Jumat, 01 Mei 2015

Selamat datang di dunia, adik Bena

Tulisan ini saya buat untuk mengingat detik demi detik kelahiran adik Bena, kelahiran bayi yang saya tunggu-tunggu setelah kurang lebih 15 bulan kepergian kakaknya, Aisha, juga untuk menjawab berbagai pertanyaan "lho aku engga tau kamu hamil kok tau-tau ada kabar kamu melahirkan". Selain keluarga, tetangga, dan beberapa teman memang saya tak mengabarkan  kehamilan saya, saya ingin membaginya saat adik sudah lahir, meskipun setiap perkembangannya saya tulis di blog dalam bentuk draft. Nanti saat adik sudah lahir, baru akan saya post begitu janji saya pada diri sendiri ketika itu.

Baiklah ini perjalanan  kehadiran anak kami tercinta, Bena Maryama Pradipta.

Kamis, 16 April 2015
Seperti biasa hari Kamis adalah jadwal saya untuk kontrol ke RS P.K.U Muhammadiyah Solo dengan dr Soffin Arfian, Sp. Og. Dokter Soffin juga yang menangani saya di kehamilan pertama saya dulu. Rencana awal saya akan sesar tanggal 23 April 2015, tepat 38 minggu usia kandungan saya. Kenapa engga melahirkan normal? Dokter Soffin sebenarnya mengijinkan saya melahirkan normal, tapi dengan riwayat yang dulu (saya belum punya anak karena meninggal dan janin saya terhitung besar) dokter menyarankan saya untuk sesar. Di UK 32 minggu, berat badan adik melonjak dratis, 1200 gram dalam waktu 5 minggu padahal rangenya 800-1000 gram . Dan terus naik, meskipun berat badan saya naik biasa saja, karena itu dokter akhirnya memberi range tanggal sesar dari tanggal 16-23 April.

Meskipun belum benar-benar fix, hari ini saya sudah siap dengan barang-barang bawaan kalau sesar. Meskipun dengan rasa penuh khawatir karena hampir seminggu saya kena batuk pilek, pengennya sesar pas sehat.

Hari ini juga akhirnya diputuskan untuk sesar pada keesokan harinya, dokter bilang sebenarnya mau operasi hari ini juga engga apa-apa. Cuma dari awal saya ingin sesar pada hari Jum'at, hari yang paling baik dalam Islam.

Jum'at , 17 April 2015
Sesuai perintah dokter saya puasa makan mulai pukul 00.00, karena menurut jadwal sesar akan dilakukan pukul 08.00. Saat adzan Subuh seorang perawat sudah memandikan dan mengganti baju saya dengan pakaian operasi. Kateter belum dipasang karena permintaan dari saya, saya minta kateter dipasang saat saya sudah dibius.

Jantung berdetak sangat cepat rasanya, bayangan-bayangan ketakutan sesar yang pertama muncul, meskipun suami selalu menenangkan saya. Tepat pukul 06.40, dua orang perawat membawa saya ke ruang operasi. Rasanya begitu masuk ruang operasi seperti flashback, cuma saya sedikit tenang, karena tak melihat kepanikan para tenaga medis di sana seperti operasi saya yang pertama dulu, ya tentu berbeda dulu adalah operasi darurat dan berkejaran dengan waktu.

Pukul 07.40, ada pasien lagi yang juga akan disesar, saya pikir karena saya yang masuk duluan saya yang duluan ternyata ibu tersebut yang justru masuk di ruang operasi. Jantung rasanya makin berdebar, hanya dzikir dan doa mohon keselamatan dan kesehatan yang saya lakukan.

Sekitar pukul 07.45 saya benar-benar masuk di ruang operasi, mungkin ruang yang sama dengan 15 bulan yang lalu, terdengar alunan musik. Tak berapa lama dokter Soffin masuk, "sudah siap ya bu?" Itulah kalimat pertamanya. Saya menjawab "In shaa Allah dok".

Setelah menunggu beberapa saat, dokter anestesi datang, saya didudukan, dan daerah punggung disuntik bius. Rasa hangat dan kesemutan mulai terasa di kaki saya sampai kemudian rasanya kebas. Saya tak merasakan apa-apa. Sampai kemudian dokter Soffin bilang "lahir ya, Bu". Di situ saya merasa takut karena tak mendengar suara tangisan bayi, saya tanya "sehat dok?", "In shaa Allah, tunggu ya bu sedang disedot agar bayinya menangis", jawab dokter. Tak berapa lama kemudian datanglah seorang tenaga medis, "bayinya besar dok, 4,4".

Itulah pertama kalinya saya melihat adik mendengar tangisannya, masih ada lemak-lemak di tubuh dan rambutnya. "Ibu, IMD ya... kalau ibu merasa pusing atau apa ibu bilang karena bayinya besar". Saat itu pula adik diletakkan di dada saya, meski tak lama mungkin hanya 5-10 menit, karena kemudian saya merasakan sesak nafas. Adik kemudian dibawa.

Saya kemudian dibawa ke ruang perawatan pasca sesar, rasa sesak nafas masih terasa, selang oksigen masih menemani, rasanya seperti ngefly, antara sadar dan tak sadar, saya berusaha menggerakkan kaki yang masih kebas, sempat memanggil perawat (?) karena masih terasa susah bernafas meskipun sudah pakai selang oksigen.

Tak berapa lama saya dipindah ke ruang perawatan. Rasa bahagia karena kelahiran adik dengan selamat rasanya seperti ternoda, saat suami bilang adik tidak bisa dirawat gabung dulu karena adik di ruang PICU NICU (Pediatric Intensive Care Unit)(Neonatal Intensive Care Unit) karena berat badannya yang tergolong besar adik diobservasi dan dinyatakan kekurangan gula darah/ glukosa (hipoglikemia), jadi harus diberi sufor/ PASI (Pengganti ASI). Sebagai orang yang selalu mengkampanyekan ASI ini rasanya kayak pukulan telak, meskipun dengan indikasi medis, rasanya tak rela. Suami bilang akan diberi sampai gula darahnya normal, dan saya masih bisa menengok adik di sana sambil disusuin. (Glukosa darah yang rendah/ hiploglikemia adalah salah satu alasan dibolehkannya pemberian PASI (Pengganti ASI) karena termasuk indikasi medis).

Posisi saya duduk pun belum bisa, apalagi jalan. Sampai siang rasa ngefly karena obat bius masih terasa. Belum ditambah rasa nyeri dijahitan setiap kali batuk. Hanya foto-foto adik yang bisa saya lihat.

Sabtu, 18 April 2015
Semalaman saya belajar miring kanan-kiri, berharap kateter dan infus segera dicabut. Saat visit, dokter Soffin bilang perut saya kembung kurang gerak, biar sakit harus dilawan. Semangat saya cepat bisa jalan adalah agar bisa ketemu adik.

Sekitar jam 10.00 kateter dan infus saya sudah dilepas. Saya sudah bisa duduk. Seorang fisioterapis datang, mengajarkan saya gerak sampai duduk.

Sore yang tadinya adik sudah bisa digabung dengan saya, batal karena adik muntah (hal yang wajar untuk bayi yang baru lahir), melihat foto adik dipasang selang dimulut, sedih. Apalagi ASI saya belum keluar, mencoba konsultasi ke teman semua terdengar klise, tak membantu sama sekali.

Sebuah keajaiban terjadi, saat adzan Isya, tanpa bantuan siapa pun saya berusaha bangun dan berjalan. Ajaib!! Saya tak merasakan sakit apapun, saya lansung berjalan. Padahal dulu saat sesar pertama, jangankan jalan, berdiri rasanya perut mau jatuh, melangkah pun tak bisa, hampir dua minggu BAK dan BAB di pispot, dibersihin suami!! (Semoga surga sebagai balasannya untukmu kelak, sayang, terima kasih atas semuanya). Dan kini saya berjalan dengan mudah, Alhamdulillah, suami yang baru saja masuk kamar pun kaget saya bisa langsung jalan. Saat itu pula saya minta kursi roda saya mau lihat adik. Sempat kesal karena sama perawat saya harus makan dan minum obat dulu baru boleh mengunjungi adik.

Inilah pertama kalinya saya bertemu adik setelah IMD kemarin, menyusui pertama kalinya, meskipun ASI belum keluar. Adik yang kata perawat nangisnya malu-malu, malam itu menangis kencang saat saya harus kembali ke ruang perawatan. Tangis saya pun pecah. Suami selalu bilang "jangan nangis jangan sedih nanti ngaruh ke ASI".

Minggu, 19 April 2015
Pukul 06.00 pagi saat saya baru saja keluar dari kamar mandi ternyata dokter Soffin sudah visit. "Lho ibu sudah bisa jalan-jalan, ini kalau mau pulang hari ini pun sudah saya ijinkan", begitu kata dokter saat melihat saya jalan dari kamar mandi.

Saya sebenarnya ingin sekali pulang, tapi kegalauan saya adalah ASI yang tak kunjung keluar. Saya berusaha tenang, tapi perasaan memang tak bisa dibohongi.

Siang hari ternyata adik Bena sudah boleh rawat gabung dengan saya, ada perawat bayi yang bilang agar saya makin intens menyusui untuk merangsang keluarnya ASI. Tantangan berikutnya adalah keluarga, ibu selalu ribut minta dikasih sufor takut adik kelaparan, setiap adik menangis.

Ada satu momen malam-malam ibu maksa bawa adik ke ruang perawatan bayi, tak berapa lama perawat datang membawa adik dan bilang "Bu, kalau dikasih sufor nanti adik ga mau menyusu karena udah kenyang". Legaaaa hati saya.

Malam itu adik tetap di ruang perawatan, karena pipis dan sudah malam untuk dikembalikan ke ruangan saya.

Senin, 20 April 2015
Semalaman saya susah tidur, selain karena terganggu batuk yang membuat bekas operasi sakit juga saya galau, ingin pulang tapi ASI belum keluar. Saya memutuskan pulang, saya bilang suami saya mau pulang, dan suami memberi semangat ke saya, bahwa harus optimis ASI pasti keluar.

Pagi-pagi saat sekitar pukul 05.00 pagi, adik dibawa kembali ke ruangan saya, saat dokter Soffin visit beliau mengijinkan hari ini pulang. Tinggal nunggu keputusan dokternya adik, dr. Oktora Wahyu Wijayanto, Sp. A., untuk melihat kondisi adik. Sekitar pukul 08.00 saya menyusui adik lagi, setengah jam kemudian dokter Oktora visit dan melihat kok sepertinya adik kuning, perlu tes. Saat itu pula adik tes untuk cek billirubinnya. Sambil menunggu hasil lab. semua packing sudah siap pulang. Tapi apa yang terjadi, hasil lab menunjukkan billirubin adik 16, di atas batas aman (batas aman 11) adik tidak bisa dibawa pulang harus dibawa ke ruang PICU NICU lagi untuk fototerapi. Tangis saya kembali pecah, apalagi mendengar adik menangis, meskipun kata perawat itu wajar awal-awal bayi tidak nyaman jadi menangis. Saya yang diminta untuk jangan menangis. Satu hal yang membuat saya semangat adalah seorang perawat bilang adik gumoh dan gumohnya itu ASI bukan PASI, jadi sebenarnya ASI  saya sudah keluar.

Hari itu saya memutuskan tidak pulang ke rumah, saya mencari penginapan di Solo, menghubungi konselor laktasi AIMI, jujur sebelum sudah sempat pesimis karena sebelum-sebelumnya sudah sempat mencoba berkonsultasi dengan orang-orang yang pro ASI tapi jawabannya klise, seperti bayi tahan 3 hari tanpa asupan apapun, saya mesti terus susui. Masalahnya yang saya hadapi tak seteoritis itu, syukurlah saya ketemu KL Aimi, Mbak Ludo. Saya sharing, sampai akhirnya saya memutuskan power pumping, sebelumnya saya minta ijin suami, ijinkan saya menangis setengah jam aja habis itu engga menangis lagi. Meski tak sampai setengah jam, waktu itu saya habiskan untuk menangis biar lega. Saya pumping terus. Sampai sekitar waktu solat Isya saya liat mulai ada tetesan meski belum bisa ditampung, saat itu juga saya terus konsultasi dengan Mbak Ludo.

Selasa, 21 April 2015
Sepanjang waktu saya terus berusaha pumping, keajaaiban kedua saya dapatkan. 1.5 jam pumping tiba-tiba saja sudah terkumpul 30ml, meskipun itu jauh dari kebutuhan adik saat itu (saat difototerapi kebutuhan cairan meningkat 2-3x lipat apalagi BB adik tergolong besar), saat itu juga saya antar ke RS.

Air mata saya kembali meluncur saat melihat adik, dan untuk kesekian kalinya, adik yang tadinya diam tiba-tiba menangis saat saya pamit pulang, hati ibu mana yang tak sedih.

Hal luar biasa yang sudah dilakukan suami untuk saya, malam-malam rela mengantar ASI yang hanya 30ml ke RS demi menyenangkan dan menenangkan hati saya. Saya tau itu.

Rabu, 22 April 2015
Setelah melihat hasil lab, billirubin adik turun dan diijinkan untuk dibawa pulang. Perjuangan!! Jarak tempuh normal dari rumah-RS itu 2 jam, dan karena sama adik kemarin sampai 5 jam, karena beberapa kali adik menyusu sampai 1.5 jam.

Tentu ada yang bertanya, sendeso itu kah rumah saya sampai jauh banget RS-nya, engga ada RS?. Hahaha. Kalau mau dekat rumah pun ada, tapi dari awal saya mencari RS yang pro ASI, kenapa? Sekuat-kuatnya saya lingkungan saya masih kurang sadar tentang ASI, masih banyak mitos yang dipercayai juga, dari busui yang tak boleh makan pedas, minum panas, dsb.

Senin, 27 april 2015
Saat kontrol ternyata berat badan adik turun lebih dari 10% BB lahir. Kata dokter Oktora mau dilihat kontrol berikutnya, karena dulu hari kedua kelahirannya sempat muntah, semoga itu penyebabnya.

Kini tugas besar saya sebagai ibu masih panjang, berada di lingkungan yang masih percaya mitos itu tantangan besar, LDR dengan suami.

Harapan saya hanya adik selalu sehat, jadi anak salihah yang pintar dan berbakti pada orang tua, agama, dan negara. Dan pastinya seperti nama yang kami berikan, berdoa agar adik menjadi perempuan yang bijaksana, yang bersinar, yang berakhlak seperti Siti Maryam.

Doakan adik Bena sehat terus ya...

Giriwoyo, 2 Mei 2015
18:32

 

Ndoroayu's Zone Template by Ipietoon Cute Blog Design