Selasa, 22 Desember 2015

Steam Ikan Bumbu Kuning (menu MPASI 8m+)

Bahan:
1 ikan mujair ukuran sedang
1 buah tomat potong-potong
1 batang daun bawang potong-potong

Bumbu halus
3 bawang merah
2 bawang putih
1 ruas kunyit
1 ruas jahe
1 kemiri

Cara:
1. Bersihkan ikan lumuri jeruk nipis untuk menghilangkan amisnya. Kerat-kerat kulitnya
2. Lumuri ikan dengan bumbu yang sudah dihaluskan, termasuk di dalam ikannya.
3. Bungkus dengan daun pisang (saya pakai alumunium foil) tambahkan potongan tomat dan daun bawang, taruk dalam wadah.
4. Kukus selama 40 menit

Senin, 21 Desember 2015

Menu MPASI 4 Bintang (Bekal) #1

Menu ini saya buat saat saya sekeluarga ada acara di luar rumah dari pagi,saya harus menyiapkan bekal untuk Bena, dengan prinsip no instan dan tetap menu 4 bintang.

Menu ini menu suka-suka saya ya bu yang penting 4 komponen dalam menu 4 bintang masuk, takaran pun suka-suka kecuali keju, dibatasi.

Bahan:
3 kentang ukuran sedang, dikukus kemudian dihaluskan
1 butir telur ayam
Daun bayam cincang
Tahu jepang hancurkan
1 sdt Keju prociz parut (tidak disarankan untuk bayi under 8m)

Cara:
1. Campur semua bahan, aduk rata.
2. Cetak dengan cetakan cookies.
3. Taburi keju di atas
4. Panggang 40 menit 180 derajad

Cerita Bena (Perlengkapan MPASI)

Sesuai janji sebelumnya, kali ini saya akan berbagi cerita soal perlengkapan MPASI. Ini ga mutlak lho bu ibu, buat saya ini pendukung untuk mempermudah saya, dengan perlengkapan yang ada di dapur pun tak masalah, yang jadi masalah kalau males bikin makanan bayi.

Oh ya untuk foto menyusul ya (walaupun entah kapan akan diupload *jitak)

1. 1 Set tempat makan dan minum
Pakai mangkok dan sendok kecil yang ada di rumah pun engga masalah ya bu, yang penting kalau dari plastik yang BPA free ada kode angka 5. Kebetulan Bena kemarin dapat beberapa set perlengkapan makan sebagai kado, walaupub ibunya tetep sempat beliin juga hehhe, salah satu produk yang sendoknya bisa sebagai indikator panas engganya makanan.

2. 1 Set perlengakapan MPASI Pigeon
Bukan promosi merk ya, ini satu set ada mangkok untuk penyajian, mangkok untuk numbuk, perasaan jeruk, sendok, sekaligus tumbukannya.

3. Slow Cooker
Ini kayaknya panci ajaib buat para ibu-ibu termasuk saya. Sebelum akhirnya nemu ilmu ajaib di facebook yaitu masak 2 in 1. Jadi dalam satu wadah di dalamnya ada wadah kecil lagi, yang wadah besar isi beras buat masak nasi yg kecil buat bubur. Dan tadi saya praktek, hehehe lumayan.

4. Boosterseat
Ini sebenarnya bukan hal yang utama, saya beli ini untuk melatih Bena makan hanya di ruang makan, tadinya sebelum Bena bisa duduk tegak Bena makan di stroller cumw setelah Bena bisa duduk tegak, sementara stroller posisinya engga bisa setegak kursi sandarannya Bena jadi kayak leyeh-leyeh. Pilih booster seat karena bisa dibawa kemana-mana.

5. Babycubes
Kotak kecil ini buat menyimpan stok puree, kaldu.

6. Slabber
Bena punya dua jenis slabber yang satu bahan kain satu bahan plastik yang kalau kotor bisa dilap, tapi ya apa daya sama Bena slabbernya malah buat mainan jadi ya kadang pakai kadang engga, yang jelas semenjak makan cucian Bena nambah karena biasa setelah makan baju ya biasalah penuh makanan.

Lagi pengen banget beli tempat makan ala Korea itu, tapi harganya bikin mikir-mikir dulu lagipula Bena engga sering jalan jadi sejauh ini pakai yang dari plastik dulu aja.

IMY, Senin 21 Desember 2015
19:55

Minggu, 20 Desember 2015

Cerita Bena (Tips dan Trik MPASI)

Haaii... gini nih kalau udah berhasil posting sekali pasti kecanduan pengen nulis lagi. Kali ini saya mau berbagi tips soal MPASI Homemade, kalau ada yang bilang ribet dan sebagainya emm... sebenarnya mudah kok asal niat dulu deh, eh saya sebenarnya punya utang nulis soal perlengkapan MPASI ya...duuh...nanti deh yaa hahhaha yang di otak ini soalnya.

MENU 4 BINTANG
Apa sih menu 4 bintang? Menu 4 bintang adalah menu makanan yang setiap kali makan ada sumber karbohidrat, sayuran, protein hewani, protein nabati. Lalu menu 4 sehat 5 sempurna itu? Menu itu sudah dihapus dari tahun 90an bu, susu bukan lagi penyempurna karena hakikatnya bayi 0-24 bulan itu ASI, setelag usia 24 bulan alias 2 tahun susu sudah tidak diperlukan lagi. Itu sependek yang saya tahu.

Untuk MPASI menurut WHO usia 6 bulan 2 minggu sudah mulai menu 4 bintang, 2 minggu awal masih menu tunggal untuk cek alergi. Selain menu 4 bintang ada tambahan lemak. Prinsipnya dari yang saya baca, jika orang dewasa perlu banyak serat, rendah lemak kalau bayi kebalikannya.

MPASI HOMEMADE? MUDAH
Pertama-tama saya memilah dan menulis dulu sumber pangan dari keempat menu 4 bintang tadi. Misal dari sumber karbohidrat saya akan mengenalkan beras putih, beras merah, kentang, ubi, oatmeal,dsb dari sayuran saya kenalkan wortel, buncis, kacang panjang, bayam, dsb, dari sumber protein hewani ada hati ayam, daging ayam, daging sapi, udang, ikan, telur, sumber protein nabati ada tempe, tahu,kacang tanah, dan lemak tambahan bisa dari unsalted butter, evoo, eloo, atau minyak sayur biasa.

Duh homemade mahal ada daging sapi segala, udang, ayam, duuh bu saya ga selalu itu. Saya beli dada ayam 1/2 kg itu Rp 15.000,00  saya cincang sendiri (karena setelah saya bandingkan dengan beli daging ayam giling lebih mahal hahahah) itu kalau saya turutin bisa seminggu lebih tapi saya beli itu juga buat menu masakan saya pribadi dan suami. Masih ada ikan masih ada telur.

Kemudian aduh ribet banget, engga kok. Kalau berdasarkan teori masak bubur 4 bintang itu semua dicemplungin bareng baru disaring, jadi beras dimasak bubur pas mau mateng ditambah sayur, sumber proteih hewani, sumber protein nabati, begitu mateng tinggal saring. Tapiiii... Bena doyan? NO! Bena maunya dimasak sendiri-sendiri. Jadi cara saya

1. Saya sudah susun menu karbo untuk Bena selama seminggu, misal Senin beras putih, Selasa beras merah, Rabu kentang, dst.

2. Saya stok puree sayur untuk 2 hari. Misal Senin Selasa puree labu siam, Rabu Kamis puree wortel.

3. Sumber protein hewani dan protein nabati biasa saya gabung, jadi misal steam tahu telur (tahu jepang dihancurkan campur telur ayam. dikukus/steam), tempe daging ayam, dsb. Atau stok protein nabati untuk 2-3 hari kedepan. Contohnya abon tempe (saya cuma tempe cincang halus sangrai sampai kecoklatan simpan di wadah kedap udara), atau kacang tanah tanpa kulit yg disangrai kemudian dihaluskan.

4. Saat usia 8 bulan ini jauh lebih mudah, saya sudah berikan menu keluarga versi bayi artinya no gulgar dan potongan lebih halus sesuai kemampuan bayi. Saya pernah bikin soto ayam, bahannya sama cuma kubis, kol, saya cincang halus, kalau yang dewasa pakai kentang goreng buat bena saya kasih abon tempe, tinggal tambah nasi tim jadikan menu 4 bintang? :)

Oh ya saya terapkan no blender dari awal, menurut teori sih naik teksturnya susah, saya pernah iseng nih karena capek, kalau buat menu puree jagung iseng saya blender, Bena jadi engga lahap. Kemudian di usia 8 bulan ini Bena sudah saya kenalkan keju, saya pakai Prociz karena kadar garam rendah. No gulgar kok pakai keju? Ini cuma untuk pengenalan :) tidak setiap hari, dibatasi 2x seminggu tidak lebih dari 1 sendok teh sesuai rekomendasi. Keju ini bisa merusak rasa lho bu, jadi dibatasi penggunaannya.

Kemarin sempet saya bingung pas ayahnya Bena ngajak acara fun walk, acara dari jam 06.00 pagi, kalau dikasih makan seperti biasa males ribetnya, akhirnya bikinlah makanan 4 bintang sekali telan hihihi. Kebiasaan memilah sumber makanan itu membantu banget lho Bu, tadinya saya mau bikin dari oat tapi sumber lain gimana nih. Tercetuslah menu kentang, bayam, telur, tahu (jadi 4 bintang kan?) saya tambahi keju di atasnya, kenapa ? Saya batasi kalau Bena makan ke banyak, bagian kejunya buat ibunya hahaha...gampang diambil dibanding kalau kejunya ikut dicampur ke adonan.

Jadi yuk bu, ke homemade. :)

Ada rasa kadang malas kadang ribet, tapi jujur ini yang saya rasakan, karena sudah 2 bulan saya sering makan makanan hambarnya Bena walaupun cuma icip-icip saya jadi agak aneh kalau makan makanan bergulgar, jadi saya pikir oh ya ada benarnya juga kalau dari awal anak sudah diberi gulgar bisa jadi pilih-pilih.

Semangat memasak untuk buah hati kita ya Bu, ingat rendang asli lebih enak daripada mie instan rasa rendang :D

IMY, Minggu 20 Desember 2015
20:54

Sabtu, 19 Desember 2015

Cerita Bena ( Tentang MPASI)

Sekalinya bisa ngeblog jadi nyandu pengen ngeblog lagi heheehee, kali ini saya mau cerita tentang MPASI alias Makanan Pendamping ASI. Saya akan share tentang pengalaman saya dari persiapan hingga sampai cerita nano-nanonya.

MPASI menurut WHO diberikan pada usia 6 bulan atau 180 hari tidak kurang tidak lebih, sependek pengetahuan saya jika diberikan kurang dari 6 bulan organ-organ bayi belum siap, jika usia 6 bulan lebih dikhawatirkan bayi kekurangan nutrisi. Oh iya metodenya pun macam-macam, ada versi WHO yaitu mengenalkan sumber serelia dulu, ada foof combining (fc) yaitu mengenalkan buah dulu baru di usia 7 bulan dikenalkan serelia, ada baby lead weaning (BLW) yaitu bayi diajari makan sendiri dengan makanan utuh (bukan bentuk puree atau bubur).

Saya sendiri memutuskan memberikan MPASI di usia 180 hari jadi tanggal 14 April gara-gara engga sabar hahaha, masih batas aman tho?  Dan ikut WHO, makanan pertama Bena adalah bubur saring beras putih. Reaksi pertama? Dia kayak nelen pit pahit hihihi. Seminggu pertama saya memberi makan 1x sehari tiap hari ganti, dari beras putih, beras merah, kentang, aneka sayur dan buah. Hasilnya? Entah apa ini yang disebut ikatah batin, karena kata-kata dsa Bena yang bilang saya harus hati-hati dengan makanan Bena kelak karena ada resiko diabetes saya sempat parno Bena doyan nasi putih dan engga doyan nasi merah karena saya berencana mengganti konsumsi beras putih dengan beras merah untuk menu keluarga demi kesehatan, dan Bena selalu mingkem setiap menunya bubur beras putih, bubur beras merah masih agak doyan, akan lahap saat menunya kentang.

Sekarang Bena usia 8 bulan, sampai usia 8 bulan ini Alhamdulillah belum pernah makan bubur instan, saya kaku dalam aturan? Saya jawab iya, setiap ibu pasti punya kebijakan sendiri kan? Saya pun begitu, ada yang menyarankan bubur berasnya digiling dulu ada yang menyarankan pakai tepung Gasol. Bukan anti, tapi saya takut suatu hari nanti saat sekali saya nyoba saya takut jadi males, ah pakai gasol aja ah. Dan saya engga pengen seperti itu, semales-malesnya saya engga apa-apa saya yang makan ngasal tapi buat Bena jangan, kalau dari awal ngasal takut kebentuk. Seperti aturan lain makan harus duduk, engga ada cerita makan sambil keliling kompleks, kalau bosen pindah ruangan aja atau pindah tempat duduk, yang tadinya di kursi (Bena pakai booster seat) bisa pindah ke stroller atau ke bouncer, asal tetap di rumah. Yang paling sering saya langgar adalah makan di depan TV, kenapa? Udara di Indramayu ini panasnya, 5 menit Bena duduk di ruang makan udah kayak atlit badminton habis main 3 set, dan dia udah mulai rewel kalau gerah, sementara kipas ada di depan TV.

Sekarang ini sedang belajar makan menu keluarga yang tanpa gulgar, semoga Bena engga kena badai GTM (gerakan tutup mulut), sejauh ini dia masih mau makan ya ada masa-masa dia makan engga habis, tapi Alhamdulillah masih makan. Mulai mau dikenalkan cookies, sayangnya saya belum nemu unsalted butter di sinu, kemarin beli online, os nya engga berani ngirim karena hanya YES dan ini lagi full menjelang libur natal dan tahun baru. Akhirnya saya beli cookies, yang cermat ya Bu, kemarin saya mau beli kastengel ternyata kejunya bukan rekomendasi dari para pakar. Saya ribet? NO! Selektif iya, kenapa? Konsumsi keju ini sebatas pengenalan, prinsip no gulgar under 1y, keju bisa merusak rasa itu kenapa saran pemberian maksimal 2x seminggu tidak lebih dari 1 sendok teh.

Saya berharap sikap saya ini bisa membawa dampak baik untuk kesehatan dan kebiasaan Bena tentang makan. Dari Bena saya belajar, itu kenapa mungkin orang bilanh saya saklek. No blender, no gulgar, kebanyakan NO NO, engga apa-apa saya sih balik lagi ke kebijakan ibu masing-masing untuk anaknya. Karena saya liat sendiri nih ada dua anak temen saya, yang dari awal homemade, engga doyan makanan instan, snack-snack, agak ribet mungkin ya kalau lagi pergi-pergi, tapi kata temen saya yaitulah cara kita belajar. :)

Makanya saya sedang belajar banyak pantangan semata-mata untuk kesehatan Bena.

Oh iya tentang peralatan MPASI... Mmm....dibahas di postingan selanjutnya aja deh.. :)

IMY, Sabtu 19 Des 2015
06:54

Jumat, 18 Desember 2015

Cerita Bena (8m+)

Fiuuuh.... 5 bulan blog dianggurin. Rencana menulis tentang Bena per bulan pun tinggal rencana tapi tak apa yang penting Bena sehat.

Ok kita lanjut cerita yang sebelumnya. Setelah keluar dari rumah sakit, kontrol 1x kemudian tes lab lagi untuk pembanding dari hasil lab terakhir, alhamdulillah hasilnya bagus. Tapi Bena harus tetap kontrol, minum sufornya juga masih ditambah dosisnya, dari 60ml/ 2jam jadi 80-90ml/ 2jam. Saya sempat pindah dsa, di sana saya lansung disuruh stop sufor, no pospak, dan cek lab lagi. Cuma akhirnya saya balik lagi ke dsa awal, atas pertimbangan dengan suami, kayaknya ini malah mulai dari awal lagi, toh pas diopnmae dicek lab semua tidak ada masalah.

Usia 4.5 bulan saya dan Bena kembali ke rumah pribadi, hidup bertiga dengan suami. Nah ini salah satu alasan engga sempat ngeblog karena bener-bener cuma bertiga no ART jadi udah sibuk ngurus Bena. Awal-awal masih bisa masak, tapi setelah Bena mulai merangkak dan sekarang di usia 8 bulan mulai merambat, masak cuma buat MPASI Bena *eh ini kok malah jadi curcol kan mau bahas Bena.

Oh ya, usia 5 bulan Bena imunisasi *duh lupa apa, males buka buku. Pas di data bidan, saya senang dapat bidan yang update ilmu, waktu itu bema masih sufor, cuma dosisnya 90-100ml/hari di luar itu tetep ASI, sudah mulai di garis hijau kata Bidannya coba diliat nanti kalau udah mulai MPASI, waktu itu beratnya 6,3kg.

Saya mulai stres karena betapa sulitnya mencoba no sufor, Bena nangis terus, saya mulai mengurangi dosisnya daaan tiada ada hari yg lebih indah 2 hari menjelasng usia 7m sampai sekarang 8m sudah no sufor.

Oh ya untuk MPASI, saya pilih metode WHO, 2 minggu awal menu tunggal, mengenalkan aneka serelia, dan dia usia hampir 7m sudah menu 4 bintang, sekarang sudah 3x menu utama 4 bintang dan 2x cemilan buah. Alhamdulillah tidak ada halangan berarti, belum pernah makan instan. Ayah Ibunya malah yang instan-instan.

Tekad utama di usia 8m ini, saya sekeluarga sudah no instan, soalnya dulu karena masih puree, saya engga sempet masak buat diri sendiri dan suami prioritas saya yang utama memang Bena, karena saya engga mau Bena makan makanan instan. *Ibu idealis wkwkkwwk, bukan tanpa alasan karena saya engga mau anak saya picky eater kayak saya dan yang utama saya sudah diberi tahu dsa bahwa Bena beresiko diabetes karena berat badan lahirnya lebih dari 4kg, saya lebih menekankan pada alasan kesehatan.

Sekarang 8m, sudah mulai masakan keluarga no gulgar, jadi saya harap lebih simpel, saya bisa masak untuk keluarga khusus Bena tinggal no gulgar dan potongannya lebih kecil. Semoga berhasil :)

IMY, Jum'at 19 Des 2015
21:42

Selasa, 21 Juli 2015

Cerita Bena (3m+)

Hampir dua bulan blog ini tanpa tulisan terbaru. Banyak rasa yang terlewat. As a new mom, tiap ada waktu luang lebih baik tidur. Haha

Ok, tulisan kali ini akan menceritakan tentang Bena di tiga bulan pertama usianya.

Satu Bulan
Seperti di tulisan sebelumnya dua kali kontrol ke dsa yang menangani Bena sejak lahir, berat badannya tidak kunjung naik malah turun, usia satu minggu jadi 4,1 kemudian 3,8 dan 3,7. Dsa nya bilang tidak apa-apa dan hanya dibekali vitamin. Meski sebenarnya hati kecil bilang sepertinya memang ada hal yang tidak biasa saya terpaksa mengalah dengan ibu saya untuk tidak kontrol lagi ke RS tempat Bena lahir dengan ganti dokter. Kenapa? Ibu takut Bena nangis-nangis lagi.

Dua Bulan
Sejak pulang dari RS Bena full ASI dan hingga hari ke 26 sejak pulang belum juga BAB padahal dari teori yang saya baca toleransinya 14 hari. Bidan dekat rumah menyarankan untuk kembali ke DSA, lagi-lagi ibu menolak ke Solo ke dsa yang ini saya temui (sejauh itu, saya kontak dsa ini hanya melalui facebook). Berat Bena tak pernah jauh dari antara 3,8-4.00 kg. Saya paksa perah ASI, karena saya lihat Bena seperti kurang puas setelah menyusu, feeling saya juga bilang pelekatannya juga salah, bayangkan Bena bisa 4 jam menyusu. Saya ke dsa kedua, beliau bilang tak apa dan lagi-lagi diberi vitamin.

Hati saya tetap tak enak, saya paksa ibu untuk mau ke Solo, bertemu dengan dsa pilihan saya ini. Blaaarrr, begitu ketemu saya harus stop ASIP saya bukan wanita karir, saya diajari pelekatan yang benar, dan harus banyak makan karena dsa bilang payudara saya kurang ASInya, seminggu lagi harus kontrol.

Daaaaan... Jedaaaarrr!!!! Seminggu kemudian berat Bena turun dari 4,1 ke 3,9 dan dinyatakan gizi buruk, harus opname. Harus sufor untuk mengejar BB nya, kebayang perasaan saya? Saya yang dari jaman sebelum Aish lahir bahkan sebelum saya menikah udah kampanye ASI eksklusif tiba-tiba di usia 2 bulan 1 minggu harus menerima kenyataan Bena diberi sufor. Saya tahu ini indikasi medis tapi perasaan tak rela itu bahkan memicu pertengkaran antara saya dan suami. :'(

Jadi akhirnya Selasa, 30 Juni 2015 Bena masuk PICU, perasaan saya? Campur aduk antara sedih dan takut, kebayang di PICU hanya orang tua kandung pasien yang boleh masuk itu artinya hanya saya yang boleh menunggu, suami di luar kota, eyang tak boleh masuk, saya harus merawat Bena sendiri padahal selama ini saya selalu dibantu ibu dan mbak.

Hari pertama saya sering menangis melihat Bena menangis, apalagi Bena menolak sufor. Bahkan baru beberapa jam di ruang PICU saya mendapat "tamparan" dari seorang perawat.

"Ibu seharusnya sadar kalau mau ASI EKSKLUSIF , lihat bu payudara ibu ini kosong engga ada isinya. Ibu sarjana kan? Harusnya ini (menunjuk ke kepala) ibu jalan, engga bisa memaksakan untuk eklusif"

Saya lupa-lupa ingat perkataan persisnya seperti apa tapi kalimat "ini Ibu harusnya jalan" sambil menunjuk ke kepalanya itu saya ingat betul. Hati saya sakit, entah ini cara Allah ingin membela saya atau bukan, ak berapa lama Bena minta menyusu,menyusu sebelah kiri, selesai menyusui saya berdiri ternyata baju yang sebelah kanan saya sudah basah kuyup kena asi (biasanya kalau kita menyusui payudara sebelah kiri payudara sebelah kanan juga akan mengeluarkan asi), saat itu pula perawat tadi menghampiri saya.

"Kok bisa? Ini nyimpen asinya dimana? Payudara ibu lembek, harusnya yang seperti ini yang payudara kencang".

Reaksi saya hanya diam.

Pun saat para perawat sedikit heboh, karena Bena menolak sufor media apapun, mulai dari gelas sloki, cup feeder, sendok. Selapar apapun dia, semua dia keluarkan, pernah dia sembur, kebayang bayi dua bulan bisa nyemburin sufor?

Saya tahu dari dsa sampai perawat-perawat menyudutkan asi saya yang kurang karena melihat payudara yang tak sekencang payudara busui-busui lain yang habis melahirkan. Tapi ada satu perawat yang menghampiri saya, "Bu coba saya lihat asinya" dan yuup, hal yang selalu terjadi setiap saya mau menyusui, asi saya mancur, ini benar mancur nyemprot seperti air dari slang. "Lho asi ibu ini banyak lho. Wong mancur-mancur gini".

Titik awal inilah yang meruntuhkan anggapan asi saya tak ada, observasi berlanjut, Bena dioral terapi, kata terapisnya daya hisap dan daya telan Bena lemah, Bena dites tiroid. Daya hisap lemah biasanya pada anak hypotiroid.

Saat saya searching tentang hypotiroid, shock dong saya, karena hypotiroid mengarah pada anak down syndrome, tapi secara fisik Bena tidak ada tanda tanda itu. Hasil tes laboratorium keluar, dsa Bena bingung, karena hasil tes labnya tidak masuk akal, menurut teori tidak mungkin seperti itu (FT4 dan TSHS sama-sama tinggi).

Langkah awal tindakan terhadap Bena adalah dipasang slang pada hidungnya untuk memasukkan sufor, oral terapi, dan perbaikan pelekatan menyusui. Awal-awal Bena sering gumoh. Alhamdulillah BB Bena berangsur-angsur naik. Dari 3,9; 3,990; 4,140;4,100; dan 4,340 saat pulang.

Kontrol pertama seminggu kemudian 4,370. Ini bermasalah kenapa? Di rumah sakit kan Bena pakai slang, begitu di rumah pakai oral sama sekali Bena engga mau, sampai akhirnya diakali tidak pakai air putih tapi asi untuk mencampur asinya, ajaib Bena mau. Cuma belakangan saya tidak lagi karena supplier sufor yang dipakai Bena bilang jangan, takutnya nanti kenapa-kenapa. Akhirnya diganti dsa nya pakai untuk bayi prematur yang pemakaiannya memang harus menggunakan asi bukan air.

Kontrol kedua dua minggu kemudian bb Bena 4,790. Alhamdulillah lumayan naik tingkat dari gizi buruk ke kurang gizi. Dsa nya Bena optimis Bena bisa saya yang harus terus semangat dan berjuang. Karena Bena cuma kurus, geraknya tetap aktif, sudah ngoceh-ngoceh, sementara ada pasien dsanya Bena yang keadaannya lebih parah, bayinya sampai susah nafas.

-bersambung

25 Juli 2015

Jumat, 01 Mei 2015

Selamat datang di dunia, adik Bena

Tulisan ini saya buat untuk mengingat detik demi detik kelahiran adik Bena, kelahiran bayi yang saya tunggu-tunggu setelah kurang lebih 15 bulan kepergian kakaknya, Aisha, juga untuk menjawab berbagai pertanyaan "lho aku engga tau kamu hamil kok tau-tau ada kabar kamu melahirkan". Selain keluarga, tetangga, dan beberapa teman memang saya tak mengabarkan  kehamilan saya, saya ingin membaginya saat adik sudah lahir, meskipun setiap perkembangannya saya tulis di blog dalam bentuk draft. Nanti saat adik sudah lahir, baru akan saya post begitu janji saya pada diri sendiri ketika itu.

Baiklah ini perjalanan  kehadiran anak kami tercinta, Bena Maryama Pradipta.

Kamis, 16 April 2015
Seperti biasa hari Kamis adalah jadwal saya untuk kontrol ke RS P.K.U Muhammadiyah Solo dengan dr Soffin Arfian, Sp. Og. Dokter Soffin juga yang menangani saya di kehamilan pertama saya dulu. Rencana awal saya akan sesar tanggal 23 April 2015, tepat 38 minggu usia kandungan saya. Kenapa engga melahirkan normal? Dokter Soffin sebenarnya mengijinkan saya melahirkan normal, tapi dengan riwayat yang dulu (saya belum punya anak karena meninggal dan janin saya terhitung besar) dokter menyarankan saya untuk sesar. Di UK 32 minggu, berat badan adik melonjak dratis, 1200 gram dalam waktu 5 minggu padahal rangenya 800-1000 gram . Dan terus naik, meskipun berat badan saya naik biasa saja, karena itu dokter akhirnya memberi range tanggal sesar dari tanggal 16-23 April.

Meskipun belum benar-benar fix, hari ini saya sudah siap dengan barang-barang bawaan kalau sesar. Meskipun dengan rasa penuh khawatir karena hampir seminggu saya kena batuk pilek, pengennya sesar pas sehat.

Hari ini juga akhirnya diputuskan untuk sesar pada keesokan harinya, dokter bilang sebenarnya mau operasi hari ini juga engga apa-apa. Cuma dari awal saya ingin sesar pada hari Jum'at, hari yang paling baik dalam Islam.

Jum'at , 17 April 2015
Sesuai perintah dokter saya puasa makan mulai pukul 00.00, karena menurut jadwal sesar akan dilakukan pukul 08.00. Saat adzan Subuh seorang perawat sudah memandikan dan mengganti baju saya dengan pakaian operasi. Kateter belum dipasang karena permintaan dari saya, saya minta kateter dipasang saat saya sudah dibius.

Jantung berdetak sangat cepat rasanya, bayangan-bayangan ketakutan sesar yang pertama muncul, meskipun suami selalu menenangkan saya. Tepat pukul 06.40, dua orang perawat membawa saya ke ruang operasi. Rasanya begitu masuk ruang operasi seperti flashback, cuma saya sedikit tenang, karena tak melihat kepanikan para tenaga medis di sana seperti operasi saya yang pertama dulu, ya tentu berbeda dulu adalah operasi darurat dan berkejaran dengan waktu.

Pukul 07.40, ada pasien lagi yang juga akan disesar, saya pikir karena saya yang masuk duluan saya yang duluan ternyata ibu tersebut yang justru masuk di ruang operasi. Jantung rasanya makin berdebar, hanya dzikir dan doa mohon keselamatan dan kesehatan yang saya lakukan.

Sekitar pukul 07.45 saya benar-benar masuk di ruang operasi, mungkin ruang yang sama dengan 15 bulan yang lalu, terdengar alunan musik. Tak berapa lama dokter Soffin masuk, "sudah siap ya bu?" Itulah kalimat pertamanya. Saya menjawab "In shaa Allah dok".

Setelah menunggu beberapa saat, dokter anestesi datang, saya didudukan, dan daerah punggung disuntik bius. Rasa hangat dan kesemutan mulai terasa di kaki saya sampai kemudian rasanya kebas. Saya tak merasakan apa-apa. Sampai kemudian dokter Soffin bilang "lahir ya, Bu". Di situ saya merasa takut karena tak mendengar suara tangisan bayi, saya tanya "sehat dok?", "In shaa Allah, tunggu ya bu sedang disedot agar bayinya menangis", jawab dokter. Tak berapa lama kemudian datanglah seorang tenaga medis, "bayinya besar dok, 4,4".

Itulah pertama kalinya saya melihat adik mendengar tangisannya, masih ada lemak-lemak di tubuh dan rambutnya. "Ibu, IMD ya... kalau ibu merasa pusing atau apa ibu bilang karena bayinya besar". Saat itu pula adik diletakkan di dada saya, meski tak lama mungkin hanya 5-10 menit, karena kemudian saya merasakan sesak nafas. Adik kemudian dibawa.

Saya kemudian dibawa ke ruang perawatan pasca sesar, rasa sesak nafas masih terasa, selang oksigen masih menemani, rasanya seperti ngefly, antara sadar dan tak sadar, saya berusaha menggerakkan kaki yang masih kebas, sempat memanggil perawat (?) karena masih terasa susah bernafas meskipun sudah pakai selang oksigen.

Tak berapa lama saya dipindah ke ruang perawatan. Rasa bahagia karena kelahiran adik dengan selamat rasanya seperti ternoda, saat suami bilang adik tidak bisa dirawat gabung dulu karena adik di ruang PICU NICU (Pediatric Intensive Care Unit)(Neonatal Intensive Care Unit) karena berat badannya yang tergolong besar adik diobservasi dan dinyatakan kekurangan gula darah/ glukosa (hipoglikemia), jadi harus diberi sufor/ PASI (Pengganti ASI). Sebagai orang yang selalu mengkampanyekan ASI ini rasanya kayak pukulan telak, meskipun dengan indikasi medis, rasanya tak rela. Suami bilang akan diberi sampai gula darahnya normal, dan saya masih bisa menengok adik di sana sambil disusuin. (Glukosa darah yang rendah/ hiploglikemia adalah salah satu alasan dibolehkannya pemberian PASI (Pengganti ASI) karena termasuk indikasi medis).

Posisi saya duduk pun belum bisa, apalagi jalan. Sampai siang rasa ngefly karena obat bius masih terasa. Belum ditambah rasa nyeri dijahitan setiap kali batuk. Hanya foto-foto adik yang bisa saya lihat.

Sabtu, 18 April 2015
Semalaman saya belajar miring kanan-kiri, berharap kateter dan infus segera dicabut. Saat visit, dokter Soffin bilang perut saya kembung kurang gerak, biar sakit harus dilawan. Semangat saya cepat bisa jalan adalah agar bisa ketemu adik.

Sekitar jam 10.00 kateter dan infus saya sudah dilepas. Saya sudah bisa duduk. Seorang fisioterapis datang, mengajarkan saya gerak sampai duduk.

Sore yang tadinya adik sudah bisa digabung dengan saya, batal karena adik muntah (hal yang wajar untuk bayi yang baru lahir), melihat foto adik dipasang selang dimulut, sedih. Apalagi ASI saya belum keluar, mencoba konsultasi ke teman semua terdengar klise, tak membantu sama sekali.

Sebuah keajaiban terjadi, saat adzan Isya, tanpa bantuan siapa pun saya berusaha bangun dan berjalan. Ajaib!! Saya tak merasakan sakit apapun, saya lansung berjalan. Padahal dulu saat sesar pertama, jangankan jalan, berdiri rasanya perut mau jatuh, melangkah pun tak bisa, hampir dua minggu BAK dan BAB di pispot, dibersihin suami!! (Semoga surga sebagai balasannya untukmu kelak, sayang, terima kasih atas semuanya). Dan kini saya berjalan dengan mudah, Alhamdulillah, suami yang baru saja masuk kamar pun kaget saya bisa langsung jalan. Saat itu pula saya minta kursi roda saya mau lihat adik. Sempat kesal karena sama perawat saya harus makan dan minum obat dulu baru boleh mengunjungi adik.

Inilah pertama kalinya saya bertemu adik setelah IMD kemarin, menyusui pertama kalinya, meskipun ASI belum keluar. Adik yang kata perawat nangisnya malu-malu, malam itu menangis kencang saat saya harus kembali ke ruang perawatan. Tangis saya pun pecah. Suami selalu bilang "jangan nangis jangan sedih nanti ngaruh ke ASI".

Minggu, 19 April 2015
Pukul 06.00 pagi saat saya baru saja keluar dari kamar mandi ternyata dokter Soffin sudah visit. "Lho ibu sudah bisa jalan-jalan, ini kalau mau pulang hari ini pun sudah saya ijinkan", begitu kata dokter saat melihat saya jalan dari kamar mandi.

Saya sebenarnya ingin sekali pulang, tapi kegalauan saya adalah ASI yang tak kunjung keluar. Saya berusaha tenang, tapi perasaan memang tak bisa dibohongi.

Siang hari ternyata adik Bena sudah boleh rawat gabung dengan saya, ada perawat bayi yang bilang agar saya makin intens menyusui untuk merangsang keluarnya ASI. Tantangan berikutnya adalah keluarga, ibu selalu ribut minta dikasih sufor takut adik kelaparan, setiap adik menangis.

Ada satu momen malam-malam ibu maksa bawa adik ke ruang perawatan bayi, tak berapa lama perawat datang membawa adik dan bilang "Bu, kalau dikasih sufor nanti adik ga mau menyusu karena udah kenyang". Legaaaa hati saya.

Malam itu adik tetap di ruang perawatan, karena pipis dan sudah malam untuk dikembalikan ke ruangan saya.

Senin, 20 April 2015
Semalaman saya susah tidur, selain karena terganggu batuk yang membuat bekas operasi sakit juga saya galau, ingin pulang tapi ASI belum keluar. Saya memutuskan pulang, saya bilang suami saya mau pulang, dan suami memberi semangat ke saya, bahwa harus optimis ASI pasti keluar.

Pagi-pagi saat sekitar pukul 05.00 pagi, adik dibawa kembali ke ruangan saya, saat dokter Soffin visit beliau mengijinkan hari ini pulang. Tinggal nunggu keputusan dokternya adik, dr. Oktora Wahyu Wijayanto, Sp. A., untuk melihat kondisi adik. Sekitar pukul 08.00 saya menyusui adik lagi, setengah jam kemudian dokter Oktora visit dan melihat kok sepertinya adik kuning, perlu tes. Saat itu pula adik tes untuk cek billirubinnya. Sambil menunggu hasil lab. semua packing sudah siap pulang. Tapi apa yang terjadi, hasil lab menunjukkan billirubin adik 16, di atas batas aman (batas aman 11) adik tidak bisa dibawa pulang harus dibawa ke ruang PICU NICU lagi untuk fototerapi. Tangis saya kembali pecah, apalagi mendengar adik menangis, meskipun kata perawat itu wajar awal-awal bayi tidak nyaman jadi menangis. Saya yang diminta untuk jangan menangis. Satu hal yang membuat saya semangat adalah seorang perawat bilang adik gumoh dan gumohnya itu ASI bukan PASI, jadi sebenarnya ASI  saya sudah keluar.

Hari itu saya memutuskan tidak pulang ke rumah, saya mencari penginapan di Solo, menghubungi konselor laktasi AIMI, jujur sebelum sudah sempat pesimis karena sebelum-sebelumnya sudah sempat mencoba berkonsultasi dengan orang-orang yang pro ASI tapi jawabannya klise, seperti bayi tahan 3 hari tanpa asupan apapun, saya mesti terus susui. Masalahnya yang saya hadapi tak seteoritis itu, syukurlah saya ketemu KL Aimi, Mbak Ludo. Saya sharing, sampai akhirnya saya memutuskan power pumping, sebelumnya saya minta ijin suami, ijinkan saya menangis setengah jam aja habis itu engga menangis lagi. Meski tak sampai setengah jam, waktu itu saya habiskan untuk menangis biar lega. Saya pumping terus. Sampai sekitar waktu solat Isya saya liat mulai ada tetesan meski belum bisa ditampung, saat itu juga saya terus konsultasi dengan Mbak Ludo.

Selasa, 21 April 2015
Sepanjang waktu saya terus berusaha pumping, keajaaiban kedua saya dapatkan. 1.5 jam pumping tiba-tiba saja sudah terkumpul 30ml, meskipun itu jauh dari kebutuhan adik saat itu (saat difototerapi kebutuhan cairan meningkat 2-3x lipat apalagi BB adik tergolong besar), saat itu juga saya antar ke RS.

Air mata saya kembali meluncur saat melihat adik, dan untuk kesekian kalinya, adik yang tadinya diam tiba-tiba menangis saat saya pamit pulang, hati ibu mana yang tak sedih.

Hal luar biasa yang sudah dilakukan suami untuk saya, malam-malam rela mengantar ASI yang hanya 30ml ke RS demi menyenangkan dan menenangkan hati saya. Saya tau itu.

Rabu, 22 April 2015
Setelah melihat hasil lab, billirubin adik turun dan diijinkan untuk dibawa pulang. Perjuangan!! Jarak tempuh normal dari rumah-RS itu 2 jam, dan karena sama adik kemarin sampai 5 jam, karena beberapa kali adik menyusu sampai 1.5 jam.

Tentu ada yang bertanya, sendeso itu kah rumah saya sampai jauh banget RS-nya, engga ada RS?. Hahaha. Kalau mau dekat rumah pun ada, tapi dari awal saya mencari RS yang pro ASI, kenapa? Sekuat-kuatnya saya lingkungan saya masih kurang sadar tentang ASI, masih banyak mitos yang dipercayai juga, dari busui yang tak boleh makan pedas, minum panas, dsb.

Senin, 27 april 2015
Saat kontrol ternyata berat badan adik turun lebih dari 10% BB lahir. Kata dokter Oktora mau dilihat kontrol berikutnya, karena dulu hari kedua kelahirannya sempat muntah, semoga itu penyebabnya.

Kini tugas besar saya sebagai ibu masih panjang, berada di lingkungan yang masih percaya mitos itu tantangan besar, LDR dengan suami.

Harapan saya hanya adik selalu sehat, jadi anak salihah yang pintar dan berbakti pada orang tua, agama, dan negara. Dan pastinya seperti nama yang kami berikan, berdoa agar adik menjadi perempuan yang bijaksana, yang bersinar, yang berakhlak seperti Siti Maryam.

Doakan adik Bena sehat terus ya...

Giriwoyo, 2 Mei 2015
18:32

Sabtu, 11 April 2015

My Second Pregnant (11)

Alhamdulillah, udah masuk 36 minggu. Setelah sebelumnya berhasil jaga BB engga naik, kemarin eyang datang sama keluarga bulik Cety yang berarti banyaaaaaaak sekali makanan, BB langsung naik aja dong 2 kg dan BB adik naik jadi 300 gram. -_-

Berasa setiap berjalan setiap orang ngeliatin mulu, ada beberapa yang nanya udah berapa bulan? Yang paling nyes pas dikira kembar saking gendutnya ini perut, wkwkkwwk, mana yang nanya pakai bandingin ke perutnya.

Beberpa hari terakhir sebelum kontrol kemarin, body udah ngerasa pegelnya beda, kalau udah pegel bagian pinggang rasanya kayak menjalar sampai ke perut bagian bawah, dan perut seluruh perut rasanya kenceng banget. Udah kalau gitu serba salah, pengen minta usap-usap punggung biar agak enakan malah jadi bikin kuatir orang tua, engga diusap-usap asli pegelnya. Mana udah bawaanya mau manggil bidan, aduuuh traumanya bikin pengen nangis lagi. Maaf bangeeeet, saya trauma sama bidan. :'(
Selain itu sempat beberapa kali bengkak kakinya.

Nah, pas periksa kemarin, meskipun dapat antrian no.1 sempat disela pasien rawat inap lagi, pasien juga tumben banyak, dokter ada tindakan pula. Begitu masuk ruangan, wajah dokternya udah keliatan capek meskipun tetep ramah seperti biasanya. Pas mau lihat wajah adik udah engga bisa, karena udah masuk panggul. Terus pas nanya-nanya keluhan di atas jawabannya itu emang kontraksi palsu, hari itu dokter engga banyak omong kayak biasanya deh. Hiks. Terus mau sc tanggal 23 April, tapi ibu takut kelamaan, jadi minta tanggal 17 April aja, dokter bilang "In shaa Allah  bisa" gitu terus, tapi tanggal 16 Aprilnya kontrol lagi dulu buat ngecek.

Makin kesini makin deg deg kan, sebenarnya deg deg kannya kalau udah ngomongin proses SC atau bengong atau malah denger kelahiran bayi yang sebaya. Ini anaknya teh Aas dan Agung udah lahir, makin deg deg kan gitu. Selalu dan selalu berdoa semua akan baik-baik aja. Aamiin.

Sekarang ini cuma berdoa dan pasrah, semoga semua bisa berjalan lancar, adik lahir sehat, selamat, sempurna, engga kurang suatu apapun dan diberi umur panjang. Aamiin

Sehat, selamay, sempurna terus ya adik sayang.

Giriwoyo, 11 April 2015
03:57

Jumat, 10 April 2015

Surat untuk Bidadari #24

Hari ini Jum'at Wage 10 April 2015, 15 bulan yang lalu hari, pasaran, dan tanggal yang sama dengan pas kakak lahir :')

Hari ini pertama kalinya, ibu tak menitikan air mata sedikitpun saat mengunjungi makam kakak.

Dan di hari ini, doa terbaik terus ibu panjatkan untukmu sayang, bidadari ibu, Aisha.

Giriwoyo, Jum'at 10 April 2015
22:55

Sabtu, 04 April 2015

My Second Pregnant (10)

Sebenarnya tanggal 2 April kemarin belum jadwalnya kontrol, cuma dari jadwal kunjungan sebelumnya dokter sempat bilang kalau pengen mantep datang juga engga apa-apa. Jadilah ibu alias eyang putrinya kakak Aish dan adik Bena bilang udah kontrol aja.

Dan seperti sebelumnya karena pendaftaran bisa via sms, telepon, atau wa, Alhamdulillah bisa dapat no. 1 lagi. Walaupun begitu tetep jam 5 teng pagi berangkat, maklum perjalanan 2 jam, sampai sana seperti biasa daftar, bayar, dan sarapan dulu. Hari itu banyak pasiennya, mungkin karena Jum'at libur kali ya, jadi banyak yang maju jadwal kontrolnya. Ibu-ibu muda yang perutnya udah membuncit dari muka seger sampai kucel semua (termasuk yang nulis ini :p), apalagi hari itu dokternya ada tindakan walaupun cuma 1.

Begitu masuk, harap-harap cemas karena BB adik kemarin yang naik drastis, walaupun tadi BB ibu tetep ya. Alhamdulillah masih di angka sama seperi minggu kemarin nambah beberapa puluh gram saja (sukses seminggu diet gula dan karbo :D). Dan mulai berdiskusi lah sama dokter. Senengnya dokter tahu lho harusnya kontrolnya minggu depan jad engga dikasih resep lagi, trus seneng-seneng sebelnya, kasusnya masih sama, karena sikap keparnoan. Kan berasa maju kena mudur kena, pengen lahir uk 37 minggu baca-baca kok masih beresiko gagal nafas, nunggu 38 minggu takut adik bayi makin gede kalau overweight resiko juga ke depannya buat adik. Terus ya gitu dokter bilang, engga bisa kayak gitu semua lihat di lapangan, kenyataan, fakta. Misal aja sekarang udah ada tanda-tanda misal ketuban pecah, ada lendir, sering kontraksi ya sekarang juga harus sc, kalau ngikut teori nunggu berapa minggu ya bisa "bablas" ibu dan bayi nya. Intinya disuruh move on dari kasus kakak Aish, sekarang ikhtiar soal hasil serahkan Allah sekarang ngikutin prosedur dulu.

Jadi yaa tetep dicari waktu terbaik buat sc, tadinya sih masih berharap hari Jum'at sc nya, pengennya tanggal 17, tapi karena tadi jadi pasrah aja, kita lihat hasil kontrol tanggal 9 nanti. Kapan akan sc nya.

Daaan, gara-gara berhasil diet gula dan karbo jadi deh habis itu kayak cheating day, makan timlo plus kulit ayam dan es beras kencur. Ampuuun, mana setelah itu besoknya bulik Cety sekeluarga nganter Eyang ke rumah, daaaan di rumah full makanan. Aduh duh gimana lagi. Hope, jangan sampai naik lagi BBnya kalau naik 0.5kg aja deh buat ibunya, adik please jangan lebih dari 200gram.

Oh ya, sekitar daerah jahitan yang kanan sakit banget, kayak ketarik kata dokter ya karena makin gede, trus 2 hari ini ganti yang kiri yang sakit. Apapun engga apa-apa sakit, yang penting adalah adik engga apa-apa, lahir sehat, selamat, engga kurang apapun. Aamiin :)

Giriwoyo, Sabtu 4 April 2015
22:58

Jumat, 27 Maret 2015

My Second Pregnant (9)

Alhamdulillah... sekarang sudah sampai di minggu 34. Masih sekitar 3-4 minggu lagi, makin deg deg kan, jujur makin agak parno karena bayangan masa lalu. Selalu berdoa, berdoa, dan berdoa itu bisa dilakukan.

RSU PKU Muhammadiyah Solo bikin terobosan baru, sekarang daftar bisa lewat telepon, sms, atau wa, mulai launching tanggal 23 Maret kemarin. Nah, karena saya ngincer antrian no. 1 dari pagi nyoba wa dan sms kok ga bisa-bisa, telp ke no ext. nya juga sibuk terus, hopeless gitu deh. Eh, pas buka facebooknya ternyata sms dan wa belum bisa, bisanya lewat telepon. Yaudah nyoba telepon yang nomor handphone bukan yang ext. eh bisa dapat urutan nomor 1. Alhamdulillah.

Kenapa ngincer no. 1? Ya pasti lah dimana-mana pengennya yang dilayani pertama, wkwkwk... dokternya suka telat kebayang kalau urutan nomor sekian makin lama aja nunggunya, makin capek dan suka ngeblank pas udah giliran periksa tadi mau nanya apa. Mulai kemarin periksa hari Kamis, engga tau perasaan apa gimana 2x periksa hari Jum'at antrinyaaaa panjaaaang, plus selalu dokternya lagi tindakan, lebih dari 1 pula,  pernah 3, jadi kadang mulai periksa pasien jam 10an dan buru-buru kesannya.

Nah kemarin hari Kamis, dateng jam 07.20 masih sepiii banget, jadi begitu bayar administrasi sarapan dulu, balik jam 08.00 an juga masih sepi, kata perawatnya sih  engga ada tindakan, pas periksa tensi normal 110/80, BB naik 2kg.. ya ampuuun 2 minggu 2kg aja.

Jam 09.00 kurang dokternya baru datang, karena ada pasien rawat inap yang harus kontrol juga, ngalah deh, mana lamaaa periksanya 20 menitan lebih. Sabaar sabaaar sesama  bumil hihihi...pasien hari itu juga dikit lho... jangan bener deh favorit orang periksa hari Jum'at.

Daaan yang bikin ngeblank begitu periksa, berat adik di usia 34 minggu udah 3kg ajaa... padahal normalnya 2-2.5kg, dooh langsung was was, dokter sih bilang engga apa-apa tapi emang gendut, dibilang engga apa-apa karena memang nanti tindakannya juga sama, cuma dimajuin kalau emang ibunya engga kuat, yang tadinya jadwal sc tanggal 23 April, jadi antara 16-23 April, dan pokoknya sewaktu-waktu kenapa-kenapa langsung opname. Gimana ga worry, walaupun dokter bilang engga apa-apa terus.  Pokoknya berserah sama Allah banget, yang penting adik lahir sehat, selamat, sempurna engga kurang apapun.

Oh iya, di sini ternyata engga bisa booking kamar, bisanya minimal 1 jam sebelum masuk UGD, soalnya didahulukan yang emergency.

Jujur nih, jadi was was walaupun suami selalu bilang jangan stres jangan panik. Secara fisik sendiri udah mulai engga nyaman kalau naik mobil jalan ajut-ajutan pasti perut tegang gimana gitu. Jadi suka deg deg kan. Pokoknya sekarang mah isinya cuma doa,doa, dan doa terus. Karena sekali lagi semua bisa pasti karena ijin Allah.

Rencana sih, mungkin pilih tanggal 17 April aja, kata dokter sebenarnya dari segi BB sudah memenuhi tapi dari UK belum, paling baik di UK 38, tapi di 37 juga engga apa-apa, kita lihat perkembangannya aja dulu. Minggu depan in shaa Allah kontrol lagi, sebenarnya sih 2 minggu lagi engga apa-apa, cuma kayaknya liat mukaku yang lansung tegang gitu, bilang minggu depan kontrol lagi aja engga apa-apa biar tenang. Hehehe..

Adik Bena, sehat terus ya sayang... lahir sehat, selamat, sempurna engga kurang apa-apa, dan panjang umur.

Love you

Giriwoyo, 27 Maret 2015
18.35

Minggu, 15 Maret 2015

Surat untuk Bidadari #23

Assalamu'alaykum kakak Aish...

Kemarin kedua kalinya ya sayang ibu dan ayah, bisa datang ke tempat peristirahatan kakak. Meskipun yaa tanpa ibu datang setiap bulan kesana, in shaa Allah ibu tak pernah lupa mendoakan kakak Aish.

Kita masih punya rahasia ya sayang? Nanti akan tiba waktunya semua tahu. Apapun keadaannya nanti, mungkin saat surat untuk bidadari tak lagi rutin ibu tulis atau keadaan apapun, percayalah sayang, cinta ibu ke kakak, rasa sayang ibu ke kakak, rasa rindu ibu ke kakak tak kan pernah berkurang. Kakak adalah bidadari ibu. Malaikat yang dikirim Allah untuk ibu meski hanya sesaat secara fisik tapi karena kakak lah ibu banyaaaaak belajar tentang apapun. Tentang cinta, tenang keikhlasan, tentang kehilangan, tentang kerinduan, tentang agama, semuanya sayang.

Karena itu ibu selalu dan selalu berdoa kakak bahagia di surga, kakak on shaa Allah sekarang ada dalam pengasuhan nabi Ibrahim dan Ummu Sarah, ibu selalu berdoa kelak kita semua dapat berkumpul dengan kakak di surga. Aamiin.

Kakak Aish... kadang ibu masih terlalu emosi saat merindukanmu, maafkan ibu sayang. Merindukanmu tanpa bisa melihat dan memelukmu itu rasanya seperti ribuan jarum menusuk dada ibu. Ibu berharap kakak engga sedih ya... ibu tau kakak engga akan suka melihat ibu sedih dan menangis. Ibu terus berusaha sayang :*

Sayang, kakak Aish... teruslah bahagia di surgaNya ya sayang, tetaplah ingat ayah dan ibu. Semoga kelak, dengan ijinNya kita akan berkumpul di surgaNya, Aamiin.

Ibu selalu merindukan dan mencintaimu sayang.

Minggu, 15 Maret 2015
23:25

My Second Pregnant (8)

Jum'at tanggal 13 Maret kemarin, ibu dan ayah datang lagi untuk kontrol. Seperti cerita sebelumnya, perubahan fisik mulai terjadi (selain soal berat badan yang nambah ya) seperti sudah sekitar semingguan ini ibu kadang terasa sesak nafas, perut lebih berasa berat, dan seperti sebelumnya, area bekas operasi caesar ke bawa ngilu. Bahkan Jum'at Shubuh di tengah tidur ayam itu ibu merasa berat sekai untuk nafas.

Tapi saat periksa, belum sempat ibu menceritakan setiap detail yang ibu rasakan, dokternya sudah menebak rinci semua dari masalah sesak nafasnya, perut yang sering terasa kencang dan keras, sampai ngilu bagian bawah, dokter bilang normal, karena semakin besarnya adik di perut, everything is ok, darlaa :*. Dokter bilang ibu harus tenang,rileks, jangan stres biar engga sesak nafas, trus tidur dengan setengah duduk, atau tidurnya miring ke kiri.

Daaaan jarak 5 minggu dari kontrol kemarin, di usia kandungan 32 minggu ini, berat ibu nambah 4kg, dan adik naik 1200 gram, ini wooow, range pertambahan kata dokter 800 gram-1000 gram tapi kemarin dokter bilang engga apa-apa dengan kondisi yang sekarang. Pas di USG, adik nutupin pakai tangan, eh ya... ibu kok merasa sekilas adik buka mulut dan sempat meletin ibu ya.. entahlah. Apapun itu, ibu cuma berharap adik lahir selamat, sehat,engga kurang suatu apapun, dan panjang umur. Aamiin.

Dua minggu lagi jadwal kontrol lagi, sepertinya sudah mulai masuk kontrol 2 mingguan karena udah masuk 8 bulan toh, ada rasa deg deg kan ada rasa khawatir, dari rencana caesar tanggal 23 April ibu minta tanggal 24 April karena pengen hari Jum'at. Semoga rencana kita dilancarkan dan diridloi Allah ya sayang. Aamiin.

Oh ya, seperti biasa, ada aja yang agak gimana gitu denger ibu caesar, ngerti sih gimana orang-orang memandang, pengen yang praktis mungkin begitu, buuut mereka kan engga tau riwayat ibu. Caesar beda sufor, artinya melahirkan caesar adalah kondisi darurat, yang mungkin ada sih yang karena merasa engga sakit, padahal kata siapa caesar engga sakit. Kalau kasus sufor itu kan masalah klasik yang orang cepat ambil jalan pintas tanpa cari penyebabnya. Makanya ibu sih santai aja ntar kalau ada yang komen kok caesae, yang penting ibu akan berusaha sekuat tenaga harus ASI no sufor. Karena sekarang di pikiran ibu apalah artinya melahirkan normal, tapi habis itu dikasih sufor. Padahal udah jelas UU mengenai sufor. :p

Soal VBAC (vaginal birth after caesarian) atau melahirkan normal pasca caesar, dokter dulu pernah bilang mengijinkan kok, cuma karena kasus yang pertama dulu, dokter bilang lebih baik caesar. Dan ibu kok jadi takut untuk vbac, ayah yang tadinya pengen vbac juga sekarang agak-agak worry, karena vbac juga bukan tanpa resiko lho, harus bener-bener ada pendampingan.

Oh ya ibu kayaknya harus ngerem karbo atau gula-gula, emang sih dibanding hamil kakak dulu, pas hamil adik nih bisa dibilang minim ngemil, cuma maunya yang manis-manis. Buat jaga BB adik biar engga obes.

Sehat, selamat, sempurna ya sayang.
We love you

Giriwoyo, Minggu 15 Maret 2015
23:11

Senin, 02 Maret 2015

Online Shop

Perempuan mana sih yang engga suka belanja? Hihihi... eh ada deng, tapi pasti kebanyakan yang namanya perempuan pasti kebanyakan suka belanja. Di jaman sekarang, belanja engga perlu lagi harus langsung ke toko atau mall, duduk manis atau malah rebahan cantik bisa tinggal nunggu barang datang. Yup, online shop, kali ini saya mau cerita soal warna-warni pengalaman bertransaksi dengan online shop.

Pertama kali belanja online shop itu 5 tahun lalu, waktu itu order sepatu handmade, masih inget nama online shopnya Chiloeshoes Shop, lokasinya di Bandung. Oh ya dulu sih instagram belum ada ya, jadi online shop ini di facebook. Hasilnya memuaskan, sepatunya juga masih ada sekarang.

Pernah ketipu? Pernah -_- sepatu juga, lupa nama akunnya apa yang jelas masih ada tuh di facebook, sama kayak sebelumnya sistemnya PO, waktu itu DP Rp100.000,00 awal-awal dia ngulur waktu sampai engga ada respon, dia sih alasannya kena tipu juga sama suppliernya. Gondok banget sih waktu itu. Tapi yasudahlah. Eh ya, dulu tuh masih jarang ditemukan penipuan-penipuan kayak sekarang. Banyaaak banget OS terpercaya, ada 1 OS bahkan sering ngasih saya bonus karena sering belanja, sayangnya sekarang udah ga ada itu OS, kemarin pas iseng buka akun facebook yang lama kan masih ada tuh pesan-pesan dari jaman dahulu kala, itu OS jadi akun OS handphone gitu.

Dulu tuh kalau udah di OS itu, ituuu terus karena nyari yang terpercaya kan? Nah sekarang OS tuh banyak banget, jadi engga punya sih langganan tetap di siapa gitu,  semua udah pernah nyoba satu satu dan engga selalu saya di situ terus, lagi pula sekarang udah engga jaman masih single dulu dimana hampir tiap minggu selalu belanja, sampai orang kantor hapal. Sekarang udah nikah, banyak kebutuhan walaupun kata suami saya masih doyan aja belanja, yaa pelan pelan ya...,hihihi namanya perempuan engga bisa liat barang lucu apalagi diskon.

Nah, ngomong-ngomong soal OS, sekarang tuh kayaknya lagi booming pakai pihak ketiga, yaa kalau tiket semacam travel agent gitu kali ya? Jadi di situsnya itu ada kumpulan os, sekarang sih yang lagi hits ya Lazada, tokopedia,olx (yang dulunya toko bagus). Di antara itu saya udah nyoba Lazada. Nah ini sih bukan penipuan ya, cuma sekedar share, mata pasti ijo kan yang namanya kalau ada tulisan DISKON. Nah setiap masuk situs Lazada alasan ini akhirnya bisa jadi rem buat saya belanja, apa ituu? Jadii tau engga sih diskon yang ada di Lazada itu sebenarnya harga aslinya (engga ada diskon), kenapa saya bilang gitu? Soalnya ada beberapa barang yang emang saya udah punya harganya sama kayak harga setelah diskon di Lazada. Mumet baca penjelasan saya? Wkwkwk..

Ok gini, ada pisau set di Lazada harga 200.000an di diskon jadi 100.000an, kita langsung ijo kan kalau engga tau. Sebenarnya harga pasaran pisau itu emang 100.000an. Di os lain yang bukan di Lazada juga jualnya segitu. Jadi sekarang saya engga laper mata gara-gara diskon di Lazada (amanlah ini atm). Hahahaaa...

Mungkin ini dulu kali yaa yang dishare... hihihihi kapan-kapan share os-os nya...

Giriwoyo, Senin 2 Maret 2015
13:32

Jumat, 27 Februari 2015

My Second Pregnant (7)

Kali ini saya akan bercerita mengenai kebiasaan di dua kehamilan saya termasuk masalah ngidam, yaa meskipun ngidam jadi bahan pertentangan ya karena di dunia medis engga ada yang namanya ngidam.

Kehamilan pertama.
Inget banget, waktu itu belum tahu kalau sudah hamil, cuma feeling aja, tiba-tiba pengen jagung bakar serut pas jaman kuliah di Semarang dulu, di jalan Kusumawardani kalau ga salah nama jalannya. Untung waktu itu di Indramayu ada, cuma dibeliinnya engga diserut dan rasanya beda.

Terus pengen nasi opor Kuning yang dibungkus daun Jati yang jual cuma ada di Giriwoyo *tepok jidat. Di bawain lah dan ajaib engga basi, cuma Bapak bilang "jangan pengen yang aneh-aneh lagi ya".

Pengen gulai otak dan steak Holycow,ini yang ga kesampaian. Pernah juga jam 2 malem pengen nyium aroma mie ayam yang pas direbus di panci.

Berat badan sempat turun 3kg, gara-gara bener-bener muntah terus kalau makan, sampai sempat diopname semalam. Dan bener-bener pusing jadi kerjaan cuma rebahan terus di kasur. Oh ya benci banget bau suami, pulang kerja bau keringet pusing, udah mandi bau sabunnya pusing, parfum juga sama, makanya pakainya di luar rumah. Daaan ga mau deket-deket suami, jadi selama hamil tuh tidur beda kamar. Wkwwkwkwk... sempat liat obrolan para suami yang istrinya juga lagi hamil ternyata ada yang ngalamin juga ga mau deket-deket suami.

Oh iya, selera makan bedaaaa banget, Padang banget, sering banget makan masakan Padang dan harus ekstraaaaa pedaaaaas, suami yang doyan pedas aja sampai engga doyan saking pedasnya makanan saya. Pernah malem-malem pengen tempe goreng yang dipenyet di sambal bawang. Itu saya pakai rawit setan 10, padahal biasanya 3 aja udah huuh haah huuuh haaah. Pokoknya harus pedes. Pada prediksi anaknya cowok, tapi engga tuh. :p Almarhumah kakak Aish wajahnya mirip ibunya tapi selera makan ikut ayahnya.

Kehamilan kedua
Mual di trimester awal sama sih, cuma masih bisa ngapa-ngapain. Awal-awal malah kenal flu batuk sampai 3 mingguan, meskipun mual muntah, makanan masih masuk. Jadi makan-muntah- ya makan lagi hihihi.

Ngidam? Apa yaa kayaknya engga ada yang khusus, eh pengen bebek ireng cak Baz deket kosan waktu kerja dulu, daan bete banget nyoba order lewat fb dibaca doang ga ada tanggapan, akhirnya dibeliin salah satu temen ODOJ, Adiak Pipit diimpor langsung dari Depok. Terus dibawain mamah mertua juga. Hihihihi..

Nah kalau kakak Aish Padang banget, ini adik Jawa banget, jadi ceritanya suami inisiatif minta dibawaih gulai otak gara-gara dulu pas hamil kakak Aish pengen gulai otak ga kesampaian, yang ada saya eneg banget, tapi gimana udah dibawain mamah ga enak lah udah dibawain dari Bogor engga dimakan, makannya langsung ditelen kalau dibayangin soalnya geli hahahaha.

Terus kalau dulu cinta mati sama cabe, sekarang adik maunya yang manis-manis. Jadi engga heran ini berat badan kayaknya lagunya Anggun... melambung tinggi...

Pokoknya manis dingin, terus kalau itu ya ituuu terus sampai bosen, pernah pengen pisang ijo, beli terus seminggu sampai yang beliin eneg, terus nasi opor kuning daun jati seminggu lebih sarapan itu terus.

Oh ya sekarang ngidamnya masak atau bikinan sendiri. Jadi pengen kue apa gitu maunya bikin sendiri, pengen masakan apa gitu maunya bikinan sendiri, dan ajaibnya makanan -makanan ini adalah makanan yang pertama saya bikin tapi rasanya endang bambang surindang, bahkan suami bilang harusnya dijual.

Walaupu ada juga yang gagal tapi rasanya puas aja, pengen klepon bikin sendiri, pengen bubur candil, pengen bubur kacang ijo, kue lapis, proll tape, sampai siomay, ayam panggang, asam padeh sampai kue beras ala Korea alias tteokbokki. Semua homemade. Jadi kalau malam engga bisa tidur dan pusing kalau belum browsing resep dan nemu besok pengen bikin apa.

Nah, aneh juga kalau dulu engga mau deket suami sekarang maunya nempeeeel terua pakai haru biru nangis gtu kalau ditinggal, dan engga akan bisa tidur kalau engga ada suami disamping saya. Pokoknya bakalan mewek-mewek kalau ditinggal pergi padahal cuma futsal misalnya.

Kalau persamaanya, engga kakak engga adik ini suka banget bersih-bersih, jadi betah banget mainan sabun di kamar mandi, nyikatin kamar mandi, pokoknya rapih-rapih.

Apapun itu saya berharap adik selamat, sehat, sempurna, dan berumur panjang serta kejadian kakak Aish engga akan pernah terulang lagi, cuma itu harapan saya. Melihat dan mendidik adik dari bayi dan menyaksikannya tumbuh menjadi anak salihah. Aamiin

Giriwoyo, Jum'at 26 Februari 2015
21:49

Minggu, 15 Februari 2015

Kisah C3

Kali ini saya akan bercerita tentang handphone saya. Handphone atau hp saya ini, bulan Juli nanti genap berusia 5 tahun. Ini adalah hp pertama yang saya beli dari hasil keringat saya sendiri #tsaaaah.

Bulan Juli tahun 2000 adalah pertama kalinya saya mendapat gaji ke-13, para PNS pasti tahu apa itu gaji ke 13, ya semacam bonus tahunan yang di dapat di pertengahan tahun. Ibu saya selalu berpesan saat nanti kamu punya uang sendiri, gunakan gaji pertamamu untuk membeli sesuatu yang jangan pernah kamu jual buat kenang-kenangan. Karena gaji pertama saya sudah habis buat nutup ini itu karena 3 bulan pertama CPNS kan belum dapat gaji baru nanti dirapel. Akhirnya, gaji ke 13 ini lah yang saya pakai untuk membeli sesuatu itu.

Kalau engga salah saya beli hp ini (Nokia seri c3) ditemani salah satu rekan kerja di daerah cempaka emas, harganya sekitar 1,5 juta, waktu itu masih baru launching dan diklaim hp murah dengan fasilitas yang lumayan. Bisa bersocmed ria maksudnya.

Hp ini sendiri jarang sekali saya utak atik kecuali untuk telpon, sms, dan dengerin lagu  *tepok jidat. Percaya engga? Bahkan games bawaannya aja saya baru tamatih bulan November 2014 kemarin karena ditinggal suami dinas seminggu dan saya mati gaya bingung mau ngapain. Wkwkkwk.. Jadi si Bounce, Diamond Rush, dkk itu baru saya seriusin kemarin, ya pernah sih dulu-dulu main tapi cuma iseng.

Trus trus.. ternyata saya baru sadar, ternyata dulu sering bikin catatan di memo hp ini, biasanya kalau lagi ada bahan tulisan buat blog tau note di fb saya tulis, dan sepertinya belum pernah saya posting, nanti setelah posting ini saya akan posting beberapa tulisan yang masih tersimpan di memo.

Ternyata benar ya tulisan adalah salah satu lorong waktu, pas tadi baca-baca lagi jadi ingat oh iya ini kan pas ngekos di sini, pas lagi ini, hihihi apalagi kalau liat tanggalnya ya ampuun udah mau 5 tahun aja.

Oh ya Alhamdulillahnya hp ini belum pernah rusak, lha makainya juga jarang, paling lama buat telponan sama ibu. Wkwkwwk.

Baik-baik ya hp, makasih udah setia menemani walaupun sering dijadiin cadangan karena hp baru yang lainnya. Hihihihi...

Giriwoyo, 15 Februari 2015
01:08

Kamis, 12 Februari 2015

Tanggung Jawab Orangtua terhadap Anak

Entah untuk yang keberapakalinya hati saya rasanya tak karuan, sedih, dan entah untuk yang keberapakalinya juga suami saya selalu dan selalu mengingatkan.

Hal yang juga sudah sekian kali saya tulis di blog ini, betapa masih banyak sekali masyarakat yang belum teredukASI, sadar akan pentingnya ASI.

Klasik memang, kadang orang bertanya? Apa salahnya dengan memberi sufor, kenapa engga dibalik pertanyaannya, apa susahnya memberi ASI? Kecuali indikasi medis yang menyebabkan tidak bisa. Tapiiiii.... hati kecil saya yang lain teriak, "Itu Karel Sultan Adnara bisaaa". Siapa Karel?

Karel adalah anak alm. Mbak Ratna dan Mas .. (aduh lupa namanya), mbak Ratna meninggal sesaat setelah melahirkan Karel, sesuai pesan mbak Ratna, Karel harus ASI. Jadi meskipun mbak Ratna meninggal, abinya Karel ini terus memberi ASI dari para pendonor ASI, engga mudah memamg, apalagi Karel tinggal di Tangerang kalau engga salah dan abinya di Bogor untuk bekerja, tapi berbekal tekad kemauan hujan panas semua tak ada artinya demi ASI Karel. Sekarang Karel umurnya kurang lebih 16 bulan dan tetap ASI tanpa sufor. Hebat kan? Abinya Karel pun tak asal menerima semua yang mau menyumbangkan ASI, abinya juga mendata semua, mencari info dari segi agama.

Hebat kaaan? Nah di sisi lain saya melihat banyak sekali orang yang saya kenal menyerah begitu aja, malas ke klinik laktasi tapi rela berjam-jam nyalon. Bisa lho ke salon demi facial, meni, pedi.

Jujur saya engga bisa sesantai kayak di pantai kalau istilah Karel. Sama seperti suami, itu pilihan mereka, biarlah mereka yang bertanggungjawan pada anaknya. Cuma jujur saya rasanya sedih banget, dulu melihat tetesan ASI saya menetes sia-sia, saya menangis di kamar mandi, kenapa masih keluar padahal udah sebulan, padahal engga di nenenin, padahal dokter  sudah memberi obat agar ASI nya berhenti. Sementara Aisha tak bisa tak kan pernah menyicip sedikitpun.

Saya menangis, sakit di dalam dan di luar. Ada teman yang mengalami sama seperti saya, kalau dia bahkan mau menyumbangkan ASInya tapi sang ibu  dari anak ini menolak. Makanya saya disaranin engga usah, takut saya lebih sakit lagi. Sakit menerima penolakan.

Yaa.. lagi-lagi itu anak, anak yang menjadi tanggungjawab mereka yang akan dimintai pertanggunggjawabannya kelak, saya ini engga bisa memaksa mereka satu jalur dengan saya, begitu selalu suami saya bilang. Biarlah, kalau perlu saya tak perlu membuka akun socmed kalau malah bikin sedih.

Saya cuma berharap, suatu hari nanti saat ada bayi mungil lagi hadir dalam kehidupan saya dan suami, semangat saya kekuatan dan keinginan saya untuk memberinya ASI tetap terus berkobar dan membara sama seperti saat ini.

Sekarang, saya hanya bisa terus dan menerus menambah ilmu untuk masa depan anak-anak saya kelak. Saya pernah membaca tapi aduuh lupa kutipan tepatnya, intinya yang pertama ditanyakan Allah itu tanggungjawab kita sebagai orangtua terhadap anak dulu daripada tanggungjawab anak terhadap kita. Misal anak berani melawan orang tuanya, ditanya dulu itu orangtuanya dulu ngajarin engga bagaimana harus bersikap?

Saya menemukannya sebelum kelahiran Aisha dulu dan selalu saya ingat-ingat, saya punya tanggungjawab besar terhadap anak-anak saya kelak. Sudahkah saya memberikan dan mengusahakan yang terbaik untuk anak saya?

Giriwoyo, Kamis 12 Februari 2015
00:21

Selasa, 10 Februari 2015

Surat untuk Bidadari #22

Assalamu'alaykum kakak Aisha..

Walaupun ibu pernah bilang, jika suatu hari nanti ibu engga nulis lagi Surat untuk Bidadari bukan berarti ibu melupakan kakak tapi rasanya kayak ada yang kurang aja kalau ibu engga nulis. Apa ibu belum move on? No no... ibu udah menerima kok sayang. Yaa... kalau kadang-kadang dan bisa dibilang hampir ga pernah nangis-nangis lagi kecuali saat ke makam kakak misal, atau ingat kakak, ataau liat foto anak-anak temen ayah ibu yang seumuran sama kakak. Itupun jarang udah sangaaat jarang ibu nangis karena ibu tahu kakak engga akan suka liat ibu sedih.

Beberapa waktu yang lalu ada seorang teman di facebook yang share tentang ini sayang,

# Hiburan Tuk Mereka Yang Mengalami ...#
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Dari Qurrah Al Mazni radhiyallahu 'anhu berkata:
Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam, apabila beliau duduk, maka
sekelompok sahabat duduk menemani beliau.
Dan di antara mereka itu ada seseorang yang mempunyai anak
kecil. Anak itu datang dari arah belakang bapaknya, kemudian ia
mendudukkan anaknya di hadapannya.
Kemudian Nabi shalallahu 'alaihi wasallam bertanya kepadanya,
"Apakah kamu mencintainya?"
Lelaki itu menjawab, "wahai Rasulullah, aku mencintaimu karena
Allah, sebagaimana juga aku mencintainya."
Tak lama kemudian, anak itu meninggal, sehingga menyebabkan
lelaki tersebut berhalangan menghadiri halaqah (majelis)
Rasulillah karena teringat anaknya dan sedih atas kematiannya.
Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam mencarinya dan bertanya,
"Kenapa aku tidak melihat si fulan?"
Para sahabat menjawab, " Wahai Rasulullah, anaknya yang
engkau lihat itu meninggal."
Maka Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam menemuinya dan
menanyakan kepadanya tentang anaknya. Sahabat itu
mengabarkan bahwa anaknya itu telah meninggal.
Beliau kemudian mengucapkan belasungkawa kepadanya dan
bersabda,
"Wahai fulan, MANAKAH YANG LEBIH ENGKAU SUKAI, APAKAH
ENGKAU MENGHABISKAN USIAMU DENGAN BERSENANG-SENANG
BERSAMANYA, ATAUKAH DI AKHIRAT NANTI ENGKAU MENUJU KE
SALAH SATU PINTU SURGA DI MANA IA TELAH MENUNGGUMU DI
SANA DAN MEMBUKAKANNYA UNTUKMU?"
Ia menjawab, 'Wahai Rasulullah, bahkan yang lebih kusukai ialah
ia menungguku di pintu surga kemudian membukakannya
untukku,"
Beliau bersabda, "Balasan itu untukmu."
Kemudian seorang laki-laki dari kalangan Anshar berkata, "Ya
Rasulullah, - semoga Allah menjadikanku sebagaui tebusanmu-,
apakah hal itu khusus baginya ataukah bagi kami semua?"
Beliau menjawab, "Bahkan untuk kalian semua."
*** Hadits ini disebutkan dalam buku : Panduan Praktis Hukum
Jenazah" karya Syaikh Al Albani bab Ta'ziah ***
---------------------------------------------
-------------
"Sesungguhnya di dalam surga pastilah ada sebuah pohon yang
memiliki (semacam) kantong kelenjar susu sebagaimana pada
kantong kelenjar pada sapi. Anak-anak kecil di dalam surga
mendapatkan makanan darinya..."(1)
"Putra-putra kaum muslimin (yang meninggal di waktu kecil)
berada di sebuah gunung di dalam surga. Mereka diasuh oleh
Nabi Ibrahim dan Sarah. Jika hari kiamat, mereka semua
dikembalikan orang tua mereka masing-masing" (2)
Dalam sebuah hadits yang sanad panjang,..."Kemudian malaikat
tsb berangkat bersamaku sampai aku menyaksikan anak-anak
yang sedang bermain di antara dua sungai. Aku berkata,
"Siapakah mereka?" Malaikat menjawab, " Mereka adlah anak
keturunan kaum mukminin (yang meninggal sebelum baligh) yang
diasuh oleh ayah mereka Ibrahim 'alaihis sallam.(3)
Dalam redaksi lain disebutkan ...lantas kami pergi sampai
akhirnya tiba di sebuah taman hijau. Di dalamnya ada sebuah
pohon besar. Di akarnya ada seorang laki-laki dan beberapa
anak-anak.(4)
---------------------------------------------
-----------
Mereka bahagia di sana....bacalah ini ketika kau
merindukannya...
---------------------------------------------
-----------
*Note:
Sumber : Buku Kehidupan Alam Kubur , Ibnu Rajab Al Hanbali
yang sudah ditahqiq oleh Syaikh Muhammad Al Sa'id ibn Basyuni
Zaghlu

Nah, kalimat yang hurufnya kapital itu yang semakin menguatkan ibu, karena ibu lebih memilih yang kedua, bersama kakak di surga kelak. :)

Sayang, doa ibu dan ayah selalu untukmu, semoga engkau bahagia di surga, menunggu ibu ayah dan semua yang kita cintai di surga kelak.

Giriwoyo, Selasa 10 Februari 2015
22:38

Minggu, 08 Februari 2015

My 2nd Pregnant (5)

Alhamdulillah... sekarang usia adik udah masuk 7 bulan, tepatnya 27 minggu 4 hari. Adik makin aktif gerakannnya bahkan bisa dibilang sangat aktif, sampai ibu pikir adik kembar, karena sering banget tendangan-tendangan  muncul di dua tempat berbeda.

Hari ini ayah pulang lagi ke Indramayu setelah hari Kamis kemarin nganterin ibu dan adik ke rumah eyang buat persiapan kelahiran adik nanti. Jum'atnya ibu dan ayah untuk pertama kalinya periksa lagi ke dokter Soffin, dan ibu sempat di"marahi" dokter Soffin karena ibu nangis ingat kakak Ais, ibu khawatirin adik. Ibu engga mau adik kenapa-kenapa.

Dokter Soffin bilang, ibu engga boleh sedih engga boleh menduga-duga karena itu engga boleh juga di dalam agama, dokter merencanakan sc adik nanti tanggal 23 April kecuali keadaan darurat misal ketuban pecah duluan sebelum tanggal itu. Ibu juga disuruh ngejae berat badan adik, semua boleh dimakan asal engga yang aneh-aneh semisal alkohol atau bakar-bakaran sebaiknyq dihindari. Berat adik kemarin normal, udah 1kg. Dan dokter juga bilang adik aktif banget gerakannya, semua bagus, in shaa Allah ntar engga apa-apa. Oh iya, ini pertama kalinya ibu usg 4D dulu pas kakak engga sempat karena kakak udah masuk panggul. Sekarang adik posisi sungsang tapi ibu engga usah khawatir karena nanti sc. Pas di usg ibu liat adik beberapa kali nguap, dan terakhir yang diambil pas adik senyum. Pertama liat ibu langsung bilang bibir adik mirip ayah. Yaah apapun mirip ibu atau ayah, yang terpenting adik selalu sehat dan selamat saat lahir nanti.

Adik sayang, sehat, normal tidak ada kekurangan sesuatu apapun baik lahir dan batin serta selamat ya sayang. Ibu, ayah, dan semua menunggu kehadiran adik.

Green Room, Minggu 8 Februari 2015
16:03

Kamis, 05 Februari 2015

Jualan

Seperti yang pernah saya ceritain sebelum-sebelumnya, keluarga suami saya ini jiwa pedagangnya kuat. Mulai dari suami, adik ipar, mamah, walaupun sudah ada pekerjaan tetap lainnya tetep aja jualan. Kebanyakan jualan makanan olahan sendiri, apalagi adik ipar saya, karena basicnya sekolah dan kuliah yang ada hubungannya dengan dunia kuliner dia sering jualan, kalau menjelang lebaram jualan kue-kue lebaran, terus terakhir ini dia jualan cireng.

Saya yang awalnya masak aja cuma sekedar syarat karena ada paham klasik yang mengatakan seorang perempuan harus bisa masak, tiba-tiba aja jadi kecanduan masak. Dan juri utamanya siapa lagi kalau bukan suami. Karena suami saya bukan tipe yang makanan amburadul pun dibilang enak, jadi yaa semacam chef Juna yang pelitnya minta ampun kalau mau bilang enak wwkwkkkwkk. Jangankan nyoba langsung, dia paling ilfil sama perempuan yang engga bisa masak hahhaaa. Pernah dia menstop cerita saya pas saya cerita soal ada yang masak kolak pakai kentang, substitusi yang aneh yang bikin suami saya eneg.

Saya yang tadinya masak standar aja, jadi seneng banget nyoba resep, dan jangan salah sering lho masakan saya ini engga disentuh suami, saya bete, pasti lah, cuma jadi semangat lagi buat bikin lagi.

Nah akhir-akhir ini udah beberapa menu suami saya selalu komen  "sayang dijual aja deh, ini layak jual, enak bentuknya juga udah layak kalau mau dijual", aduuh...jualan? Belum siap deh, maklum dengan karakter moody gini takut pas lagi bad mood ini makanan jadi amberegeul rasanya.

Cumaaaa... eng ing eeeeng... kok saya jadi semangat pengen jualan gini ya? Tak lain dan tak bukan karena suami, adik ipar, keluarga, eh ada temen yang udah terjun duluan di bidang enterpreneur pada nyemangatin buat jualan.

Pengen sih... aduuh jadi galau-galau geje deh... hahaha... habis saya masih menikmati hari-hari memasak dan bikin kue untuk keluarga aja, artinya mungkin ini yang disebut memasak dengan cinta, jadi do the best gitu tiap masak, nah kalau orientasinya jualan nih yang perlu diasah. Soalnya buat saya sekarang, sebagai orang awam di dunia memasak dan tiba-tiba ada di tahap masakan dibilang enak itu udah sueeeeeneeeng pooooll. Suami bilang, tantenya yang sekarang suka nyambi bisnis kering kentang, itu engga pinter masak dulunya, sekarang bisnis kering kentang, jadi saya pasti juga bisa, begitu katanya.

Ya Bismillahirrahmanirrahim... ngumpulin niat dulu buat semangat jualan :D

Rainbow House, Kamis 5 Februari 2015
08:03

Rabu, 04 Februari 2015

Selfie

Beberapa waktu yang lalu sempat heboh di dunia pertwitteran soal selfie dari Ust. Felix Siauw. Intinya sih salah paham gitu deh, saya engga mau ini :p, trus? Saya mau cerita aja soal selfie.

Saya pribadi memang doyan foto, beberapa tahun yang lalu. Dikit-dikit foto, bahkan kalau lagi suntuk di kantor, pakai camera laptop foto-foto selfie udah kayak alay dengan gaya senam muka dan bibir itu. -___-

Trus trus... suatu hari saya dicurhatin temen, intinya dia katanya disindir apa ditegur gitu sama orang karena sering upload foto anaknya, dia nanya pendapat saya salah engga sih kan kalau engga suka ya engga usah liat. Saya waktu itu jawabnya engga salah, soalnya saya juga seneng sih liat foto-foto anaknya.

Sebenarnya sudah berapa kali saya ditegur suami (eh waktu itu belum suami), "ngapain sih seneng banget foto-foto kayak gitu?", ya.. jawab saya ya suka aja. Setelah menikah, dan hamil saya pengen tuh mengabadikan foto kalau bisa mah per bulan terus kalau udah punya anak mau saya foto-foto saya matchingin bajunya dan sebagainya, belum sampai ngomong, suami udah bilang  "nanti kalau udah ada kakak jangan suka fotoin terua diupload kayak gitu, aku engga suka, buat apa sih? Biar dunia tau gitu". Saya cuma manyun waktu itu.

Waktu berlalu, Aisha, anak kami meninggal. Sejak peristiwa itu, seorang teman yang punya pengalaman mirip saya sudah bilang, "Afin sementara waktu jangan pernah buka socmed", beneran bahkan setelah beberapa bulan kemudian saya buka socmed, melihat foto bayi yang berseliweran di socmed jangankan foto bayi, foto pernak perniknya aja, hati saya sedih luar biasa. Saya tidak meyalahkan mereka, but now I know, ini mungkin salah satu alasan kenapa suami melarang segala apa diupload di socmed.

Kemudian, ada sebuah status dari seorang teman yang makin menohok dan pelajaran sekali buat saya, intinya tujuannya apa mengupload foto anak di socmed? Bisa jadi itu akan menyakiti yang lain, pasangan yang lama menikah belum punya anak atau yang baru kehilangan anak. Jleb sekali rasanya.

Kenapa? Karena saya tahu persis rasanya seperti apa, ok, mungkin satu kali dua kali tak apa, tapi maraknya akun socmed isi selfie anak itu sebenarnya untuk apa sih? Kalau saya pribadi, sekarang ini, perasaan saya jauh lebih kuat, saya juga suka kok ngeliat foto-foto bayi itu, cuma kalau inget beberapa bulan yang lalu, rasanya jujur tak sanggup. Ini yang jadi pengingat saya. Apa saya akan menyalahkan mereka yang suka mengupload, engga. Itu pilihan mereka kok. Cuma kalau saya sekarang ini, suatu hari nanti saat ada bayi mungil lagi di tengah keluarga kami saya engga mau lagi dan engga ada keinginan lagi menjadikan socmed sebagai agenda berjalan anak saya. Karena saya tau dan sudah merasakan efek negatifnya.

Lalu ternyata saya juga baru tau ada penyakit yang disebut 'ain. Apa itu 'ain? Aduh browsing aja ya... hihihi..intinya penyakit yang bisa disebabkan karena penglihatan, bisa jadi karena terlalu kagum atau terlalu iri dengah melihat. Bisa dari foto bisa melihat langsung, aduuh ilmu saya masih cetek lah bahas ini. Intinya ini juga yang akhirnya menguatkan saya untuk menghapus keinginan tadi itu.

Dampaknya sekarang saya jarang banget namanya foto. Hehehe... suami juga engga suka . Yo wis klop lah kayak biskuit. Sekarang sukanya upload makanan ini juga kena tegur suami, jangan sampai upload dengan tujuan tak jelas. Masih diijinin kalau itu mendukung untuk resep atau rekomendasi suatu tempat makan.

Rainbow House, Rabu 4 Februari 2015
03:53

Selasa, 03 Februari 2015

Cerita tentang si Kacamata

Dulu ketika masih SD saya memiliki pandangan bahwa orang pakai kacamata itu keren dan pinter, bahkan saya sempat minta dibeliin kacamata cuma buat gaya-gayaan, walaupun engga dibeliin juga sih karena di rumah ada kacamata nganggur yang bisa buat saya jadiin mainan. Yaa...seperti kebanyakan anak perempuan lainnya saya pernah ada di masa fase doyan pakai make up ibu, trus pakai kacamata, bergaya ala pekerja kantoran.

Mulai merasakan ada yang engga beres dengan mata itu kuliah semester satu sekitar tahun 2006, mungkin karena kebiasaan cara membaca saya yang memang tidak patut ditiru, mulai dari membaca sambil tiduran, membaca di tempat yang kurang sinar cahayanya, dan mungkin akibat sering berjam-jam di depan laptop/komputer cuma untuk main game.

Kacamata pertama saya, waktu itu minus 1 hanya sebelah kanan atau kiri saya lupa, jadi yang satu masih normal. Sempat diledekin temen-temen karena saya beli kacamata yang lensanya warna gradasi biru, dibilang kayak tukang pijet aja. Saya sih cuek aja, karena masa itu memang saya masih doyan biru banget, semua barang-barang bahkan sampai baju pun biru (makanya sering diledek juga engga pernah ganti baju, karena pasti warnanya biru).

Saat itu saya masih jarang pakai kacamata, hanya saat di kelas saja atau saat pusing membaca. Sempat pula berhenti berkacamata, karena lebih suka pakai softlense, hehe lucu aja kebayang saya pakai softlense biru, asli deh masa-masa yang ampuuun deh. Lama-lama ribet, hanya moment tertentu aja pakai softlense. Sekitar 3 tahun kemudian saya cek mata, lho kok nambah, saya lupa tepatnya cuma ini yang bikin saya kesel. Jadi saya bilang kok tulisan berbayang, ditanya apa sering pusing saya jawab iya, saya tanya kenapa engga apa-apa jawab petugas optiknya. Saya pun resmi ganti kacamata lagi.

Beberapa bulan kok makin pusing tiap baca, saya iseng cek kebetulab waktu itu saya baru diterima kerja dan di tempat kerja lagi ada pameran. Lho...lho...lho... ternyata saya silinder. Waktu itu silinder 0.5, saya bilang syukur cuma setengah, petugasnya malah bilang "lha mbak mendingan minus banyak masih bisa sembuh kalau silinder itu susah sembuhnya, kalau kerja di depan layar komputer apalagi bakal nambah terus". Tweeeng...!!

Oh iya awalnya saya tidak nyaman itu, bukan cuma pusing, tapi ketika melihat sesuatu blur, berbayang, saya herannya saya kan baru aja ganti kacamata, lalu kalau tulisan juga masih jelas kalau pakai kacamata, tapi ini melihat wajah orang itu burem padahal pakai kacamata.

Akhirnya saya beli kacamata baru, murceee... 200-300rb gitu, oh iya saya termasuk yang tidak terlalu memperdulikan merk hehee, yang penting model. Nah kacamata saya yang 200 ribuan ini yang sampai sekarang menurut saya paling nyaman.

Permasalahan muncul karena keteledoran saya, sering saya ke kantor ternyata cuma bawa tempat kacamatanya saja, kacamatanya ketinggalan di kos, lupa naruk. Karena kebiasaan saya yang memang engga selalu saya pakai ini kacamata. Pernah ketinggalan di abang-abang penjual penyet ayam untung disimpen sama abangnya.

Akhirnya lama-lama saya beli beberapa kacamata plus lensanya aja untuk kacamata lama saya yang masih enak framenya, termasuk si hitam ini. Meskpun sudah hampir 5 tahun saya pakai masih enak-enak aja dipakai. Jadi kenapa saya istilahnya nyetok kacamata banyak ini, yaa karena keteledoran saya yang sering lupa naruk dimana,  saya taruk di beberapa tempat di setiap sudut rumah hihihi. Mulai dari samping tempat tidur, di atas laptop sampai depan tv, ya dimana aja saya sering singgah. Wkwkwkwk. Udah berapa kali kacamata saya ini kebawa atau ketinggalan meskipun Alhamdulillah belum pernah dan jangan sampai ilang bablas. Dampaknya apa? Karena stok kacamata inu saya malah jadi lupa sama kacamata yang lain. Pernah saya pergi pakai mobil saudara, kebiasaan kalau tidur di mobil kacamata saya lepas saya taruk di kantong jok mobil. Itu 2 hari kemudian dianterin kacamata saya, ketauannya pas mobilnya dicuci, saya kalau engga dianterin itu kacamata malah engga ingat soalnya pas nyari engga ketemu saya pakai kacamata yang lain. Wkwkwkwk.

Ada salah satu kacamata favorit banget ini, ini kembaran sama ibu bedanya punya saya lensanya kotak. Pengen beli lagi model seperti ini, soalnya yang ini waktu itu diminta ibu, pas ibu udah mulai pakai kacamata plus, sama seperti saya ibu nyetok kacamata lebih dari satu waktu itu kacamata minus, kacamata plus, dan kacamata plus minus. Awal-awal pakai plus minus pusing makanya ada kacamata saya nganggur di rumah dipakailah framenya tinggal ganti lensa.

Sekarang ini saya paling sering pakai yang kacamata yang sudah lima tahun ini, ada satu lagi yang jadi favorit, kacamata frameless ini, ini udah berapa kali pecah, pernah terbakar juga pas kena lilin di penyetan, terakhir pecah saat kontrol terakhir pas hamil Aisha dulu, sehari sebelum Aisha pergi (mungkinkah firasat? Entah) , sekarang sudah diganti lensa yang pecah cuma jarang dipakai, karena sekarang lensanya sering miring-miring.

Rainbow House, Selasa 3 Februari 2015
03:01

Senin, 02 Februari 2015

2nd Anniversary

Hari ini, tepat dua tahun yang lalu, tanggungjawab Bapak terhadap saya resmi diambil alih oleh orang yang disebut suami. Mulai hari itu pula, kehidupan baru dijalani, perubahan status, adanya tanggungjawab lebih.

Dua tahun, saya menyebutnya baru. Meskipun kalau dihitung sejak pertama kali bertemu dan berkenalan dengan suami sudah hampir lima tahun, tetapi ternyata di usia pernikahan kami yang baru menginjak dua tahun ini kami masih terus saling memahami, saling mengerti.

Di usia pernikahan yang baru dua tahun ini, saya bersyukur dengan segala nano-nano yang saya lewati. Ada masa saat-saat bahagia, ada masa saat saya terjatuh dan hampir putus asa karena kepergian anak pertama kami, kami berusaha membaginya, membagi kebahagiaan, membagi kesedihan dan menguatkan satu sama lain.

Alhamdulillah,meski masih banyak cita-cita dan harapan-harapan serta mimpi-mimpi kami yang belum terwujud, tapi satu per satu kami berusaha mewujudkan, saya percaya kami bisa mewujudkannya bersama.

Meski tak ada perayaan apapun, tak ada tumpeng tak ada kue tart atau lainnya, di hari ini sama seperti hari-hari lain saya berdoa. Pernikahan kami selalu terjaga sampai maut memisahkan, kami bisa bersama saling menguatkan saling berbagi saat bahagia maupun saat bersedih, dengan pernikahan bisa meningkatkan keimanan kami, dan segala doa terbaik termasuk segera dikaruniai kembali amanah Allah. :)

Semoga penikahan kami bisa menjadi contoh untuk anak-anak kami kelak, bisa membawa kami lebih dekat lagi dengan Allah, dan kami bisa berjodoh tak hanya di dunia tapi juga di akhirat.

Rainbow House, Senin 2 Februari 2015
17:46

Minggu, 25 Januari 2015

[Belajar] Menahan Diri Part 2

Udah kayak kayak buku aja ada sekuelnya. Kali ini mau curcol lagi soal kegemesan saya. Ihh mie kali gemes :p
Jadi begini ceritanya, ada perempuan yang tiba-tiba mengadd akun socmed seorang laki-laki bukan mahramnya berkali-kali. Jadi add akun A, diignore ganti add akun B diignore, masih belum nyerah ganti add akun C diignore. Lalu apa yang salah?
Pertama, kedua orang ini bukan mahram dan sudah sama-sama berkeluarga, yang mengherankan perempuan ini pun dalam socmed berteman dengan istri si laki-laki namun tidak ada komunikasi. Menurut saya, sepertinya engga etis ya? Itu menurut pandangan saya. Kenapa?
Begini, semenjak menikah saya benar-benar membatasi teman lawan jenis walaupun di socmed ya? Entah sudah berapa kali saya mengignore teman-teman lawan jenis, meskpun saya kenal. Akun socmed di sini misal instagram, line, facebook, bbm, path dsb. Jujur masih ada di daftar pertemanan saya yang lawan jenis, mereka ini sudah saya approve jauuh sebelum menikah. Sebenarnya saya pengen meremove satu per satu cuma masih ada rasa sungkan. *ini gimana sih masih setengah-setengah gini *tepokjidat.
Kalau ditanya ih kenapa sih gitu amat? Pertama saya perempuan yang sudah menikah, tentu menghargai dan menghormati perasaan suami saya adalah yang pertama, rasanya gimana sih kalau tiba-tiba ngobrol geje dengan lawan jenis. Bukan tidak mungkih memunculkan fitnah to?
Yang kedua, sebagai perempuan kita harus pandai menjaga kehormatan diri kita, kenapa? Baik secara agama maupun norma sosial tentu sudah jelas kan? Jangankan sudah menikah belum menikah, terus kita dekat dengan lelaki yang bukan mahram pasti menimbulkan fitnah kan? T.T *ingeet dosa masa lalu, huhuhuhu
Jujur saya tidak sempurna, bahkan tidak akan jadi sempurna, cuma saya sedang dan in shaa Allah terus belajar. Saya sendiri berkerudung sudah hampir 11 tahun, tapi ilmu saya masih sangat minim, bahkan di masa lalu banyaak dosa yang pernah saya lakukan, kerudung asal nutup dada, masih bercelana jeans, kaos kaki entah kemana, dan sifat saya yang dulu cenderung tomboy jadi teman lawan jenis itu lebih banyak. Astagfirullah :(
Nah, makanya saya gemes pas ada cerita itu, mungkin hal wajar ya buat sebagian orang tapi buat saya mmm maaf ya itu engga wajar. Untuk sebagian orang di sekitar saya mungkin aneh saat misal saya menolak pergi ketika suami belum memberi ijin, ih gitu amat cuma ngumpul doang. Bukankah perempuan keluar rumah harus ada ijin suami? Itu yang saya tahu.
Apalagi ini? People change, manusia bisa berubah, itu yang saya dapat dari status seorang teman, bisa karena ekspetasi terhadap orang tersebut terlalu tinggi (mengganggap dia jauh mengerti agama sehingga tidak mungkin melakukan hal tersebut) bisa jadi mungkin sedang futur (kondisi iman sedang menurun *cmiww).
Karena ternyata di"tegur" pun sepertinya kok malah kekeuh yang dilakukan engga salah malah tertawa. Semoga hatinya terbuka. :)
Nah, sekelumit *ihh cerita ngalor ngidul gitu dibilang sekelumit :D , ini pelajaran sekaligus pengingat buat saya, perempuan itu istimewa? Kenapa istimewa, saat gadis kalau dia melakukan dosa, ayahnya yang akan menanggung, setelah menikah suaminyalah yang menanggung. Tunjukkan kalau kita sayang mereka, dengan apa? Jaga kehormatanmu, jaga mereka dari tanggungan dosa-dosa yang kita lakukan. Dari hal kecil aja. Ingat selangkah kita melakukan hal yang tak disukai Allah selangkah pula orang yang kita sayang tersebut mendekati neraka. Naudzubillah hi mindzalik.
Sekali lagi, saya juga masih belajar juga, bukan maksud menggurui karena ini juga curcolan ala emak-emak yang sering curhat-curhatan :p.
Rainbow House, Minggu 25 Januari 2015
01:26

Jumat, 23 Januari 2015

Cireng Bumbu Rujak

Tiada hal yang membahagiakan ya selain keluarga, hehehe. Suami saya termasuk tipe engga banyak omong, kalaupun kesel pasti diem, engga suka sama orang diem, engga suka makanan juga diem. Apalagi soal makanan, standar enaknya tuh susah banget. Jarang bilang "enak", engga bilang "engga enak" paling ngomong "engga aku makan engga apa-apa ya?" . Zzzzz....zzzzz

Makanya kalau sampai bilang enak terus pakai tambahan "sayang dijual aja" ini tuh bikin hidung istrinya kembang kempis. Hahahaaa...

Soalnya ya gitu, kalau standar aja ya dimakan, kalau ditanya "enak engga?"  Terus jawabnya "enak" atau "tadi pakai bumbu apa?", "ini nama masakannya apa?", udah deh... itu pasti Times new roman 12 alias standar. Kalau sampai engga diicip berart engga enak.

Nah, kalau sampai ada makanan di meja terus dimakan dan ada kalimat "sayang, ini beli ya?", "sayang tadi itu aku habisin", atau komen paling tinggi "sayang, dijualin aja ini sayang" berarti ya w.o.w . Ini yang bikib istrinya berbunga-bunga, hidung kembang kempis.

Salah satu yang makanan yang udah bikin hidung kembang kempis adalah cireng bumbu rujak.  Cuma ya gitu deh karena passion saya *halah adalah nyenengin keluarga alias suami bukan bisnis, jadi suka masih engga konsisten, moody, belum siap jadi pedagang makanan. Takut pas banyak orderan eh saya nya males bikin bisa dilempar bakiak sama pelanggan nih. Hahahaa...

Yasudahlah dijalanin dulu, jalanin bikin jajanan buat konsumsi pribadi aja .

Ok, ini dia resepnya

Rujak Cireng

Cireng ala Pak Wisnu NCC Resep membuat cireng. katanya harus pakai biang.
Bahan :
150 gr aci/tapioka/kanji
2 siung bawang putih dihaluskan
1/2 sdt garam 1/2 sdt kaldu bubuk (saya nggak pake)
1/2 sdt penyedap rasa
1 batang daun bawang, iris halus Tepung tapioka untuk taburan, secukupnya
Biang : 50 gr aci 150 ml air dingin suhu ruang
Cara membuat :
1. Dalam sebuah wadah besar campur aci, bawang putih halus, garam, kaldu bubuk, penyedap rasa dan daun bawang. Aduk rata dan sisihkan.
2. Biang : dalam sebuah panci campur aci dan air, aduk sampai acinya larut. Nyalakan api kecil dan rebus sambil diaduk-aduk sampai kental, liat dan bening seperti lem.
3. Segera tuang biang panas ke dalam campuran aci kering. Uleni pelan-pelan menggunakan tangan. Hati-hati ya karena biang masih panas, gunakan ujung jari saja untuk nguleni. Setelah menghangat, uleni menggunakan telapak tangan sampai rata dan jadi menggumpal. Proses ini menggunakan sedikit tenaga supaya aci bisa menyatu dengan biangnya.
4. Taburi tangan dengan aci, ambil sejumput adonan dan bentuk menjadi bulat pipih. Lakukan sampai adonan habis. Supaya tidak melekat satu sama lain, taburi setiap lembar adonan dengan aci.
5. Panaskan minyak goreng agak banyak. Setelah panas, ambil sebuah adonan, tekan-tekan/cubit-cubit pinggirnya sampai tipis. Masukkan dalam minyak panas dan goreng menggunakan api agak kecil sampai matang dan sedikit kering. Angkat dan tiriskan. Sajikan hangat.

Sambal Rujak (ini yang biasa dibuat ibu saya kalau bikin rujak)

Bahan:
3-4 cabe rawit
Gula merah secukupnya
Sedikit terasi
Garam
Air secukupnya

Cara:
Ulek semua bahan kecuali air, jika sudah alus tambahkan air.

Selamat Mencoba :)

Sabtu, 17 Januari 2015

[Belajar] Menahan Diri

Apaa bangeeet jam segini malah curcol. Yaa berharap habis curcol bisa bobo cantik. :)

Ceritanya beberapa hari yang lalu saya liat postingan mantan rekan kerja saya di kantor dulu posting foto anaknya di socmed lagi ngedot. Sebagai orang yang udah setahun lebih belakangan ini nguprek-nguprek ilmu tentang ASI alias air susu ibu, saya nanya dong kenapa pakai dot. Karena dari obrolan-obrolan sebelumnya dia cerita RS tempat dia melahirkan itu pro ASI.

Daaan..terkuak lah *halah apadeh, intinya karena SC dia minum obat cina katanya jadi kering, dengan berbusa-busa *lebay mulailah saya jelasin dengan ilmu yang baru seuprit ini, kalau makin dia jarang menyusu langsung alias ngedot pakai susu formula itu ASI makin kering, dan dia tetep ngeles katanya ASI nya jadi racun . Whaaat? *sabar-sabar kaleem kalem.

Panjang lebar saya jelasin soal relaktasi, soal mengganti media ASIP selain dot, tapi jawabannya sungguh mengecewakan. Dan yang membuat emosi saya memuncak malah promosi dagangan dia. Huuffhh yasutralah, kayaknya lebih antusias promosi dagangan daripada usahain biar anaknya ASI ekslusif.

Yaa memang saya belum pernah ngerasain nano-nano nya gimana menyusui, nano-nanonya jadi ibu, tapi kan engga salah dong kita bekelin diri dulu dari teori. Soalnya pengalaman kemarin, saya sc karena Aisha meninggal dan saya menolak mendonorkan ASI (perawat menanyakan pasca SC, ASI nya mau diperah dan didonorkan atau mau dihentikan dengan obat), saya minum obat itu sampai sebulan itu masug keluar biar cuma setetes-setetes. Resikonya ya PD saya bengkak, sempat panas menggigil 2x, bener-bener kedinginan sampai 5 lapis selimut RS yang tebalnya sedang tetap ga mampu menahan dingin tapi badan saya panas. Alasan engga didonorin, ga siap secara mental, tiap tetes yang keluar setelah itu aja rasanya di hati kres kreees. Aduuuh ini kenapa jadi curcol gini.

Jadi intinya saya ini sebel kalau ada yang engga mau kekeuh usahain ASI buat anaknya, kasus kemarin ketambahan sebel gara-gara malah semangatnya dagang, mana yang dijual itu barang-barang bocah. Apa engga serasa diiris-iris ini hati. Dan ini bikin saya beberapa hari ini jengkel kalau inget. Kalau inget kata temen saya, dia pasti komen "orang-orang kantormu aneh banget sih Fin" :)))

Mbuhlah, saya engga pernah ngerasa sefrekuensi sama mereka, teu nyambung wae. Nah ini salah satu kelemahan saya, kalau udah emosi menusuk hati menghujam jantung gini saya suka susah menahan diri, dampaknya ya kayak sekarang masih aja kepikiran, masih aja uring-uringan, bikin engga bisa bobo cantik. :(

Terus...teruus... salah satu caranya, yaudah ala-ala truk itu "Jaga Jarak", segala kontak wa, line , saya hapus, fb nya saya unfollow biar engga liat updatean dia, kenapa? Habis kalau liat dia nongol saya masih uring-uringan. Diiih gaje banget Fin.. emang iya :))) ini demi kesehatan mental saya, jauhin segala energi negatif itu. Biar batin tenang, lahir sehat. Hihihihi.

Buat saya lumayan efektif dengan jaga jarak termasuk engga liat namanya di friendlist socmed itu bikin ngerasa better. Engga memusuhi lho ya... Allah engga suka kan saling bermusuhan, engga mutusin tali silaturahim juga. Yaa pokoknya engga nampak aja biar saya engga keinget lagi atau bikin batin sakit. :D

Aduuuh... udah ah udah jam segini curcol geje panjang lebar serasa penyiar radio tengah malam. Mari bobo cantik, masih ada 2.5 jam lagi buat tidur.

Have nice dreams

*lega deh habis nulis gini hehehe

Rainbowhouse, Sabtu 17 Januari 2015
01:03

Sabtu, 10 Januari 2015

My 2nd Pregnant (4)

Assalamu'alaykum adik bayi dalam perut ibu, hari ini hari istimewa, hari dimana kakak sudah 1 tahun sekaligus jadwal periksa adik.

Alhamdulillah adik sehat, kata dokter berat adik 600 gram, dan perempuan, jadi anak salihah ya sayang sehat terus dan selamat. Adik lucu deh, tadi di usg, pas dokter tanya apa adik sudah aktif gerak dan ibu jawab masih kerasa kedut-kedut adik langsung nendang-nendang. :)

Di usia yang ke 23 minggu ini memang adik udah mulai kerasa nendang-nendang. Tiada hal lain yang ibu harapkan selain adik sehat selamat dan ibu bisa memberikan asi ekslusif.

Adik sehat-sehat terus ya sayang.

Rainbow House, Sabtu 10 Januari 2015
19:55

Surat untuk Bidadari #21

Assalamu'alaykum Aisha anak salihah

Tak terasa ya sayang genap sudah 1 tahun berlalu, hari ini 10 Januari 2015, rasanya baru kemarin detik-detik menegangkan itu terjadi, kesedihan itu dimulai.

Sekarang ibu jauh lebih ikhlas sayang, ibu yakin kakak sudah bahagia di surga. Meskipun rasa sedih dan rindu itu masih sering menghampiri, ibu yakin kakak dalam pengasuhan Nabi Ibrahim di surga sudah bahagia. In shaa Allah kelak sayang kita bisa bersama-sama dalam surga Allah. Aamiin.

Sayang, tiada hal yang bisa ibu lakukan selain terus mendoakanmu agar bahagia, mendoakan kita agar kelak kita semua bisa berkumpul bersamamu di surga.

Hari ini perdana ibu membuat tumpeng, untuk kakak. Tak ada hadist budaya merayakan ulang tahun apalagi dengan tumpeng, ibu melakukannya semata-mata, yaa hanya ingin saja. Dan sekali lagi kamu membuat ibu belajar, bukan hanya agar ibu semakin memperdalam agama tapi juga belajar memperdalam ilmu memasak. Hehehe

Kakak sayang, bahagia terus ya sayang... berdoa semoga kelak kita semua bisa sama-sama kakak di surga.

Rainbow House, Sabtu 10 Januari 2015
19.48

Resep Nasi Tumpeng

Sebenarnya udah lama pengen bikin tumpeng gini, cuma kok kayaknya belum dapat moment yang pas aja, tahun 2013 mau bikin tumpeng pas ulang tahun suami, sayanya udah di rumah persiapan melahirkan waktu itu, terus pas 2014 ultah pernikahan juga masih di rumah, ultah suami tahun 2014 saya bikin kue. Jadi kemarin pas kelahiran sekaligus kepergian Aisha saya bikin. Cuma saya engga pengen dikait-kaitkan yaa...karena dalam agama pun engga ada tuntunan perayaan ultah apalagi pakai tumpeng. Yaa cuma pengen aja bikin dan pas ada moment.

Menu-menu di nasi tumpeng sebelum-sebelumnya udah pernah saya bikin. Cuma perdana bikin rendang yang banyak dan lama, lumayan daging 1/2 kg masaknya lebih dari 3 jam boo. *usap keringet.

Nasi kuning kali ini saya engga bikin kayak biasanya, saya ngandelin magic com, hehehe, agak malas kalau ngaronin dan masak di dandang. Terus cetakan tumpeng saya pakai alumunium bekas susu bubuk, sebelumnya pernah nyoba pakai kertas nasi tapi kok kurang oke jadinya. Dari baca-baca akhirnya nemulah cara ini, bahannya yang semi kaku jadi lebih gampang mencetaknya.

Terus teruus...mmm... kalau hiasan pakai daun pisang sederhana aja banyak kok nyari di mbah google, saya juga engga pakai tampah tapi piring saji yang ukuran sedang karena emang cuma makan berdua. Nasi kuning juga bikin dikit, eh engga tau nya ada yang doyan hihihihi..yasudah besok-besok bikin lebih banyak lagi. Dari resep asli , untuk nasi kuning saya tambahkan daun jeruk, jadi lebih wangi. Rendangnya juga enaak, mungkin besok-besok bikin sekalian minimal 1 kg kali yaa kan kalau rendang bisa awet, capeknya kalau cuma 1/2 kg. Hihihi...kemarin juga ada yang bolak balik ke dapur ngendus-ngendus rendang hahaha...katanya aromanya menggoda banget, lumayan lah jadi ga ke rumah makan padang terus, lagipula sering kalau di sini kebanyakan itu masih kaleo belum jadi rendang.

Duuh.,ini pembukaan pajang bener, udah kayak pidato hihihi.. ini beberapa resep saya comot dan modifikasi dari internet, yang lain resep dari saya pribadi.



NASI KUNING
Bahan:
1 liter beras
santan dari 1 butir kelapa
8 butir bawang merah
3 siung bawang putih
2 cm kunyit
1cm kencur
2 lembar batang sereh
2 lembar daun salam
minyak goreng untuk menumis
Cara membuat:
1. Cuci beras
2. Tumbuk halus bumbu, kecuali daun salam dan batang sereh.
3. Tumis bumbu halus. Angkat. Campur dengan air santan.
4. Tuang santan berserta bumbu ke dalam rice cooker.
Masukkan beras. Masak hingga matang.

*saya tambahkan daun jeruk untuk nasi kuning saya.

TELUR DADAR
Bahan:
Telur ayam
garam
merica
Cara membuat:
1. Kocok telur. Campurkan garam dan merica.
2. Goreng telur dengan membentuk dadar telur yang tipis.
Lebih mudah jika menggunakan wajan teflon yang lebar.
3. Angkat telur yang sudah matang. Gulung dengan rapi. Iris
dadar telur selebar 0,75 cm.

Sumber: http://ceritaemakriweuh.blogspot.in/2014/05/nasi-tumpeng-sederhana.html?m=1

RENDANG PADANG
Bahan:
1 kg daging sapi khas, potong sesuai selera
1 liter santan kental
1 liter santan encer
2 batang serai, memarkan
4 lembar daun jeruk purut
2 lembar daun kunyit, ikat

Bumbu Halus  :
1 ons cabai merah keriting
20 siung bawang merah
10 siung bawang putih
5 buah kemiri
2 cm jahe
3 cm laos
Garam

Cara:
1. Rebus santan encer bersama bumbu – bumbu yang
telah dihaluskan bersama daun kunyit, batang serai,
dan daun jeruk. sambil diaduk perlahan secara terus
menerusagar tidak gosong hingga mendidih.
2. Masukkan daging yang telah dipotong-potong
sebelumnya kemudian Aduk sesekali. Jika santan
sudah mulai mengering tambahkan santan kental
sedikit demi sedikit..
3. Masak dengan terus menerus diaduk hingga santan
mengering dan mengeluarkan minyak. ada baiknya
anda mengguunakan api kecil, hal ini bertujuan agar
tidak cepat gosong.
4. Setelah matang, Rendang telah Siap untuk
dihidangkan didalam piring saji.

Sumber: http://www.resepku.me/2014/02/resep-masakan/resep-rendang-daging-sapi-sederhana-khas-padang-pariaman/

TEMPE OREK
Bahan:
1 papan tempe, iris tipis dan goreng setengah matang
2 daun salam
Air sedikit
Minyak untuk menumis

Bumbu:
3 cabe keriting iris tipis serong
5 bawang merah
3 bawang putih
Gula
Garam
Kecap

Cara:
1. Haluskan bawang merah dan bawang putih, tumis hingga harum, masukan irisan cabe keriting.
2. Masukan tempe yang sudah digoreng setengah matang, tambahkan tempe, gula garam, kecap, daun salam dan sedikit air.
3. Tunggu hingga bumbu meresap.

PERKEDEL KENTANG

Bahan:
Kentang direbus/dikukus
Putih telur
Daun bawang iris tipis
Minyak untuk menggoreng

Bumbu:
Bawang putih goreng
Bawang merah goreng
Garam
Merica
Bubuk pala *optional

Cara:
1. Ulek kasar bawang putih dan bawang merah goreng garam dan merica. Sisihkan.
2. Tumbuk kentang yg sudah direbus, campurkan dengan bumbu, daun bawang dan putih telur. Aduk rata.
3. Bentuk adonan kentang tadi dan goreng hingga kecoklatan.

SAMBAL GORENG KENTANG

Bahan:
Kentang, potong kotak-kotak kecil dan goreng
Udang
Minyak
Santan encer
Daun salam
serai
Daun jeruk

Bumbu:
Cabe merah besar diiris tipis.
Gula
Garam
Lengkuas geprek
Batang serai geprek

Bumbu halus:
Bawang merah
Bawang putih
Cabe keriting

Cara:
1. Tumis bumbu halus dan cabe merah, masukan  serai yang sudah digeprek, daun salam, daun jeruk, masukan udang, tunggu udang setengah matang, masukan kentang goreng.
2. Tambahkan gula, garam, tambahkan sedikit santan cair. Aduk tungga hingga bumbu meresap.

TIPS 'N TRIK:
1. Membuat tumpeng tanpa cetakan? Kenapa engga? :D. Pakai bungkus alumunium bekas susu bubuk, bentuk kerucut dan selotip. Untuk saya ini lebih mudah karena semi kaku, dibanding nyoba pakai daun pisang atau kertas nasi. Oh ya nasi kuning ini lebih baik dicetak pas masih panas jadi nanti lebih merekat plus untuk resep saya tambahkan daun jeruk.

2. Kenapa perkedel kentang pakai duo bawang yang sudah digoreng? Menurut saya lebih wangi daripada duo bawang yang tidak digoreng dulu, kadang agak langu kalau kurang matang. Dan kenapa hanya putihnya saja? Agar perkedel tidak gosong dan tidak berbuih saat digoreng.

 

Ndoroayu's Zone Template by Ipietoon Cute Blog Design