan. Tapi jangan paksa aku!! Jangan paksa aku berlari saat aku baru bisa tertatih, toh kalian pun diam saja saat aku terjatuh.

Biarlah Engkau saja ya Allah yang menggenggam erat tanganku, memeluk erat tubuhku. Aku tak percaya lagi selain Engkau.

Ya Allah, aku tak bisa lagi menggambarkan rasa kecewa, marah,dan sakit hatiku kepada mereka.

Rasanya ini seperti makin meruntuhkanku di saat  aku kehilangan bidadari penyemangat hidupku ya Allah.

Ya Allah, sampaikan rinduku pada bidadari kecilku...
Tunggu Ibu sayang... kelak... kelak saat tiba waktunya kita pasti bersama.. tunggu ibu sayang... I love you, sayang... I love you my Kabica... Ibu selalu merindukanmu... selalu menyayangimu...tunggu ibu  ya...

Jasmine House, Senin 24 Maret 2014
08:15

Selasa, 18 Maret 2014

Surat untuk Bidadari #10

Assalamu'alaykum bidadari ibu,

Dalam surat kali ini banyak permohonan maaf dari ibu dan ayah untukmu, sayang.

Maafkan keterbatasan pengetahuan ibu dan ayah soal aqiqah, maafkan ibu yang baru mengetahui hukum aqiqah untuk bayi yang meninggal. Meskipun Alhamdulillah, Sabtu kemarin sudah diadakan di rumah eyang, tetap besar rasa bersalah ibu kepadamu, karena baru mengetahuinya lebih dari dua bulan sejak kepergianmu.

Aisha bidadari ibu,
Beribu maaf untukmu atas setiap tetesan air mata, maafkan ibu sayang, maafkan...
Bukan berarti ibu tak ikhlas atas kehendakNya, bukan ibu tak ikhlas atas kepergianmu, meskipun ibu yakin kakak sekarang pasti sudah bahagia di surga, merindukanmu adalah hal yang paling berat yang ibi rasakan, sayang. Maafkan ibu...

Kabica sayang,
Berulang kali ibu katakan, kehilanganmu adalah hal terberat yang ibu alami. Terkadang ibu masih lupa, bahwa semua sudah ketentuanNya. Kadang ibu masih sibuk mencari tahu penyebab  kepergianmu, bahkan sering ibu menyalahkan waktu, andai saja ini, andai saja itu. Ibu tahu sayang, kakak pasti sedih kalau melihat ibu seperti itu. Ibu terus berusaha sayang, berusaha benar-benar ikhlas tanpa air mata meskpun rasanya menyesakkan saat merindukanmu  tanpa bisa bertemu, merindukanmu tanpa bisa memeluk, mencium, membelai, atau bahkan sekedar melihatmu.

Kakak Bica,
Entah itu hanya sebatas khayalan atau nyata, kadang ibu merasa kakak menemani ibu, ibu merasa kakak engga pengen lihat ibu terus menangis. Sekali lagi sayang, maafkan ibu, maafkan ibu yang masih meneteskan air mata setiap mengingatmu, merindukanmu. Sungguh ibu ikhlas sayang, ibu ikhlas... tapi mengingatmu, merindukanmu tanpa air  mata itu butuh proses. Ibu yakin kakak ngerti, sama yakinnya kakak sekarang udah bahagia di surga. Doakan ibu dan ayah ya, sayang. In Shaa Allah kelak kita sama-sama lagi.

I love you, sayang
I miss you, bidadari ibu

Jasmine House, Selasa 18 Maret 2014
16:45

Jumat, 28 Februari 2014

Surat untuk Bidadari #9

Assalamu'alaykum cintanya Ibu...
Malam ini ibu sendirian di rumah sayang, ayah masuk shift malam. Ibu cerita-cerita sama kamu aja ya...

Kabica,
Ibu semakin menyadari betapa ternyata di sini kita punya kenangan lebih banyak daripada saat di rumah eyang, hari ini pertama kalinya ibu ke Yogya sayang, melihat beberapa ibu-ibu yang menggendong anaknya mengingatkan ibu pada kejadian beberapa bulan lalu. Ya, setiap akhir bulan ibu dan ayah belanja di Yogya dan setiap melihat pemadangan tadi, ibu selalu bilang "Yah, nanti aku juga kayak gitu ya, gendong Kabica, kita belanja bertiga".

Dalam perjalanan, setiap melewati tempat, ibu serasa flash back. Melihat rumah sakit, melihat papan nama tempat dokter kandungan yang dulu pernah ibu kunjungi bersamamu. Jangankan pergi ke luar rumah sayang, suatu sore di depan rumah seperti biasa kadang ada ibu-ibu ngobrol, dan hari itu  ada kakak Mika sayang, rasanya hati ibu tak karuan sayang. Dulu, saat kamu di perut ibu, ibu membayangkan ibu dan kamu menjadi bagian dalam peristiwa sore itu, khayalan yang sama jika ada gathering di tempat kerja ayah. Berkumpul dengan teman-teman sebayamu, nak.

Tapi ibu yakin sayang, di surga kamu pun pasti punya teman-teman yang lebih banyak lagi, meskipun tanpa ibu. Kelak, in shaa Allah sayang kita akan bersama. Doakan ibu dan ayah ya sayang.

Sayang, kamu tahu, betapa banyak yang kamu ajarkan untuk ibu. Kamu ingat sayang, di awal keberadaanmu di rahim ibu, tiba-tiba ibu rajib ngeblog lagi, bahkan ibu menjadi salah satu pemenang di lomba blog yang pertama kalinya ibu ikuti. Beberapa kali pula ibu menang giveaway. Rasa-rasanya ibu merasa kamu memberi ibu banyak hadian sayang. Tak cukup di situ, karenamu juga ibu akhirnya ikut grup One Day One Juz, kamu mengajarkan ibu agar lebih rutin tilawah. Ibu ingat sayang, kamu tak pernah absen membangunkan ibu saat di sepertiga malam, selarut apapun ibu tidur, tak berhenti menendang perut ibu saat adzan dan ibu tak segera solat.

Kabica, betapa banyak kenangan manis kita, betapa banyak hal baik yang ingin kamu ajarkan untuk ibu, terima kasih sayang, terima kasih bidadari ibu. Kita mungkin belum bisa bersama, tapi suatu hari nanti sayang, suatu saat in shaa Allah kita berkumpul lagi.

Meski rindu ibu untukmu sering tak terbendung, ibu ikhlas sayang, maafkan ibu yang masih mengumbar air mata setiap kali ibu tak tahu harus bagaimana saat ingin memelukmu, mendekapmu, menciummu. Ibu sayang, Aisha...ibu kangen...

Kakak baik-baik ya sayang... ibu selalu rindu... selalu mencintaimu...

Jasmine House, Jum'at 28 Februari 2014
01:16

Senin, 24 Februari 2014

Surat untuk Bidadari #8

Beberapa bulan yang lalu, di kamar ini jam-jam segini, saat ayah masuk shift pagi, kita menghabiskan waktu ya sayang. Kadang berdua kita ndengerin murrotal, alunan musik mozzart, nonton film, sampai nonton bulutangkis.

Pagi-pagi kamu nemenin ibu belanja, masak, beres-beres, sampai nyuci baru kita santai-santai di kamar ini ya? Ibu kangen tendangan-tendangan halusmu di perut ibu, sayang.

Berbagai rencana telah ibu susun agar ibu tetap bisa menemanimu meskipun ibu tanpa ART, saat ibu memasak, saat ibu mencuci, saat ibu menjemur cucian, ibu membayangkanmu yang menemani dalam stroller. Dan mulai pagi ini, rasanya ibu terbangun dari khayalan-khayalan itu, ibu merindukanmu sayang, teramat merindukanmu.

Tak ada lagi sentuhan-sentuhan halusmu yang menemani ibu saat ibu melakukan semua ini, sayang. Tak ada lagi khayalan itu.

Ibu tahu sayang, Allah pasti sudah menyiapkan rencana yang lebih indah dari khayalan ibu, untuk mu, untuk ibu, untuk ayah, untuk eyang, untuk kita semua sayang. Bukan ibu tak menerima ini, bukan ibu tak percaya Allah, tapi ibu hanyalah seorang perempuan biasa yang merindukanmu, sayang. Ibu kangen kamu, sayang.

Kebersamaan kita selama kurang lebih 9 bulan, rasanya berlalu begitu cepat, rasanya baru kemarin ibu melihat dua garis dalam tespack, rasanya baru kemarin ibu menikmati setiap sentuhan-sentuhanmu dalam perut ibu. Meski ibu tak sempat mendengar tangismu, tak sempat memelukmu, tak sempat merawatmu secara langsung.

Aisha, bidadari cantik ibu.
Maafkan ibu sayang, maafkan ibu masih sering bersedih, masih sering menangis di saat merindukan seperti saat ini. Ibu tak ada niat memberatkanmu ataupun ingin kamu melihat ibu rapuh seperti ini.

Kabica, ibu selalu berdoa untukmu, cinta ibu...
Ibu selalu mendoakanmu, agar kamu bahagia berada di surgaNya yang paling indah. Kelak, semoga kita bisa bersama ya sayang, ibu akan memberikan semua yang terbaik yang ibu miliki. Jika sekarang ibu belum bisa memelukmu, menciummu, menggendongmu, menyusuimu, dan semua yang selayaknya seoraang ibu berikan untuk bidadarinya, semoga nanti ibu ada kesempatan untuk melakukannya untukmu, sayang. Rasa sedih yang menyakitkan sayang saat ibu harus melihat ASI ibu menetes terbuang sia-sia tanpa bisa kamu nikmati sayang, bahkan sampai satu bulan kepergianmu, meski tanpa menyusui, meski telah ibu minum obat penghenti ASI, tapi ternyata masih keluar, dan itu semakin membuat ibu merindukanmu, bidadari ibu.

Sayang, ibu minta maaf ya sayang kalau ibu belum bisa memberikan yang terbaik untukmu.

Aisha, bidadari cantik ibu, bantu ibu dengan doa ya sayang, supaya ibu dan ayah bisa kuat dan melewati masa-masa tersulit ini. Kakak cantik, baik-baik ya... jadi bidadari salihahnya ibu dan ayah. Jika di dunia tak bisa bersama, semoga kelak kita bisa berkumpul ya sayang di surgaNya, semoga kakak salihah bisa jadi penolonf ibu dan ayah ya sayang, agar kita bisa bersama.

I love you, sayang..

Ibu sayang Aisha
Ibu kangen, sayang
Kakak baik-baik ya...

Jasmine House, Senin 24 Februari 2014
10:29

Sabtu, 22 Februari 2014

Surat untuk Bidadari #6

Assalamu'alaykum bidadari ibu,
Sayang... hari ini ibu sudah di rumah dengan ayah. Kemarin tepat di hari ke 42 mu, ibu pulang dengan ayah, eyang kakung, dan eyang putri. Ayah sakit sayang, jadi ayah dan ibu batal naik kereta api.

Kabica, entah kenapa, ibu merasa jauh darimu, sayang. Ibu kangen sayang, rasanya ibu mulai dari titik awal lagi saat ada di rumah ini. Dulu ibu dan ayah selalu bermimpi, membawamu kesini sayang, kita mulai kehidupan baru bertiga, tapi ternyata ibu harus kembali ke sini tanpamu. Dulu di depan rumah, ada Kakak Mika sayang, yang selali terdengar sampai rumah celotehannya, dan saat itu pula ibu berkhayal suatu hari kamu yang saat itu masih di perut ibu akan berceloteh ria juga seperti kakak Mika waktu itu.

Aisha, ibu kangen sayang. Sekarang ibu sedang sendirian di rumah, ibu kangen kamu. Aisha baik-baik ya sayang, ibu selalu mendoakanmu nak... Semoga kelak kita semua bisa berkumpul denganmu di surgaNya... Aamiin

Rumah Melati, Sabtu 22 Februari 2014
19:03

Kamis, 13 Februari 2014

Surat untuk Bidadari #5

Assalamu'alaykum bidadari ibu,
Sepertinya hari Kamis jadi identik ya sayang, hari ini pertama kalinya ibu datang ke pusaramu pun di hari Kamis, dan besok tepat 35 hari ya sayang bidadari ibu yang cantik ini bertemu ibu, ayah, dan eyang.

Aisha sayang,
Hari ini ibu dapat kado istimewa, seorang teman ibu, ammah Intan, memberikan bingkisan cantik, sayang. Ibu mengenal ammah Intan di grup One Day One Juz (ODOJ). Grup mengaji yang sudah lebih dari 4 bulan ini ibu ikuti, terima kasih sayang, karena kamu ibu juga ibu ikut grup ini. Ibu yang tadinya ngaji masih bolong-bolong, jadi terdorong ikut ODOJ agar bisa rutin ngaji sayang, dan dari ammah Intan ini ibu beli buku-buku dan dvd yang sebenarnya untukmu. Tapi engga apa-apa sayang,

Kabica kesayangan ibu,
Life must go on, meskipun kehilanganmu adalah hal terpahit dan tersulit yang ibu rasakan, ibu tahu kamu pun tak ingin ibu terus bersedih, ibu berusaha sayang, terus berusaha. Ibu akan kembali pulang mendampingi ayah, melanjutkan hidup. Ada perasaan berat sayang, meskipun kata ayah, ibu boleh menengok pusaramu kapanpun ibu mau, meskipun di hati ibu kakak cantik tetap ada, tapi ada perasaan kita akan berjauhan.

Kabica sayang,
Merindukanmu tanpa bisa bertemu adalah hal yang paling menyedihkan bagi ibu, meskipun ibu tahu sayang, ini adalah jalan yang terbaik dariNya, ibu sayang kamu sayang, tapi Allah jauh lebih sayang kamu. Namun, ibu juga manusia biasa sayang, yang rapuh dan rasanya kehilangan lentera hidup karena kepergianmu. Doa adalah satu-satu cara "bertemu" denganmu. Ibu yakin kamu bahagia sayang, bahagia di surga yang terindah. Ibu selalu berdoa agar kita semua bisa berkumpul di surga Allah kelak, sayang.

Kabica,
Ibu selalu mencintai dan merindukanmu, teramat sangat.

Kamis, 13 Februari 2014
23:27

Minggu, 09 Februari 2014

Surat untuk Bidadari #4

Bidadari Ibu,
Tak terasa ya sayang besok tepat 1 bulan pertemuan sekakigus perpisahan kita di dunia. Waktu serasa cepat berlalu, meskipun bagi Ibu rasanya semua masih terekam jelas. Di jam yang sama satu bulan yang lalu, Ibu ada di IGD RS PKU Muhammadiyah. Menantimu dengan cemas sayang, pesan dari Ayah melalui whatsapp yang terus mendoakan kita terus berulang. Ayah dan Ibu terus berdoa sayang, agar kita bisa, kita kuat.

Kabica bidadari Ibu yang salihah,
Maafkan Ibu sayang yang selalu mengingat masa-masa itu, Ibu tak ada kenangan lain, bahkan bersamamu pun tak ada 5 menit. Ibu hanya diijinkan sebentar menciummu, ciuman selamat datang dan salam perpisahan. Tak ada kesempatan Ibu untuk memelukmu, menggendongmu, bahkan sekedar membelaimu, sayang.

Aisha,
Betapa banyaknya panggilan kesayangan untukmu, dulu saat kamu masih di perut Ibu, Kakak, Kabica, Kakak Bica, Aisha, sampai-sampai Ayah sempat khawatir kami bingung sayang dengan panggilan dari Ibu ini.

Sayang,
Kehilanganmu adalah bagian tersulit dalam hidup Ibu, kadang Ibu capek sayang, kadang Ibu marah, kadang Ibu sedih ketika orang-orang seolah mencibir Ibu yang masih sering menangis, belum bisa bertemu dengan banyak orang. Meskipun tak pernah berhenti Ayah menguatkan Ibu, beberapa sahabat menenangkan Ibu. Ahh biarlah toh mereka tak pernah merasakan kehilangan belahan jiwanya, anak yang tumbuh berkembang dalam rahimnya, itulah kalimat penghibur Ibu saat Ibu masih bisa berpikir jernih, sayangnya Ibu masih lebih sering belum bisa mengontrol semua.

Kabica sayang,
Ini sulit bagi Ibu, nak. Tapi Ibu akan terus berusaha, berusaha kuat berusaha ikhlas yang sebenar-benarnya, demi kamu, demi Ayah, juga demi Ibu sendiri. Ibu yakin, sekarang kamu sudah benar-benar seorang Maheswari seperti namamu, bidadari cantik, di surga.

Ibu selalu merindukan dan mencintaimu, sayang, selalu.

Minggu, 9 Februari 2014
21:58

Kamis, 06 Februari 2014

Surat untuk Bidadari #3

Kabica sayang,
Hari ini hari Kamis, hari yang sama hari istimewa itu sayang. Meskipun tak seperti di awal-awal, Ibu masih berusaha kuat sayang setiap mengingat ini adalah malam Jum'at. Baru saja Ibu menemukan blog yang kisahnya mirip kita sayang, mungkin lebih beruntungnya Mom dan Pap masih diberi kesempatan untuk lebih lama dengan buah hatinya, sementara kita tidak sayang. Tidak sayang, Ibu tidak iri, setiap orang pasti punya jalannya masing-masing.

Sayang, sekali lagi, air mata Ibu bukan tanda ketidakikhlasan atas kepergian Kakak, Ibu mana yang tak sedih sayang setiap merindukan buah hatinya, belahan jiwanya, setiap kali melihat foto-fotomu sayang, ada perasaan tak percaya, karena rasanya Ibu melihatmu sedang tidur.

Meskipun Eyang dan Ayah sudah menjauhkan semua barang-barang Kakak dari Ibu, melarang Ibu menyimpan fotomu di hp atau tab agar tak bisa setiap saat membukanya, namun ingatan Ibu terhadapmu tak berubah sayang. Setiap melihat foto Ayah, melihat mata Ayah, selalu Ibu ingat mata kamu, sayang, apalagi melihat foto Ibu sendiri, seperti kata Eyang, kamu mirip Ibu, Nak. Pipi tembem mu pasti dari Ibu, bentuk dagu, bentuk hidung, hampir semua sayang.

Aisha, bidadari Ibu..
Ibu sebenarnya tak ingin dikasihanin sayang, tapi bukan berarti Ibu juga terima dengan becandaan atau hiburan yang tak pas. Berapa kali Ibu menerima ucapan kurang lebih agar segera punya adik, mereka mungkin tak tahu sayang, betapa setiap anak itu ibarat jari-jari tangan, apa bisa kita menggantikan jempol dengan telunjuk? Tidak bisa bukan? Sama sepertimu sayang, andai suatu hari nanti Allah menitipkan lagi belahan jiwa untuk Ayah dan Ibu, itu tak kan pernah menggantikanmu, sayang. TIDAK AKAN PERNAH.

Kabica, kesayangan Ibu...
Ibu kangen, semoga kelak kita semua bisa berkumpul di JannahNya ya sayang..

Kamis, 6 Februari 2014
19:07

Minggu, 02 Februari 2014

1st Anniversary

"Kalau kakak lahirnya tanggal 2 lucu kali ya sayang"
...

"Ayah, aku mau kue tart dong pas tanggal 2 nanti, trus foto-foto sama kabica"
...

Ahh... percakapan di akhir tahun itu rasanya seperti baru kemarin. Ahh... yasudahlah...

Pagi ini, serangkaian doa lewat bbm saya terima,

"Sayang....alhamdulillah y...kita udah melalui satu tahun usia pernikahan kita.....semoga kita semakin dewasa dalam menyelesaikan masalah...dan bisa bahagia bersama hingga d surga ALLAH....aamiin "

Sesaat setelah saya terbangun dari mimpi yang entahlah mimpi indah atau biasa, yang jelas rasanya hampir tiap tidur saya bermimpi tentang seorang bayi.

Seperti kali ini, saya melihat seorang bayi perempuan lucu yang digendong seorang laki-laki berusia 20an yang wajah asing, ketika ingin saya gendong, bayi itu tak mau, tiba-tiba ada perempuan yang menggendong bayi itu, mengambil dari gendongan laki-laki tadi. Bayi tadi masih ketawa-ketawa dan dada- dada kepada saya perlahan menjauh.

Saya terbangun, dan mendapatkan bbm dari suami saya tadi.

Ahh ya, hari ini tepat satu tahun usia pernikahan kami. Tepat 23 hari yang lalu bidadari kami berpulang, tanpa sempat merayakan ulang tahun pernikahan pertama ayah ibunya.

Di sini, di ujung tempat tidur, air mata saya kembali mengalir, dan membalas bbm suami saya.

Semalam lewat pukul 2 saya baru bisa tidur, setelah mendapat shock therapy (lagi-lagi) dari seseorang yang mengirim pesan lewat wa di tengah malam dengan kalimat yang lagi-lagi membuat saya rasanya seperti diremas. Oh, betapa empati rasanya seperti barang langka.

Aahh satu tahun pernikahan bukan hanya sekedar angka, bukan hanya sekedar perayaan, tapi ini benar-benar ujian untuk kami berdua, kehilangan seorang buah hati yang berbulan-bulan kami nantikan.

Minggu, 2 Februari 2014
17:09


Sabtu, 01 Februari 2014

Surat untuk Bidadari #2

Seorang teman Ibu pernah menulis "memang rindu hanya akan sembuh dengan pertemuan, tapi keadaan mungkin tak selamanya mengijinkan, dalm doa adalah pertemuan yang sebenarnya".

Selain berdoa, ini adalah cara Ibu untuk melepas rindu padamu, Kabica.

Ibu bersyukur sayang, di masa-masa yang menurut Ibu masa tersulit ini, Ibu memiliki teman-teman yang menguatkan Ibu. Meskipun tetap ada yang bersikap sebaliknya.

Kehilanganmu adalah hal paling menyakitkan, sayang. Ibu merindukan kebersamaan kita, tendangan-tendangan halusmu. 9 bulan rasanya begitu cepat.

Besok genap 1 tahun Ibu dan Ayah menikah, sayang. Dan mengharapkan keberadaanmu di bulan-bulan berikutnya. Ayah bahkan sempat mengkhayal kelahiranmu di tanggal yang sama dengan pernikahan ayah dan ibu. Ibu pun sempat mengkhayal, sayang, kita akan merayakan bertiga. Tapi semua tinggal khayalan.

Kabica, bidadari kesayangan Ibu, Ibu kangen.

Sabtu, 1 Februari 2014
09:37

Rabu, 29 Januari 2014

Surat untuk Bidadari #1

29 Januari 2014

Tanggal yang Ibu dan Ayah selalu nantikan beberapa bulan terakhir, sayang. Ya... kata dokter inilah tanggal HPL (Hari Perkiraan Lahir)mu. Tapi Allah berkendak lain, kamu datang sekaligus pergi lebih awal, sayang.

Sudah hampir 3 minggu berlalu, semua kadang masih terasa mimpi. Tapi Ibu harus merelakanmu, sayang. Terus dan terus berusaha ikhlas, berusaha sabar, berusaha rela melepasmu.

Ibu kangen, Kabica...

Rabu, 29 Januari 2014
22:50

Kamis, 23 Januari 2014

Selamat jalan, Kabica

Rindu Ibu padamu tak bertepi sayang, sama seperti rasa sayang Ibu.
Entah bagaimana mengungkapkan rasa rindu ini
Ibu ikhlas kakak pergi sayang, namun bukan berarti Ibu sanggup menahan air mata
Ibu yakin kakak bahagia di sana, Ibu yakin ini jalan terbaik dariNya
Tapi... ijinkan Ibu sesekali mengumbar air mata saat merindukanmu, sayang...cuma ini yang bisa membuat Ibu sedikit lega...

Kakak, baik-baik ya sayang....
Jemput ayah dan ibu di surgaNya kelak...

9 Januari 2014
Hari ini hari Kamis, jadwal kontrol kandungan.

"Sudah kenceng ya Bu, air ketuban bagus, posisi bayinya juga sudah bagus, kita tinggal nunggu sewaktu-waktu melahirkan. Sampai ketemu seminggu lagi ya... itu juga kalau engga udah lahir duluan" kata dokter Soffin.

Pukul 15.00, saya tiba di rumah, usai solat Ashar saya tidur, entah kenapa sekitar pukul 16.30 saya sudah bangun dengan kepala sedikit pening, saya makan.

Sekitar pukul 17.00, saya ingin pipis, tiba-tiba sejak itu, saya merasakan "pipis" terus. Pukul 18.30 ibu mengajak ke bidan untuk cek, ternyata memang ketuban sudah pecah dan pembukaan 1.

Pukul 20.00 saya berangkat ke RS PKU Muhammadiyah Solo, karena memang sejak awal saya ingin melahirkan di sana.

Pukul 22.00-03.00 saya sampai di IGD, semua diperiksa dan normal, saya sudah pembukaan 2. Tapi perut sama sekali belum mulas, saya masih sempat tilawah, makan 2x. Beberapa kali dicek detak jantung kakak, semua masih baik-baik saja.

Pukul 04.00 seorang perawat terlihat mulai sedikit panik, saat detak jantung kakak tak bisa di deteksi, 2x ganti alat, sampai kemudian mulai muncul wajah-wajah kepanikan. Satu perawat memasang oksigen dan meminta saya bernafas dalam-dalam, miring ke kiri. Terus saya melihat gerak cepat mereka.

Adzan Shubuh berkumandang, saat itu pula diputuskan untuk operasi, semua serba cepat. Saya hanya gemeteran dan terus berdoa. Saat operasi semua serba cepat, hanya terdengar suara dokter Soffin "Astagfirullah...astagfirullah" dan saya sibuk bertanya "Kenapa dok? Kenapa bayi saya?", "Ibu berdoa ya untuk anaknya, doakannya Bu, doakan "

Dan semua tiba-tiba gelap.

Setengah sadar, saya melihat seorang perawat memakaikan gurita sambil tersenyum ke arah saya, lalu tak ingat lagi.

Saya mulai tersadar saat saya dibawa keluar ruangan, sibuk bertanya "bayi saya mana?",  semua diam. Saya bertanya terus, sampai ada yang bilang "Nanti dokter yang menjelaskan ya Bu".

Entah, saat itu dunia rasanya gelap, tanpa pemberitahuan, nampaknya ada hal buruk yang harus saya terima. Tak berapa lama dokter Soffin datang. Penjelasannya tak semua terekam dengan baik oleh saya, hanya satu benang merah, kakak pergi.

Suami tak berapa lama masuk ruangan begitu juga dengan Bapak, tangis sudah tak terbendung lagi. Saya minta suami ambil foto kakak sebanyak-banyaknya, saya takut tak sempat melihatnya.

Tak berapa lama, setelah diminta suami, seorang perawat menggendong bayi mungil berpipi tembem di samping saya, iya dia, Kabica, kesayangan ayah dan ibu. Pertama kali melihatnya dan untuk terakhir kalinya, dua ciuman untuk kakak, serta bisikan  "Ibu sayang kakak, tapi Allah jauh lebih sayang kamu sayang".

Melihatnya, seperti sedang berkaca. Pipi ibu melekat erat di kamu, sayang, segaris tipis matamu mengikuti ayah.

Semua seperti mimpi, begitu cepat.

Meskipun berulang kali Ibu menegaskan Ibu ikhlas sayang, tapi berulang kali pula belum mampu Ibu menahan air mata, belum sanggup pula Ibu bertemu orang-orang, melihat foto-foto bayi, menanggapi keKEPOan orang-orang tanpa rasa marah.

Hari ini, tepat 2 minggu yang lalu detik-detik itu dimulai. Dua minggu pula, rasanya lama sekali, dua minggu pula terkadang masih lupa, kalau sudah tak hamil lagi, tak lagi kita ngobrol-ngobrol lagi, dua minggu pula kadang menganggapmu hanya pergi main sementara, dan Ibu menunggumu pulang.

Kabica, Kakak Bica, Kakak Chacha panggilan kesayangan dari Ayah dan Ibu untuk bidadari kesayangan, Aisha Maheswari Diandra Pradipta, maafkan Ibu sayang... masih belum bisa menahan air mata setiap mengingatmu, setiap merindukanmu,

Doa Ibu, semoga kakak menjadi bidadari yang kuat seperti arti namamu sayang... Jika kini kita belum bisa bersama, semoga kelak di surgaNya kita bisa berkumpul...

Kamis, 23 Januari 2014
16:17

 

Ndoroayu's Zone Template by Ipietoon Cute Blog Design