Senin, 14 Juli 2014

Waktu yang Berlalu

Malam ini niat awal buka laptop adalah mau mencari lagunya Opick dan dicopy ke tab. Karena lagu yang dimaksud tak ketemu, dan akhirnya malah suara Sherina menyayikan Cinta Pertama dannTerakhir saya malah nyasar di folder foto-foto. Dari rasa nyesek karena melihat bodyku dulu tak begini hingga terhenti di folder foto-foto saat masih kerja dulu.

Tiba-tiba ingatan melesat, seakan kembali ke masa itu, melihat foto, mengenang  masa lalu, dan jemari saya langsung membuka aplikasi whatsapp, mengirim satu pesan yang sama " apa kabar? Aku kangeeeeen" lengkap dengan emoticon ke "Bocil" Weika dan "Princess Onye" Mbak Winda. Sejenak percakapan kami semakin melemparkan saya pada kenangan-kenangan masa lalu. Tertawa bersama, bete-bete an, kemudian sedih, dan kembali tertawa bersama. Mungkin saya bukan teman yang baik untuk mereka, tapi harus saya akui bahwa mereka menjadi salah satu bagian terpenting dari fase yang pernah saya lewati.

Dan entah kenapa, rasanya saya merindukan mereka, dan dengan sedikit rasa mellow, saya merindukan masa-masa kegilaan ketika lajang masa-masa rasa suntuk dengan setumpuk kerjaan kantor, dengan segala rasa nano-nanonya. Harus saya akui saat-saat terakhir di kantor bersama Mbak Winda, Weika, dan oh ya Kokoh alias Iin alias Indra menjadi satu benang merah yang membuat saya rindu. Kok teman-teman lain engga ya? Haha, duh jahatnya saya. Entahlah. Mungkin karena akhir-akhir masa itu, ada persamaan rasa, rasa gondok dan makan ati berjamaah, hihi , ah sudahlah. Saya hanya ingin menyimpan rasa rindu kepada teman-teman saya ini. Semoga Bocil dan babynya sehat dan lancar sampai persalinan nanti, rencana Mbak Winda nikah bisa lancar, dan Indra segera sebelum pacar yang sudah bertahun-tahun dipacarinya kabur *peace.

Entahlah akhir-akhir ini saya seperti dihadapkan oleh pintu yang membawa saya ke masa lalu, sebelum malam ini merindukan teman-teman kantor saya itu, tiba-tiba Teh Echa, sahabat saya sejak SMA mengirim BBM seperti ini,

10 tahun. Rasanya tak kurang dari jumlah itu aku mengenalmu -meski tak sepenuhnya kuhabiskan waktu bersamamu. Tawa dalam suka, tangis dalam duka, isak dalam haru, pun diam dalam perbedaan pandang purna kita lalui. Kalau dianalogikan dengan pacaran, mungkin pernah berkali kita putus lalu berkali pula kita berbaikan dan menata hubungan agar lebih baik ke depannya. Panggilan dengan nama kecil yg kita temukan untuk satu sama lain di sepuluh tahun lalu nyaris tak berubah, masih dengan rasa yang sama indahnya untuk dilafalkan. Panggilan yang mengukuhkan rasa, yang kusebut persahabatan, lebih lagi persaudaraan. Saudara seiman.. Meski tak melulu bertatap wajah, yakin kau punya kesan tersendiri. Haru selalu, manakala Allah menyampaikan kabar-kabar yang menggelitikku mengingatmu, meski tanpa daya kemudian hanya mampu berucap 'Aku rindu..'. Meski tak melulu menegur dalam kata, menyimak benang merah dari rangkaian riak hidupmu menerbitkan getaran yang entah bisa kusebut apa. Menafsirkan perjuangan dari awal berkenalan hingga berbagai bingkisan luar biasa yang Allah hadirkan dalam hidup dan membawa Iman Islam semakin mendalam. *** Malu aku, jika harus mengakui diri sebagai sahabatmu. Miris terasa, manakala hendak menyebut diri sebagai sahabat, namun tak mampu berbuat banyak untukmu dari kejauhan. Malu aku, manakala tak mampu membendung tangismu, mereda nyerimu, melega sesakmu. Karenanya, maafkan segala kekurangan.. Semoga Allah ridha, berkenan atas persahabatan ini. Seperti yang sering kau kata, mendoakan adalah caraku memelukmu dari jauh.. Uhibbukum fillah, Ne :') TBD.XE 11 Juli 2014 10.12 am

Tiba-tiba jleb, serasa ada sebuah anak panah menusuk. Saya teringat betapa saya ini sangat moody, yang sering ngambek, sering marah tak jelas yang mungkin sudah menyakiti teman-teman di sekitar saya yang selama ini menyayangi saya. Astagfirullah... maafkan hambaMu ya Rabb...

Mengingat masa-masa dulu bersama, sering ada rindu yang menyeruak, aahh masa itu, gumam saya. Semakin menjadi saat teman kuliah sekaligus menjadi teman kantor saya dulu mengAdd akun Path saya, melihat aktivitasnya membawa saya kembali ke masa yang dulu pernah saya lewati.

Jujur harus saya akui kadang saya merindukan, merindukan memakai baju rapi ala kantoran, merindukan lari dengan high heels, tekanan pekerjaan yang sempat membuat saya langsing tanpa diet, merindukan suasana berbeda rumah dan kantor, lingkungan berbeda. Tapi kemudian saya seperti disadarkan, menyesalkah saya? Saya harus bilang tidak. Ini keputusan besar yang pernah saya ambil, meninggalkan dunia kerja kantor. Mungkin rasa ini muncul karena skenario saya ternyata berbeda dengan rencana Allah. Dulu saya pikir setahun menikmati masa bebas kerja, menikmati peran sebagai istri dan seorang ibu yang menantikan anaknya. Kemudian tahun kedua mulai nano-nano dengan anak, dan ternyata Allah punya rencana lain itu jujur sempat membuat saya kaget dan jenuh. Berulang kali saya bilang ke suami "saya jenuh, saya bingung saya mau ngapain". Tapi saya harus bangkit, mungkin ini cara Allah agar saya lebih belajar lagi mempersiapkan diri menjadi seorang Ibu yang mampu mendidik anak-anaknya kelak.

Maka doa saya adalah agar saya dilindungi Allah dari hal-hal yang menyilaukan mata saya akan dunia, saya meminta agar Allah menjaga persahabatan saya dengan teman-teman saya. Membantu saya melihat masa lalu menjadi kenangan yang indah untuk diingat bukan sebagai bingkisan menyilaukan yang membuat saya mundur lagi.

Jasmine House, Senin 14 Juli  2014
23:37

Selasa, 08 Juli 2014

Surat untuk Bidadari #15

Assalamu'alaykum sayang...
Meski ibu tak pernah bisa lagi melihatmu, ibu pastikan Bica sudah bahagia di surga.

Tanpa bermaksud membebanimu, ibu hanya ingin bilang, ibu kesepian. Rasanya ada lubang besar di hati ibu semenjak kamu pergi. Ibu berusaha menutupnya, tapi selalu ada yang melubanginya.

Ada rasa kecewa yang amat besar saat orang yang ibu harap bisa membantu ibu bangkit justru melukai ibu. Kamu tak ada dan yaudah semua biasa saja nampaknya.

Kalau sekarang ada yang bertanya apa keinginan ibu, ibu cuma pengen bilang ibu pengen bahagia. Ibu lelah berpura-pura bahwa semua sudah baik-baik saja. Rasanya tak ada lagi alasan ibu untuk bisa bahagia selain kamu, bidadari ibu yang selalu ada untuk ibu.

Bica, ibu sakit. Sebenarnya setiap sakit, ibu selalu ingin sembuh, ada harapan di depan, tapi rasanya ibu lelah. Lelah jika saat sehat ibu disakiti dan harus pura-pura senyum.

Berhari-hari harus bercengkerama dengan jarum, rasanya teramat sakit karena ibu harus mencari alasan untuk ibu bayangkan agar saat itu ibu berpikir ibu harus sembuh. Tapi tak ada. Rasa sakit jarum itu hilang saat ibu membayangkanmu. Meski ibu tau, ibu tak bisa bebas denganmu saat sembuh.

Bica, lubang di hati ibu semakin besar, rasanya semakin sakit saat menyadari ibu sendiri tanpa Bica lagi untuk melewati semua ini.

Apa yang harus ibu lakukan? Alasan apa yang harus ibu pakai untuk bahagia selain keberadaan Bica?

Ibu kangen Bica, ibu butuh Bica untuk semangat ibu.

Sayang, maafkan ibu. Maafkan ibu yang belum bisa sepenuhnya melepasmu.

Ibu sayang bidadari ibu. Bahagialah di surga sayang, tunggu sampai kelak kita bisa bersama lagi.

Jasmine House, Selasa 8 Juli 2014
22:57

 

Ndoroayu's Zone Template by Ipietoon Cute Blog Design