Rabu, 29 Januari 2014

Surat untuk Bidadari #1

29 Januari 2014

Tanggal yang Ibu dan Ayah selalu nantikan beberapa bulan terakhir, sayang. Ya... kata dokter inilah tanggal HPL (Hari Perkiraan Lahir)mu. Tapi Allah berkendak lain, kamu datang sekaligus pergi lebih awal, sayang.

Sudah hampir 3 minggu berlalu, semua kadang masih terasa mimpi. Tapi Ibu harus merelakanmu, sayang. Terus dan terus berusaha ikhlas, berusaha sabar, berusaha rela melepasmu.

Ibu kangen, Kabica...

Rabu, 29 Januari 2014
22:50

Kamis, 23 Januari 2014

Selamat jalan, Kabica

Rindu Ibu padamu tak bertepi sayang, sama seperti rasa sayang Ibu.
Entah bagaimana mengungkapkan rasa rindu ini
Ibu ikhlas kakak pergi sayang, namun bukan berarti Ibu sanggup menahan air mata
Ibu yakin kakak bahagia di sana, Ibu yakin ini jalan terbaik dariNya
Tapi... ijinkan Ibu sesekali mengumbar air mata saat merindukanmu, sayang...cuma ini yang bisa membuat Ibu sedikit lega...

Kakak, baik-baik ya sayang....
Jemput ayah dan ibu di surgaNya kelak...

9 Januari 2014
Hari ini hari Kamis, jadwal kontrol kandungan.

"Sudah kenceng ya Bu, air ketuban bagus, posisi bayinya juga sudah bagus, kita tinggal nunggu sewaktu-waktu melahirkan. Sampai ketemu seminggu lagi ya... itu juga kalau engga udah lahir duluan" kata dokter Soffin.

Pukul 15.00, saya tiba di rumah, usai solat Ashar saya tidur, entah kenapa sekitar pukul 16.30 saya sudah bangun dengan kepala sedikit pening, saya makan.

Sekitar pukul 17.00, saya ingin pipis, tiba-tiba sejak itu, saya merasakan "pipis" terus. Pukul 18.30 ibu mengajak ke bidan untuk cek, ternyata memang ketuban sudah pecah dan pembukaan 1.

Pukul 20.00 saya berangkat ke RS PKU Muhammadiyah Solo, karena memang sejak awal saya ingin melahirkan di sana.

Pukul 22.00-03.00 saya sampai di IGD, semua diperiksa dan normal, saya sudah pembukaan 2. Tapi perut sama sekali belum mulas, saya masih sempat tilawah, makan 2x. Beberapa kali dicek detak jantung kakak, semua masih baik-baik saja.

Pukul 04.00 seorang perawat terlihat mulai sedikit panik, saat detak jantung kakak tak bisa di deteksi, 2x ganti alat, sampai kemudian mulai muncul wajah-wajah kepanikan. Satu perawat memasang oksigen dan meminta saya bernafas dalam-dalam, miring ke kiri. Terus saya melihat gerak cepat mereka.

Adzan Shubuh berkumandang, saat itu pula diputuskan untuk operasi, semua serba cepat. Saya hanya gemeteran dan terus berdoa. Saat operasi semua serba cepat, hanya terdengar suara dokter Soffin "Astagfirullah...astagfirullah" dan saya sibuk bertanya "Kenapa dok? Kenapa bayi saya?", "Ibu berdoa ya untuk anaknya, doakannya Bu, doakan "

Dan semua tiba-tiba gelap.

Setengah sadar, saya melihat seorang perawat memakaikan gurita sambil tersenyum ke arah saya, lalu tak ingat lagi.

Saya mulai tersadar saat saya dibawa keluar ruangan, sibuk bertanya "bayi saya mana?",  semua diam. Saya bertanya terus, sampai ada yang bilang "Nanti dokter yang menjelaskan ya Bu".

Entah, saat itu dunia rasanya gelap, tanpa pemberitahuan, nampaknya ada hal buruk yang harus saya terima. Tak berapa lama dokter Soffin datang. Penjelasannya tak semua terekam dengan baik oleh saya, hanya satu benang merah, kakak pergi.

Suami tak berapa lama masuk ruangan begitu juga dengan Bapak, tangis sudah tak terbendung lagi. Saya minta suami ambil foto kakak sebanyak-banyaknya, saya takut tak sempat melihatnya.

Tak berapa lama, setelah diminta suami, seorang perawat menggendong bayi mungil berpipi tembem di samping saya, iya dia, Kabica, kesayangan ayah dan ibu. Pertama kali melihatnya dan untuk terakhir kalinya, dua ciuman untuk kakak, serta bisikan  "Ibu sayang kakak, tapi Allah jauh lebih sayang kamu sayang".

Melihatnya, seperti sedang berkaca. Pipi ibu melekat erat di kamu, sayang, segaris tipis matamu mengikuti ayah.

Semua seperti mimpi, begitu cepat.

Meskipun berulang kali Ibu menegaskan Ibu ikhlas sayang, tapi berulang kali pula belum mampu Ibu menahan air mata, belum sanggup pula Ibu bertemu orang-orang, melihat foto-foto bayi, menanggapi keKEPOan orang-orang tanpa rasa marah.

Hari ini, tepat 2 minggu yang lalu detik-detik itu dimulai. Dua minggu pula, rasanya lama sekali, dua minggu pula terkadang masih lupa, kalau sudah tak hamil lagi, tak lagi kita ngobrol-ngobrol lagi, dua minggu pula kadang menganggapmu hanya pergi main sementara, dan Ibu menunggumu pulang.

Kabica, Kakak Bica, Kakak Chacha panggilan kesayangan dari Ayah dan Ibu untuk bidadari kesayangan, Aisha Maheswari Diandra Pradipta, maafkan Ibu sayang... masih belum bisa menahan air mata setiap mengingatmu, setiap merindukanmu,

Doa Ibu, semoga kakak menjadi bidadari yang kuat seperti arti namamu sayang... Jika kini kita belum bisa bersama, semoga kelak di surgaNya kita bisa berkumpul...

Kamis, 23 Januari 2014
16:17

 

Ndoroayu's Zone Template by Ipietoon Cute Blog Design