Selasa, 14 Mei 2013

Ini Pilihanku


Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu keenam.

Saya rasa, menikah dan menjadi istri yang berbakti kepada suami dan menjadi ibu yang baik bagi anak-anaknya adalah keinginan hampir setiap perempuan, begitupun dengan saya. Be great woman, great wife and great mom adalah cita-cita saya dan saya yakin hampir semua perempuan mempunyai mimpi yang sama dengan saya. Tujuan akhir yang sama belum tentu sama juga jalan untuk mencapainya itu yang saya lihat.

Ini adalah hari ke 14 status PNS saya, saya lepas. Ya saya memutuskan resign setelah dua bulan menikah. Saya pribadi keputusan  ini memang sudah menjadi komitmen awal antara saya  dengan suami, tetapi keputusan ini bukan sesuatu yang mudah juga bagi saya. Alasan utama saya adalah saya tidak mau LDM (Long Distance Marriage) dengan suami, hitungan jarak Jakarta-Indramayu 2.5 jam dengan kereta, itu belum jarak dari kantor saya ke Gambir, memang Gatsu-Gambir kalau lancar jaya itu 15-20 menit itu sampai tapi sebagai penghuni Jakarta selama 3 tahu,  Jakarta itu unpredictable, apalagi jam-jam pulang kantor, minimal 1 jam sebelumnya sudah harus jalan, sementara jarak antara stasiun Jatibarang ke rumah 30 menit. Anggaplah 5 jam hitungan kotor, itu sangat melelahkan dengan PJKA (Pulang Jum’at Kembali Ahad). Itu saya jalani satu bulan setiap weekend.

Di satu sisi tentunya saya juga ingin suami yang datang ke Jakarta, tapi saya juga  engga tega, suami saya bukan termasuk pekerja yang Sabtu-Minggu dan tanggal merah libur, tetapi dengan sistem 3-1 yang artinya tiga hari bekerja 1 hari libur, sementara kerjanya di lapangan bukan seperti saya yang di tempat AC kerja bisa sambil ngobrol, kalau capek bisalah rebahan bentar di musholla. Di sisi lain ternyata kalau setiap weekend saya yang ke Indramayu akhirnya saya ambruk juga. Sakit flu dan batuk engga sembuh-sembuh.

Keadaan ini semakin memantapkan saya sekaligus mempercepat usaha saya untuk resign. Walaupun kedua orang tua kami sudah tahu rencana dari awal, tapi pertentangan itu tetap ada meskipun lama-lama mengerti juga kondisi ini. Saya tahu satu sisi, pandangan (hanya) sebagai Ibu Rumah Tangga itu masih miring, ’’terus kamu mau ngapain di rumah?’’, ‘’nanti kalau suami mu bangkrut kamu dapat penghasilan dari mana?’’, “ kalau kerja kamu kan dapat uang sendiri bisa buat kamu sendiri”, ‘’ apa engga sayang keluar dari PNS?’’, pertanyaan-pertanyaan itu muncul dari orang-orang di sekitar kami. Dari pertanyaan biasa sampai pertanyaan yang cenderung nyinyir seperti kerpik Maicih level 10 semua ada.

Saya sempat ada di posisi yang campur aduk, bagaimana pun, kenyataannya komentar negatif itu jauh lebih banyak, sampai saya merasa keluar dari PNS itu seperti saya pindah agama, semua mengganggap saya ini seolah pendosa. Tapi di sisi lain, keinginan saya untuk lebih bisa fokus mengurus rumah tangga juga kuat. Memang dari sebelum menikah suami sudah biasa kos, istilahnya sudah  terbiasa mengurus diri sendiri, tetapi kalau setelah nikah tetap sama lalu apa bedanya setelah menikah? Saya yang justru merasa sangat bersalah.
Hidup ini memang banyak pilihan, setiap keputusan memiliki dua sisi, baik positif maupun negatif.  Jika saya tetap bekerja sisi positifnya dari segi financial pemasukan kami lebih besar karena dari dua sumber, saya punya penghasilan sendiri yang kalau saya mau jajan istilahnya saya engga perlu selalu minta suami, tetapi di sisi lain saya diliputi rasa bersalah kepada suami meskipun suami saya mengijinkan saya bekerja, terus LDM yang bagi saya itu tidak sehat, saya mungkin bisa saja jadi sombong karena merasa toh saya tanpa suami punya penghasilan sendiri, Naudzubillah. Sementara jika saya resign mungkin dari segi financial sekarang sumbernya hanya dari suami, tapi kan sekarang saya juga sedang merintis usaha. Saya bekerja di rumah, urusan beres-beres rumah dan segala teman-temannya Alhamdulillah masih bisa terhandle,  saya bisa ngobrol dengan suami kapan saja, bayangkan saat kami LDM dulu, saya pulang kantor kadang suami saya berangkat kerja, suami saya pulang saya yang berangkat kerja. Kadang kondisi sama-sama capek,niatnya ngobrol bisa jadi berantem.

Apapun pilihan itu bagi saya pasti ada dua sisi yang  mendampingi, tinggal bagaimana kita  menyikapi setiap pilihan kita, jangan mengganggap pilihan kita paling benar, karena belum tentu itu pilihan yang terbaik bagi orang lain. Dan tolong bagi yang lain pun, apapun pilihan yang saya ambil jangan menghakimi saya, karena yang menurut kalian yang terbaik belum tentu terbaik bagi kehidupan kami.

Rumah Dahlia, Selasa 14 Mei 2013
09:32

Rapid Fire Question




Aaaaaa...akhirnya engga tau ya kok saya suka aja maen kuis-kuisan kayak gini, dulu beberapa kali dapat waktu masih ngeksis di eMPeh, tiba-tiba semalem disenggol Mbak Indri, pengen langsung ngerjain tapi apa daya posisi dibalik selimut udah sebegitu nyamannya hihihii, daaan dampaknya paginya dampak senggolan lagi dari neng geulis Vera....

Ini dia PR nya...
1. Nambah atau ngurangin timbunan buku?
Nambah, belum rela ngasihin ke orang lain kecuali buku pelajaran hihihih 



2. Pinjam atau beli buku?

Beli aja, pinjem jadi ga nyaman bacanya ngerasa dikejar-kejar.



3. Baca buku atau nonton film?

Baca Buku aja...



4. Beli buku online atau offline?

Emm... dua-duanya...

5. Buku bajakan atau ori?
Ori dong ahhh...

6. Gratisan atau diskonan?
Diskonan boleh, gratisan apalagi wekekekkeek

7. Beli pre-order atau menanti dengan sabar?
Tergantung sih... kalau PO langsung ke pengarangnya yang bonus coretan dan tanda tangan pilih PO.

8. Buku asing (terjemahan) atau lokal?


Engga suka bule sih ya... eh...hiihiihii buku lokal ajaa


9. Pembatas buku penting atau biasa saja?


Penting bangettt!!!


10. Bookmarks atau bungkus chiki?
Ga mudeng ini maksudnya apaan... bungkus chiki plus isinya aja deh...


Nah, ini pertanyaan bonus dari Mak Guru Indri
1. Jalan sendiri atau ada yg nemenin (bisa juga suami, anak)
Tergantung , kalau belanja lebih suka sendiri..hiiihihiii 


2. Prefer tidur siang atau tidak?


Tidur siang...


3. Highheels-wedges atau flat shoes?
Highheels-wedges... heeheee sadar tinggi badan


4. Kue talam atau rainbow cake?
Kue talam yang rainbow boleh?? hihiihi


5. Atm atau cash?
Dua-duanya...



Ini pertanyaan dari Neng Geulis Vera:

1. Westlife, Suju, atau SM*SH? #no other choices yes, ini cuma 'simbol' :p
Westlife



2. Gunung, gurun, hutan, atau pantai?

Pantai



3. Olahraga apa yang (bisa) kalian minati?

Bulutangkis dan Ice Skating



4. Mars, Venus, atau Saturnus? :))

Venus, kan kata bang Radit Perempuan itu dari Venus :P



5. Bad habit apa yg kalian tahu tentang saya? *gimme correction ;)

Vera males mandi :p

Yeeeaaaayy kelaaarr...

Mau ngasih pertanyaan tambahan ahh...


1.         Beres-beres  atau masak?2.       Coklat atau Es krim?
3.       Komik atau novel?
4.       Jadi full ibu rumah tangga atau ibu pekerja (kantoran)?
5.       Deskripsikan saya dalam satu kata

Duuuhh.. aku timpukin PR ini ke siapa yaa? Aku timpuk balik aja deh.... emmm yang mampir-mampir baca *emang ada? XD
1.       Vera aja dehh hihihih
2.       MbakIi
3.       Dek Fath
4.       Mommy
5.       Mbak Zen 

Dan.. Siapa aja yang mampir ke sini.... hiihihii  *komat-kamit semoga ada yang mampir dan mau ngerjain Ya Allah....




 Rumah Dahlia, Selasa 14 Mei 2013
08:18

Senin, 13 Mei 2013

Balada Beasiswa



Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu keenam.

Sebagai mahasiswa, kala itu, saya bukan termasuk orang yang suka mengikuti apa yang kebanyakan mahasiswa pada umumnya. Mungkin saya termasuk mahasiswa eh mahasiswi cupu yang kupu-kupu, yaitu kuliah pulang kuliah pulang. Buat saya daripada nongkrong geje  (baca: engga jelas) mendingan pulang ke kos, tidur, ngegame, nonton film, atau bahkan nyuci.

Ini yang bikin kadang saya ketinggalan info atau hot gossip yang ada di kampus, salah satunya adalah soal beasiswa. Info yang setengah-setengah membuat saya kadang tahunya udah ditutup aja beasiswa itu. Baru di sekitar semester 3 atau semester 4 saya mulai deh rajin nongkrong di Kajur alias Kantor Jurusan sambil liat-liat papan pengumuman. Eh, kebetulan ada beasiswa, ada beberapa jenis beasiswa kala itu. Saya pun ikut tanya ke teman-teman yang sudah ikut, karena biasanya syarat utamanya engga beda-beda jauh kok antara beasiswa yang satu dengan yang lain. Cuma ada satu yang mengganjal di hati saya, kok semua beasiswa yang masuk ke jurusan saya, semua ada syarat “Surat Keterangan Tidak Mampu”.

Bukan saya sombog, saya juga bukan anak orang kaya, tetapi sejauh ini Bapak dan Ibu masih sanggup kalau untuk membiayai kuliah saya, apalagi biaya kuliah saya per semester kala itu kalau tidak salah masih dibawah 2 juta rupiah, dan karena saya kuliah di universitas negeri tidak ada biaya per sks. Saya sempat tanya ke bagian administrasi apakah ada beasiswa yang tanpa surat keterangan tidak mampu, jawabnya tidak ada. Saya sempat bimbang, satu sisi jujur saya rasanya ingin sekali mendapatkan beasiswa seperti teman-teman saya yang lain, tetapi di sisi lain hati saya mengingkari, ada rasa bagaimana kalau orang tua saya justru sedih karena merasa kok anaknya merasa orang tuanya tidak mampu membiayai.

Entah kenapa saya teteup aja kekeuh dan bilang ke rumah kira-kira bisa engga ya minta surat keterangan tidak mampu, saya cuma pengen merasakan gimana sih rasanya megang uang, megang uang beasiswa. Ibu saya ketawa dan bilang iya nanti dicoba. Karena Bapak juga sibuk dan saya juga setengah-setangah mengurusi soal beasiswa itu,  hingga tau-tau tinggal beberapa hari beasiswa itu ditutup, dan saya telepon ke rumah “Bu, engga usah diurus, aku malu, masa aku aja pegang laptop pegang hp 2 aku mau bilang aku engga mampu”.

Saya bukannya apa-apa, saya juga tidak menyalahkan teman-teman saya yang mengambil beasiswa itu, itu pilihan mereka. Tapi apa yang membuat saya mundur adalah saya malu pada diri saya sendiri sekaligus miris. Alhamdulillah saya punya laptop meskipun merek China, Alhamdulillah saya pegang 2 hp meskipun bukan hp paling canggih, Alhamdulillah uang bulanan dari orang tua juga lancar, lalu kenapa saya masih pengen minta keterangan saya tidak mampu.

Jujur, kadang saya miris melihat beberapa teman-teman mahasiswa yang menurut saya mampu, bahkan berkecukupan mengajukan beasiswa, sering saya dengar “ntar kita mall yuk, beasiswa bulan ini udah masuk atm lho..” . Ya apapun itu, itu pilihan mereka, tapi terkadang saya juga gemes, ada beberapa teman mahasiswa yang benar-benar tidak mampu justru tidak mau mengajukan beasiswa, yang saya tahu alasannya karena malu, malu mengakui mereka engga mampu dan harus ke RT, RW, keluarahan, karena kadang demi selembar kertas harus menerima cibiran. Ini bikin saya langsung deg, saya malu sekali rasanya sama orang tua saya, kurang bersyukur sekali saya ini. Kenapa saya tidak memikirkan perasaan mereka kalau waktu itu benar-benar mengurus surat keterangan tidak mampu, bagaimana jika Bapak atau Ibu dapat pertanyaan “Masa dua-duanya guru biayain anak satu kuliah aja engga bisa Pak/Bu?”

Pukulan telak bagi saya, bahkan teman saya saja rela mendaftar kerja part time demi uang kuliah, bukan dengan “mengemis” beasiswa yang sebenarnya masih kita pertanyakan  kepada diri kita sendiri, “benarkah kita  benar-benar membutuhkan beasiswa ini?”

Rumah Dahlia, Senin 13 Mei 2013
14:41


gambar dicomot dari sini

Jumat, 10 Mei 2013

I Love You Forever


Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kelima. Ini adalah postingan saya yang kedua untuk lomba ngeblog Anging Mammiri minggu kelima.

Jika tulisan sebelumnya, yang bisa dilihat di sini, saya bercerita tentang cinta pertama kepada makhluk hidup ciptaanNya, kali ini saya ingin berbagi kisah cinta pertama saya kepada sebuah hobi yang menurut beberapa orang agak dianggap sudah kelewatan.

Saya dibesarkan dengan lingkungan keluarga yang gemar membaca. Tak aneh bila kebanyakan kado dari saudara lebih banyak buku daripada mainan. Saya sendiri agaklupa usia berapa saya  lancar membaca, yang saya ingat saya sudah mengenal huruf sejak TK nol kecil namun belum bisa membaca, hobi saya dulu corat coret huruf ditembok dan bertanya ke ibu, misalnya seperti ini, ada tulisan  P W R S T, saya akan bertanya “bu pe (P), w (we), er (r), es (s), te (t), bacanya apa?”.

Mulai dari kebiasaan corat coret huruf di tembok, saya punya hobi baru yaitu pura-pura baca. Jadi setiap ada majalah atau bahkan buku kosong, Afin kecil ini suka sekali baca-baca keras atau lebih tepat ngomong keras-keras sambil jarinya gaya di buku. Ceritanya membaca sambil nunjuk huruf.

Selain aneka majalah anak-anak, buku cerita rakyat, Ibu saya langganan Majalah Bahasa Jawa, Panjebar Semangat dan sesekali membeli Tabloid Nova.  Kebayang engga anak kelas 2 SD  baca majalah basa Jawa. Yup,  dari yang awalnya suka gegayaan baca-baca majalah (duduk sambil sok sok membaca keras-keras padahal apa yang saya ucapkan beda dengan tulisan di majalah bahkan buku tulis kosong) jadi bener-bener suka baca. Akhirnya selain langganan majalah Panjebar Semangat, Ibu juga langganan Majalah Bobo untuk saya, ini akibat hausnya minat baca saya. Kalau mungkin anak lain selalu bertanya “Bu, masak apa? Engga ada yang lain lagi nih?”, saya justru sering membuat Ibu kesal dengan pertanyaan “Bu engga ada bahan bacaan lagi ya”, saking cepetnya saya habisin isi majalah, dulu sering saya baca berulang-ulang, kadang sampai iklan pun saya baca gara-gara Ibu kesel, hihiiihii. Jadi kalau udah gemes denger saya nanya terus ada bacaan lain engga, dijawab ibu “iklannya aja dibaca juga” dan saya dengan polosnya nurutin lho.



Hal paling membahagiakan itu adalah kalau liburan sekolah ke rumah eyang. Kenapa? Di sana akan melimpah bahan bacaan, iya eyang saya langganan Majalah Panjebar Semangat, Majalah Jayabaya, Tabloid Nova, dan bonus Majalah Bobo kalau saya lagi datang. Inilah hobi pertama saya, dan inilah cinta pertama saya, ketika membaca bukan lagi sebuah kebutuhan, ketika setiap mendengar kata buku membuat saya berdebar-debar, halah. Tapi benar setiap ada ngasih kado bentuknya kotak, seperti buku saya pasti langsung deg deg kan kegeeran, buku apa yaa yang dikasih ke saya.

Jatuh cinta yang akan aneh ketika seorang bocah SD hobi baca majalah Bahasa Jawa, itu yang sering dilihat orang, yakin deh baca majalah Bahasa Jawa itu agak susah lho untuk yang tidak biasa, karena tulisan beda dengan pengucapan, contoh umum huruf “a” banyak dibaca “o”. Kecintaan saya terhadap membaca ini sempat agak di”ingetin” oleh kedua orang tua saya, karena pertama selain menumpuknya bahan bacaan di rumah, saya ini jadi tersugesti engga bisa makan dan tidur tanpa membaca, jadi saya jadi punya kebiasaan makan sambil baca, sebelum tidur baca. Posisi membaca juga tidak benar, asal pewe alias posisi wuenak aja.



Sudah tahun kedua ini saya langganan ikut langganan majalah bahasa jawa, tadinya Panjebar Semangat dan Jaya Baya. Tapi sudah 2 minggu ini Panjebar Semangat saya stop, belum nemu agen setelah saya pindah ke Indramayu. Hiks...

Langganan majalah Bahasa Jawa ini lah yang sering membuat orang agak menganggap saya aneh mungkin, saya sih udah kebal. Soalnya dari kecil saya sudah sering dibilang kayak mbah-mbah aja bacaanya kayak gitu, padahal ya isi majalahnya itu bagus lho, banyak tentang kehidupan sehari-hari. Mulai dari tips, cerita lucu, sampai cerita horor.

Mungkin ini yang dinamakan sudah cinta kali ya,  bukan sekali dua kali saya diprotes orang-orang di sekitar saya, termasuk suami saya. Budget terbesar saya adalah untuk membeli buku, saya juga pernah dianggap aneh hanya gara-gara sepanjang hari saya cengar-cengir geje alias engga jelas, dikira saya lagi jatuh cinta sama orang. Hari itu saya memang benar sih jatuh cinta, jatuh cinta pada buku, jadi ceritanya saya lagi nguber buku Untold Story Soeharto, dan finally saya dapat, walaupun harganya yaa ngabisin Uang Makan sebulan seorang PNS kala itu, tapi puas dan bahagia banget rasanya.

Yaa... namanya kalau sudah cinta ya, mau kayak gimana pasti berjuang keras untuk mendapatkannya bukan?? yaa I Love You Forever, my Hobby. Hihihihi maksa banget kalimatnya.

Rumah Dahlia, 10 Mei 2013
19:25


Rabu, 08 Mei 2013

Bye-bye Cinta Pertama



Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kelima. Jujur nih, baru di tema  Cinta Pertama ini agak bingung mau nulis. Kapan dan siapakah yang beruntung menjadi cinta pertama saya ini? Hahaha...  Bingung, cinta yang mana nih yang disebut cinta pertama. Dasar centil ya, saya pernah naksir atau mungkin lebih tepatnya mengagumi kali ya, teman ngaji saya dulu, bayangin sodara-sodara anak kelas 2 SD udah naksir, ampun deh ah.. itu cuma gara-gara si do’i (duileee do’i, ketauan banget jamannya hahaha) juara banyak kategori di Festival Anak Sholeh, dari juara adzan, juara mengaji, juara sholat, dll,  tapi sepertinya ini belum pantas disebut cinta pertama, bukan cuma cinta monyet tapi mungkin malah cinta anak monyet. hihihi

Lalu ketika anak belasan tahun, tiba-tiba mendadak sesak nafas menahan tangis ketika seorang lelaki yang selama ini dikaguminya muncul mengabarkan telah mempunyai “gandengan”.  Alamaaak... apa pula anak kelas 2 SMP tiba-tiba patah hati.

Awalnya saya mengagumi dia ini lagi-lagi karena prestasinya, secara wajah, saya bisa pastikan orang kebanyakan akan bilang ganteng, kiyut, ca’em dan sederet sebutan lain untuk menggambarkan parasnya. Selisih usia kami 5 tahun. Apapun tentang dia, saya hafal di luar kepala, dari mulai tanggal lahir, hobi, sampai nama orang tuanya pun saya tahu (siap-siap jadi menantu) hahahaa

Kalau dulu jaman ngelap ingus aja belum bersih ngliriknya anak sholeh yang pinter agama, dia ini pinter di bidang olahraga. Bulutangkis adalah bidang yang dia geluti, hampir setiap pertandingannya saya tak pernah melewatkannya, setiap sholat selalu berdoa agar dia selalu menang. Gaya permainannya pun saya sampai hafal, jumping smash dan backhand smash nya yang sering membuat lawan mati kutu. Ikut loncat-loncat gembira saaat dia menang dan tak jarang ikut nangis saat dia kalah.

Anda tau siapa dia saudara? Iya, Taufik Hidayat, atlet bulutangkis nasional Indonesia. Hahahaa... bener-bener deh si Afin ini. Tapi beneran saya mengikuti karirnya dari saya masih SD. Saya rela tidur sore agar tengah malam bisa bangun untuk menyaksikan pertandingan bulutangkis, dulu ketika stasiun TV swasta masih mau menayangkan seluruh pertandingan bulutangkis yang bisa lebih dri 5 jam nonstop.
Hari paling bahagia itu adalah ketika saya kelas 6 SD tiba-tiba ada amplop besar yang ditujukan untuk saya dengan cap “Majalah Bobo”, daaaaaan... ternyata itu foto A’ Opik  sodara-sodara, langsung deh saya jingkrak-jingkrak bahagia. Jadi cerita, waktu itu Majalah Bobo memberi bonus poster Taufik Hidayat, nah biasanya di pojok itu kan ada tulisan nama fotografernya, kalau tidak salah waktu itu namanya Om Herry Gendut Djanarko, saya, si Afin bocah SD ini nekad nulis surat ke Om Herry dan bilang minta foto A’ Opik atau kalau engga boleh pinjem klise fotonya nanti saya cetak sendiri. Bocah-bocaaah.... polos banget ya? Minjem klise.

Sebenarnya saya sendiri lupa detailnya , bagaimana awalnya saya tertarik dengan A’ Opik ini , pokonya tau-tau  suka cengar cengir aja, yang pasti mah saya pasti cemburu rasanya ketika mendengar berita punya pacar dari Nola Ab Three, Deswita Maharani, ampun deh ah. Jadi benci siapa aja yang jadi pacara A’ Opik. Nah kejadian saya patah hati itu ketika pas bulan puasa besoknya Idul Fitri saya baca koran kalau engga salah Jawa Pos beritanya tentang Taufik Hidayata resmi jadian dengan atlet tenis Indonesia, Wynne Prakusa (kalau engga salah namanya). Ya ampuuun, beneran mungkin itu kali ya pertama kalinya saya patah hati, saya lho sampai mimbik-mimbik mau nangis. Apa coba, anak belasan tahun kayak gitu?

Nah seiring dengan A’  Opik yang punya pacar dan sering gonta ganti pula, cinta saya ke A’ Opik pun pudar, ahh lelaki palyboy *tepok jidat, ampun deh. “Bye bye Aa, aku sudah tidak cinta kamu lagi”. Kata A’ Opik mungkin “Lha siapa elu?”

foto A' Opik yang udah saya simpan selama 13 tahun

Itu mungkin sekelumit eh seabrek deng, kisah cinta pertama bocah ingusan. Hihihihii, sekarang Alhamdulillah sudah ada yang mengisi hati saya *uhuk ciyeeeee, yang bukan karena ganteng atau cutenya aja, yang membuat mampu membuat saya mempercayakannya untuk menjadi imam saya, bukan atlet bulutangkis yang jago backhand smash  tapi mampu mensmash hati saya  tepat sasaran *uhuk, suami saya tercinta, A’ Uben alias Uno.

Jangan cemburu ya Yah *ngikik

Sekarang sih sama Uno :*

Rumah Dahlia, Rabu 8 Mei 2013
18:10

Sabtu, 04 Mei 2013

Perubahan Karakter seiring Perubahan Warna Favorit


Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu keempat. Ahh... akhirnya setelah sibuk ngurus pindahan dan beberes, saya bisa menyelesaikan coretan ini yang engga terasa udah setengah perjalanan. Sebenarnya soal warna favorit alias warna kesukaan, saya mengalami perubahan dari masa ke masa. Dan entah karena tersugesti atau apa, ternyata memang benar jika warna favorit itu mempengaruhi karakter seseorang.

Masa kecil saya, banyak didominasi warna merah, hampir setiap pakaian warna merah selalu mendominasi, atau paling tidak selalu ada unsur warna merahnya. Saya sendiri tidak ingat apakah saya suka warna merah ketika kecil, namun entah kenapa, hampir semua baju atau celana, merah itu ada dimana-dimana dan yang saya ingat setiap mendapat baju baru dari saudara selalu merah.

Dari beberapa artikel yang saya baca, merah itu identik dengan semangat yang menggebu-gebu, pemberani, ya singkatnya adalah pribadi yang semangat ceria, dan itu memang “gue banget” . Setiap melihat foto-foto saya jaman bocah dan berdasarkan cerita saya ini memang termasuk anak yang engga bisa diem. Suka banget nyanyi-nyanyi, setiap ada musik atau tarian di TV atau disetelin kaset saya pasti langsung nari. Selain itu, hubungan saya dengan orang sekitar pun bisa dibilang anak yang pede, engga pandang umur, entah itu yang sebaya atau yang jauh lebih tua saya pasti ceriwis, mungkin bisa dibilang supel.

Oh ya, ada satu yang saya ingat merah itu tipe pemimpin dan doyan tampil, itu kayaknya beneran deh. Pasa saya kecil, duh seneng banget kayaknya jadi anak yang doyan tampil, engga penakut jeleknya jadi cenderung Bossy.  Makanya entah kenapa setiap melihat foto-foto saya kecil pasti jadi ingat lagunya Vina Panduwinta yang Kumpul Bocah, saya pasti nyengir kalau dengar liriknya.

Kaki kecil berlari kesana kemari
Sambil tertawa riang
Kedua tangannya diayun kiri kanan
...
Bocah centil yang tidak dapat duduk tenang
Pinggulnya selalu goyang

si merah-merah delima alibaba yang ceria

Hahaha... centil, yap, itu saya banget. Semakin besar sekitar SD kelas 4 atau kelas 5 entah kenapa saya mulai benci warna merah, saya selalu bilang merah itu jahat. Mungkin ibarat orang makan, udah eneg kali merah terus. Saya cenderung menyukai warna-warna pelangi itu karena pengaruh baju-baju Trio Kwek-Kwek jaman itu, ada kuning, pink, hijau. Mungkin inilah masa-masa transisi, dimana saya mulai berubah-berubah, bisa dibilang lebih kalem namun tetap ceria seperti warna pelangi.

Mulai SMP inilah saya mulai tergila-gila dengan  warna biru, biru muda tepatnya. Mulai dari tas, peralatan sekolah dari tempat pensil, pensil, pulpen, penggaris, buku, dan lainnya semua biru. Sampai bando, jepit rambut, ikat rambut pun biru. Rasanya pede luar biasa  kalau udah dari ujung rambut sampai ujung kaki biru, eh sepatu tetap hitam deng sesuai aturan sekolah, Fifin (panggilan saya ketika SMP) dan warna biru itu mulai pun menjadi identitas. Saya ingat ada teman yang nyeletuk “kalau foto rame-rame gini paling gampang nyari Fifin, cari aja yang serba biru”, saya sih cuma nyengir.

mulai SMP mulai berbiru-biru di setiap moment 

Dari karakter juga beda, kalau pas kecil saya identik dengan centil, ceria, pemberani, entah bagaimana saya jadi anak yang minderan, engga seberani dulu. Apa-apa takut apalagi kalau ketemu orang baru. Jadi lebih kalem seperti karakter biru yang menenangkan. Dari segi meluapkan emosi ketika marah pun berbeda, entah ini faktor usia atau memang warna juga ikut  mempengaruhi. Saya kecil itu kalau marah dulu histeris, teriak-teriak, sedangkan mulai SMP itu kalau marah lebih seringnya jadi nangis dan dipendem sendiri.

Kesukaan saya terhadap warna biru itu masih bertahan sampai sekarang, bahkan setiap moment selalu identik dengan biru. Ketika saya menjadi mayoret pas SMP, saya jahitin baju warna biru, moment wisuda kebaya pun biru, yang terbaru yang moment pernikahan saya. Baju pernikahan memang tidak ada yang biru, karena saya memakai baju adat, tetapi semua, dari seragam panitia, keluarga, sampai dekorasi berwarna biru.

my special moment 

Apa ya menurut saya biru itu menenangkan, biru itu bisa melindungi semua. Saya beranggapan biru itu memeluk semua, lihat lautan dan langit yang biru. Menenangkan.  Memang saya tidak lagi seaddict dulu terhadap biru, saya mulai menyukai warna-warna lain, warna-warna pastel. Iya tetap saja warna biru tetap menjadi favorit.

Satu hal yang membuat saya rindu saya yang dulu adalah keberanian dan keramahan saya ketika kecil. Saya sendiri merasa berbeda sekali dengan dulu, saya sekarang jujur kurang menyukai bertemu orang-orang baru, saya selalu khawatir nanti saya harus bagaimana, ngobrol apa, beda sekali dengan dulu. Mungkin kalau Afin bocah dan Afin sekarang bertemu, saya yakin pasti Afin bocahlah yang ngajak saya kenalan dan ngobrol.

Rumah Dahlia
Sabtu, 4 Mei 2013
10:41

Rabu, 01 Mei 2013

(Engga mau ikutan) Arisan (lagi)

Sumprit... mood hari ini kacau balau, sukses bikin saya kepikiran dan  ga minat ngapa-ngspain selain mantengin laptop sambil dengerin instrument biola buat nenangin hati saya.

Ceritanya saya ikut arisan buku tentang anak-anak yang bertema Islami. Awalnya saya ikut buku A, satu bulan kemudian ikut buku B juga. Kenapa? Toh saya belum nikah apalagi punya anak, saya pikir nyicil lah, harganya selangit menuurut saya karena cicilan saya untuk dua buku itu  dalam satu bulan sekitat 1/4 gaji saya sebagai  PNS golongan II/c.

Saya sempat kecewa ketika pas giliran saya dapet buku A sudah habis, disarankan ganti buku C aja, posisi tinggal 2 bulan lagi beres, awalnya saya keberatan karena lebih mahal, karena waktu nambah, but yaudahlah saya males mikir saya iyain aja. Tapi ternyata tak berapa lama setelah saya dapat buku C, buku  A ada lagi. Yoweslah ikhlasin aja.

Nah yang bikin sekarang saya nangis, buku B giliran saya yang dapat, sudah 2 minggu lebih buku itu belum sampai, saya coba tracking dari resi yang dikasih. Ternyata buku itu sudah 2 minggu kurang sehari ada di Kota yang kurleb 1 jam dari tempat saya, dan herannya sampai sekarang buku itu belum sampai. Posisi saya aja dapat kiriman  yang jarak kotanya lebih jauh 2 hari sampai.

Saya berusaha menghubungi si pengirim dan pihak yang memimpin arisan kelompok saya. Tapi responnya malah bikin mewek. Asli, engga tau gimana lagi. Saya disuruh hubungin jasa pengirimannya, saya sempat mikir kok saya yang malah nelpon. Setahu saya, kaya online shop itu, proses pengiriman memang bukan  tanggung jawab OS, tapi OS masih mau membantu proses tracking.

Mewek, buat saya itu uang tidak sedikit, saya juga bingung. Ya pelajaran buat saya, engga usah ikut yang begituan lagi.

Rumah Dahlia A9
Rabu, 1 Mei 2013
10:50

 

Ndoroayu's Zone Template by Ipietoon Cute Blog Design